kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   19.000   0,72%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Vietnam dan Filipina Jadi Negara Berpendapatan Menengah Atas Versi Bank Dunia


Minggu, 05 Juli 2026 / 06:42 WIB
Vietnam dan Filipina Jadi Negara Berpendapatan Menengah Atas Versi Bank Dunia
ILUSTRASI. Seorang peserta berdiri di dekat logo Bank Dunia pada Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional - (REUTERS/Johannes P. Christo)


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Dunia resmi menaikkan status Vietnam dan Filipina menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper-middle-income) setelah mencatat pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir. 

Peningkatan status ini dinilai dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi kedua negara.

Mengutup Straitstimes.com, Minggu (5/7/2026, dengan perubahan tersebut, seluruh lima ekonomi utama di Asia Tenggara kini berada pada kelompok negara berpendapatan menengah atas atau lebih tinggi. Kelompok tersebut terdiri dari Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Vietnam sebelumnya berada dalam kategori negara berpendapatan menengah bawah sejak 2009, sedangkan Filipina menempati kelompok yang sama sejak akhir 1980-an.

Baca Juga: 27 Negara Berebut Dana Krisis Bank Dunia, Ada Apa?

Bank Dunia menilai keberhasilan Vietnam didorong oleh model pertumbuhan berbasis ekspor, sementara ekonomi Filipina tumbuh lebih merata di berbagai sektor. Pertumbuhan negara itu tidak hanya ditopang satu industri, melainkan mencerminkan transformasi ekonomi yang lebih luas.

Pada 2025, pendapatan nasional bruto (gross national income/GNI) per kapita Vietnam mencapai US$ 4.970, sedangkan Filipina sebesar US$ 4.850. Keduanya telah melampaui ambang batas Bank Dunia sebesar US$ 4.636 untuk masuk kategori negara berpendapatan menengah atas.

Sekretaris Perencanaan Ekonomi Filipina Arsenio Balisacan mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari upaya memperkuat fondasi ekonomi dan menjaga pertumbuhan yang inklusif di tengah berbagai gejolak global maupun domestik.

Sementara itu, Vietnam yang menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia menargetkan pertumbuhan dua digit pada 2026. Target tersebut akan ditopang oleh berbagai reformasi yang ramah terhadap dunia usaha serta investasi besar-besaran di sektor infrastruktur.

Meski demikian, tantangan masih membayangi, terutama bagi Filipina. Pemerintah negara itu telah memangkas target pertumbuhan ekonomi periode 2026–2030 akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta dampak cuaca ekstrem El Nino.

Baca Juga: Ini Penyebab RI Sulit Naik Kelas ke Negara Berpendapatan Tinggi Menurut Bank Dunia

Selain Vietnam dan Filipina, Bank Dunia juga menaikkan status Yordania, Mikronesia, dan Sri Lanka menjadi negara berpendapatan menengah atas. 

Sementara Togo naik dari kelompok berpendapatan rendah menjadi berpendapatan menengah bawah. Bank Dunia mencatat porsi negara berpendapatan rendah di dunia telah menyusut menjadi 11% dari 30% sejak 1987.

Akses Pendanaan Berpotensi Berkurang

Di balik peningkatan status tersebut, terdapat konsekuensi berupa berkurangnya akses terhadap pembiayaan pembangunan dengan bunga rendah dari lembaga internasional.

Filipina selama ini memanfaatkan pinjaman bersuku bunga di bawah pasar untuk membiayai pembangunan infrastruktur, pemulihan pascabencana, serta berbagai program sosial.

Kepala Ekonom Union Bank of the Philippines Ruben Carlo Asuncion menilai kenaikan status menunjukkan suatu negara semakin mampu membiayai kebutuhan pembangunan dan fiskalnya secara mandiri sehingga ketergantungan terhadap bantuan pembangunan akan berkurang.

Baca Juga: Bank Dunia Ingatkan Ruang Fiskal Indonesia Makin Sempit

Meski sebagian bantuan pembangunan resmi (Official Development Assistance/ODA) dengan syarat lunak diperkirakan akan menurun, Balisacan menegaskan manfaat dari fundamental ekonomi yang semakin kuat serta akses pasar yang lebih baik diyakini akan lebih besar dibandingkan dampak pengurangan fasilitas pembiayaan tersebut.

Ia juga mengingatkan bahwa status baru tersebut tidak berarti seluruh persoalan ekonomi telah terselesaikan. Ketimpangan pendapatan masih menjadi tantangan dan sebagian masyarakat Filipina tetap menghadapi tekanan ekonomi.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×