Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - HANOI. Pemerintah Vietnam mulai mempertimbangkan pembangunan lebih banyak pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pasokan gas alam cair (LNG) akibat konflik di Timur Tengah. Langkah ini dinilai perlu untuk memastikan pasokan energi tetap terjaga sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi yang terus melaju.
Dalam pernyataan yang dirilis Rabu (8/7) yang dikutip Reuters, pemerintah Vietnam menyebut konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah telah meningkatkan risiko terhadap pasokan LNG global. Situasi tersebut mendorong pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
"Konflik yang berkembang di Timur Tengah telah memengaruhi keamanan pasokan LNG, sehingga muncul kebutuhan untuk memperkuat ketahanan energi," tulis pemerintah dalam pernyataannya.
Sebagai respons, pemerintah membuka peluang merevisi Rencana Ketenagalistrikan Nasional dengan menambah porsi pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dalam bauran energi nasional.
Sebelumnya, Vietnam menargetkan memiliki pembangkit listrik berbahan bakar LNG dengan kapasitas gabungan mencapai 22,5 gigawatt (GW) pada 2030. Namun, hingga saat ini realisasinya baru mencapai sekitar 7,3% dari target tersebut.
Baca Juga: Vietnam dan Filipina Jadi Negara Berpendapatan Menengah Atas Versi Bank Dunia
Lambatnya pengembangan proyek LNG terutama dipicu oleh berbagai hambatan regulasi dan minimnya minat investor. Di sisi lain, meningkatnya ketidakpastian pasokan LNG akibat perang Iran semakin memperbesar tantangan dalam mencapai target tersebut.
Berdasarkan rencana ketenagalistrikan yang berlaku saat ini, Vietnam menargetkan total kapasitas pembangkit listrik terpasang sebesar 183 GW hingga 236 GW pada 2030. Dalam bauran energi tersebut, pembangkit listrik tenaga batu bara diproyeksikan menyumbang sekitar 13,1%-16,9%, sedangkan pembangkit berbahan bakar LNG berkontribusi 9,5%-12,3%.
Di tengah upaya memperkuat kapasitas pembangkit, kebutuhan listrik Vietnam terus meningkat. Data perusahaan listrik negara EVN menunjukkan produksi listrik sepanjang semester pertama tahun ini mencapai 171,5 miliar kilowatt-jam (kWh), naik 9,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari total produksi tersebut, pembangkit listrik tenaga batu bara masih menjadi tulang punggung pasokan listrik Vietnam dengan kontribusi mencapai 54,5%. Kondisi ini menunjukkan batu bara masih memegang peran dominan dalam sistem kelistrikan negara tersebut, meski pemerintah sebelumnya mendorong transisi menuju energi yang lebih bersih melalui pengembangan energi terbarukan dan LNG.
Baca Juga: Defisit Perdagangan Vietnam Membengkak, Target Pertumbuhan Ekonomi 10% Terancam?














