Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. JP Morgan menyebut, risiko resesi ekonomi Amerika Serikat (AS) dan ekonomi global tahun ini telah meningkat menjadi 60% dari 40% sebelumnya menyusul tarif timbal balik yang diberlakukan Presiden Donald Trump.
Pada Rabu lalu, Trump mengenakan tarif dasar 10% pada semua impor ke AS dan bea masuk yang lebih tinggi pada puluhan negara lain.
"Kebijakan AS yang disruptif telah diakui sebagai risiko terbesar bagi prospek global sepanjang tahun," kata ahli strategi J.P. Morgan, yang dipimpin Bruce Kasman, dalam sebuah catatan pada Kamis (4/4) seperyi dikutip Reuters.
Menurut JP Morgan, kebijakan perdagangan AS telah berubah menjadi kurang bersahabat dengan bisnis daripada yang diantisipasi.
"Dampak kenaikan pajak ini kemungkinan akan diperbesar melalui pembalasan, penurunan sentimen bisnis AS, dan gangguan rantai pasokan," kata Kasman.
Baca Juga: Kebijakan Tarif Trump Dinilai Bisa Bawa Musibah Bagi Ekonomi AS
Perusahaan pialang Wall Street lainnya, termasuk Barclays dan Deutsche Bank, juga memperingatkan bahwa ekonomi AS menghadapi risiko lebih tinggi untuk terjerumus ke dalam resesi tahun ini jika pungutan baru Trump tetap berlaku.
Namun, Kasman memperkirakan guncangan tarif akan "sedikit diredam" oleh prospek pemotongan suku bunga lebih lanjut di AS.
J.P. Morgan menegaskan kembali perkiraannya tentang dua penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve pada bulan Juni dan September tahun ini.
Sementara investor memperkirakan total empat penurunan suku bunga pada tahun 2025, menurut data yang dikumpulkan oleh LSEG.
Baca Juga: Indonesia Siapkan Strategi Hadapi Tarif Balasan Trump