kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.047.000   8.000   0,26%
  • USD/IDR 16.894   -76,00   -0,45%
  • IDX 7.390   52,15   0,71%
  • KOMPAS100 1.030   9,56   0,94%
  • LQ45 756   5,89   0,79%
  • ISSI 259   2,08   0,81%
  • IDX30 401   3,19   0,80%
  • IDXHIDIV20 494   1,28   0,26%
  • IDX80 116   1,06   0,92%
  • IDXV30 134   0,93   0,70%
  • IDXQ30 129   0,74   0,58%

Trump Putar Otak: Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi Rusia Demi Minyak?


Selasa, 10 Maret 2026 / 08:39 WIB
Trump Putar Otak: Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi Rusia Demi Minyak?
ILUSTRASI. Melonggarkan sanksi Rusia jadi pertimbangan serius Presiden AS Donald Trump. Langkah ini berisiko besar bagi perang Ukraina. (KONTAN/White House )


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan sejumlah langkah untuk menekan lonjakan harga minyak dunia di tengah konflik Iran. Salah satu opsi yang dikaji adalah melonggarkan sanksi minyak terhadap Russia serta melepas cadangan minyak darurat milik pemerintah AS.

Sejumlah sumber Reuters menyebutkan langkah tersebut menjadi bagian dari paket kebijakan yang sedang dipertimbangkan Gedung Putih setelah harga minyak melonjak tajam menyusul lebih dari sepekan serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Pemerintah AS khawatir lonjakan harga energi akan berdampak pada bisnis dan konsumen domestik menjelang pemilu sela pada November mendatang. Dalam pemilu itu, Partai Republik berharap dapat mempertahankan kendali atas Kongres.

Trump mengatakan kepada wartawan di Florida pada Senin (9/3/2026) bahwa pemerintahannya sedang mencabut sanksi terhadap beberapa negara sebagai bagian dari upaya menstabilkan pasar minyak, meski ia tidak merinci negara mana yang dimaksud.

“Kami memiliki sanksi terhadap beberapa negara. Kami akan mencabut sanksi tersebut sampai situasi di Selat kembali normal,” kata Trump.

Melonggarkan sanksi terhadap Rusia berpotensi meningkatkan pasokan minyak global di tengah terganggunya pengiriman energi dari Timur Tengah akibat konflik Iran. Namun langkah tersebut juga berisiko mempersulit upaya AS membatasi pendapatan Rusia yang digunakan untuk membiayai perang di Ukraina.

Trump juga mengatakan ia baru saja melakukan percakapan yang “sangat baik” dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai perang di Ukraina.

Baca Juga: Trump Ancam Eskalasi Perang Iran, tapi Sebut Konflik Bisa Segera Berakhir

Selat Hormuz jadi kunci

Para analis energi menilai Gedung Putih memiliki sedikit pilihan yang benar-benar efektif untuk menurunkan harga minyak secara cepat, kecuali jika jalur pengiriman energi di Strait of Hormuz dapat kembali normal.

Selat sempit antara Iran dan Oman itu menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Pemerintah AS sebelumnya juga telah mengumumkan rencana pengawalan kapal tanker dan penyediaan jaminan asuransi bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Namun hingga kini langkah tersebut belum mampu meningkatkan lalu lintas pengiriman minyak secara signifikan.

Seorang sumber yang terlibat dalam diskusi kebijakan menyebut pilihan yang tersedia bagi Gedung Putih saat ini berkisar dari langkah yang dampaknya terbatas hingga kebijakan yang berisiko.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 6% Selasa (10/3), Trump Prediksi Perang Iran Segera Mereda

Opsi pelepasan cadangan minyak

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah melonggarkan sanksi minyak Rusia, baik secara luas maupun melalui kebijakan lebih terbatas yang memungkinkan negara tertentu membeli minyak Rusia tanpa terkena sanksi AS.

Pekan lalu, pemerintah AS bahkan telah memberikan izin sementara kepada India untuk membeli beberapa kargo minyak Rusia guna membantu mengatasi gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Selain itu, pemerintah AS juga berdiskusi dengan negara-negara anggota Group of Seven mengenai kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara bersama dari stok strategis.

Menteri Energi AS Chris Wright mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan penjualan minyak dari Strategic Petroleum Reserve, meskipun belum ada keputusan final.

Ia juga menegaskan pemerintah tidak mempertimbangkan pembatasan ekspor energi AS sebagai cara untuk menekan harga.

Selain itu, opsi kebijakan lain yang dipertimbangkan termasuk intervensi di pasar kontrak berjangka minyak, pembebasan beberapa pajak federal, serta pelonggaran aturan Jones Act, yang mewajibkan pengangkutan bahan bakar domestik menggunakan kapal berbendera AS.

Tonton: AS Gunakan Pangkalan Inggris untuk Serang Iran! Dunia Makin Tegang

Harga minyak melonjak

Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump sebelumnya mengecilkan lonjakan harga minyak dan menyebut kenaikan tersebut hanya bersifat sementara.

Ia mengatakan kenaikan harga energi merupakan “harga yang sangat kecil untuk dibayar oleh Amerika.”

Trump juga memperkirakan dampak jangka panjang dari perang dengan Iran justru akan menghasilkan harga energi yang lebih rendah bagi konsumen AS.

Saat ini, harga minyak dunia telah mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022 dan sempat menyentuh sekitar US$ 119 per barel pada Senin. Harga bensin dan bahan bakar lainnya juga melonjak sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari.

Situasi ini mendorong Gedung Putih meminta berbagai lembaga pemerintah menyiapkan usulan kebijakan untuk membantu menekan harga minyak dan bensin.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×