kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.347.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Unjuk Rasa Anti-Lockdown COVID berkobar di Seluruh China, Xi Jinping Diminta Mundur


Senin, 28 November 2022 / 06:02 WIB
Unjuk Rasa Anti-Lockdown COVID berkobar di Seluruh China, Xi Jinping Diminta Mundur
ILUSTRASI. Ratusan pengunjuk rasa dan polisi mengalami bentrokan hebat di Shanghai pada Minggu (27/11/2022) malam. REUTERS/Aly Song


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Urumqi, Beijing, Wuhan

Menurut video di media sosial, pada hari Minggu, kerumunan besar berkumpul di kota metropolis barat daya Chengdu, di mana mereka juga mengangkat kertas kosong dan meneriakkan: "Kami tidak menginginkan penguasa seumur hidup. Kami tidak menginginkan kaisar," yang merujuk pada Xi Jinping, yang telah menghapus batasan masa jabatan presiden.

Di pusat kota Wuhan, tempat pandemi dimulai tiga tahun lalu, video di media sosial menunjukkan ratusan penduduk turun ke jalan, menghancurkan barikade pemerintah, menjungkirbalikkan tenda pengujian COVID, dan menuntut diakhirinya penguncian.

Aksi serupa juga terjadi di sejumlah kota lain di China. Ini termasuk Lanzhou di barat laut, di mana penduduk pada hari Sabtu membalikkan tenda staf COVID dan menghancurkan bilik pengujian. 

Para pengunjuk rasa mengatakan mereka dikurung meskipun tidak ada yang dinyatakan positif.

Video tidak dapat diverifikasi secara independen.

Baca Juga: Covid Mengamuk, Prospek Ekonomi China Kembali Terpuruk

Di Universitas Tsinghua yang bergengsi di Beijing pada hari Minggu, puluhan orang mengadakan protes damai menentang pembatasan COVID di mana mereka menyanyikan lagu kebangsaan, menurut gambar dan video yang diposting di media sosial.

Kebijakan nol-COVID

China tetap berpegang pada kebijakan nol-COVID yang ditetapkan Xi Jinping, bahkan saat sebagian besar dunia telah mencabut sebagian besar pembatasan. 

Meskipun rendah menurut standar global, jumlah kasus China telah mencapai rekor tertinggi selama berhari-hari, dengan hampir 40.000 infeksi baru pada hari Sabtu. Hal ini mendorong lebih banyak penguncian di kota-kota di seluruh negeri.

Beijing telah membela kebijakan itu sebagai penyelamat hidup dan sangat diperlukan untuk mencegah ambruknya sistem kesehatan. Para pejabat telah berjanji untuk melanjutkannya.

Aksi protes yang langka

Aksi unjuk rasa publik yang meluas jarang terjadi di China, di mana ruang untuk perbedaan pendapat telah dihilangkan di bawah kepemimpinan Xi Jinping. Ini memaksa sebagian besar warga untuk melampiaskan frustrasi mereka di media sosial, di mana mereka bermain kucing-kucingan dengan sensor.

Namun rasa frustrasi semakin memuncak setelah lebih dari sebulan setelah Xi jinping berhasil mengamankan masa jabatan ketiga sebagai pemimpin Partai Komunis China.

"Ini akan memberikan tekanan serius pada partai untuk menanggapi. Ada peluang bagus bahwa salah satu tanggapannya adalah represi, dan mereka akan menangkap dan mengadili beberapa pengunjuk rasa," kata Dan Mattingly, asisten profesor ilmu politik di Universitas Yale.

Namun, katanya, kerusuhan itu jauh dari yang terlihat pada tahun 1989, ketika protes memuncak dalam penumpasan berdarah di Lapangan Tiananmen.

Dia menambahkan bahwa selama Xi Jinping memiliki elit China dan militer di sisinya, dia tidak akan menghadapi risiko yang berarti terhadap cengkeraman kekuasaannya.

Akhir pekan ini, Sekretaris Partai Komunis Xinjiang Ma Xingrui menyerukan kawasan itu untuk meningkatkan pemeliharaan keamanan dan mengekang "penolakan kekerasan ilegal terhadap langkah-langkah pencegahan COVID".




TERBARU

[X]
×