Sumber: South China Morning Post | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Negara bagian Kelantan di timur laut Malaysia berencana menerbitkan izin pendulangan emas skala kecil, guna memformalkan praktik yang telah lama berlangsung di sepanjang bantaran sungai.
Kebijakan ini diharapkan memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat berpendapatan rendah, seiring harga emas global yang bertahan di dekat level tertinggi sepanjang sejarah.
Pemerintah negara bagian membuka pendaftaran izin resmi mulai 1 Januari, yang memungkinkan warga mendulang emas secara manual di area-area yang telah ditetapkan. Informasi tersebut disampaikan oleh kantor berita negara Bernama.
Kebijakan ini menyasar pekerja harian dan mereka yang memiliki pekerjaan tidak tetap, kelompok yang jumlahnya signifikan di Kelantan. Negara bagian ini termasuk salah satu wilayah termiskin di Malaysia, dengan populasi mayoritas pedesaan serta basis industri yang terbatas.
Kelantan, yang telah lama dipimpin oleh partai oposisi Islam Partai Islam Se-Malaysia (PAS), kerap menuding pemerintah federal mengabaikan pembangunan di wilayah tersebut. Namun, pemerintah pusat di Putrajaya menegaskan bahwa Kelantan tidak pernah dikesampingkan dari agenda pembangunan nasional.
Direktur Pertanahan dan Pertambangan Kelantan, Nik Raisnan Daud, menyatakan bahwa program ini dirancang untuk menyeimbangkan bantuan ekonomi dengan aspek keselamatan dan pengendalian lingkungan.
Baca Juga: Emas Pecah Rekor di Atas US$4.600 Senin (12/1), Perak ikuti Jejak ke Level Tertinggi
“Pemerintah negara bagian meyakini masyarakat berpenghasilan rendah masih dapat terlibat dalam kegiatan ini, khususnya mereka yang bergantung pada upah harian dan pekerjaan tidak tetap,” ujarnya kepada media lokal.
Ia menambahkan, emas kadar 916, kadar yang umum digunakan untuk perhiasan dengan tingkat kemurnian 91,6% baru-baru ini diperdagangkan sekitar 565,77 ringgit (sekitar US$120) per gram, dengan fluktuasi harga mencapai sekitar 11%.
Di pasar emas global, harga logam mulia tersebut melonjak lebih dari 60% menjelang akhir tahun lalu hingga mencapai rekor US$4.549 per ons, sebelum terkoreksi pasca-Natal menjadi sekitar US$4.330 per ons pada 31 Desember.
Dalam rancangan aturan yang tengah disusun, pendulangan emas hanya diizinkan secara manual, tanpa penggunaan alat berat. Tujuannya untuk membatasi dampak lingkungan dan mengurangi risiko keselamatan.
Pemerintah negara bagian juga berencana menetapkan (menggazetkan) area khusus untuk kegiatan ini serta melakukan seleksi permohonan izin, dengan prioritas bagi rumah tangga kurang mampu.
Pejabat setempat telah mengidentifikasi Tanah Merah dan Jeli sebagai distrik yang memiliki potensi, meskipun rincian akhir terkait persyaratan perizinan dan lokasi yang disetujui masih dalam tahap finalisasi.
Pengumuman ini menyusul maraknya video viral di media sosial yang diunggah warganet Malaysia, menampilkan warga Kelantan yang mendulang emas di sungai.
Baca Juga: Permintaan Emas Fisik di India Terbatas, China Malah Memborong
Dalam video tersebut, para pendulang terlihat menyekop pasir dasar sungai ke dalam dulang logam, menambahkan air, lalu menggoyang dulang secara perlahan agar sedimen yang lebih ringan terbuang.
Seiring campuran semakin menipis, dulang dimiringkan dan dibilas berulang kali hingga partikel yang lebih berat tersisa, dengan serpihan emas kecil terlihat di dasar dan diambil secara manual.
Kelantan berada di bagian sabuk emas tengah Malaysia, dengan endapan emas yang terkonsentrasi di wilayah pedalaman.
Kajian oleh Jabatan Survei Geologi Malaysia pada dekade 1980-an dan 1990-an mengidentifikasi puluhan zona prospektif emas di wilayah tengah negara bagian tersebut. Sejumlah studi akademik juga menunjukkan bahwa pendulangan emas skala kecil telah berlangsung turun-temurun selama beberapa generasi.
Pada 2019, media lokal melaporkan bahwa mahasiswa Universiti Malaysia Kelantan berhasil mendulang hampir 44 gram emas serta batu permata dengan nilai taksiran sekitar 22.000 ringgit dalam sebuah program eksplorasi lapangan di Jeli.













