Sumber: Reuters | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Presiden Tiongkok Xi Jinping diperkirakan akan memaparkan visi Beijing mengenai tata kelola kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) global, dalam World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai pada 17-20 Juli.
Kehadiran Xi dalam WAIC untuk pertama kalinya dinilai menunjukkan bahwa pemerintah Tiongkok kini menempatkan AI sebagai bagian dari strategi politik luar negeri.
WAIC tahun ini digelar di tengah meningkatnya persaingan teknologi antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Forum tersebut juga berlangsung menjelang dialog AI tingkat pemerintah pertama antara kedua negara pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump.
Baca Juga: Pakistan Dorong Regulasi Kripto Berbasis Syariah, Fokus pada Aset Riil
Jadi Ajang Tiongkok Perkenalkan Visi Tata Kelola AI
Dalam dialog AI di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan lalu, Washington dan Beijing telah menunjukkan pendekatan yang berbeda terhadap tata kelola AI.
Amerika Serikat menilai regulasi yang terlalu ketat berpotensi menghambat inovasi. Sebaliknya, Tiongkok mendorong pengembangan model AI open source berbiaya rendah sebagai cara memperluas akses teknologi bagi negara-negara berkembang.
Ketua Digital Practice Asia Group, George Chen, mengatakan WAIC kini memiliki peran yang jauh lebih besar dibanding sekadar ajang pamer teknologi.
"WAIC kini lebih dari sekadar pameran teknologi. Forum ini telah menjadi panggung geopolitik bagi Beijing untuk menyampaikan visinya bahwa AI merupakan prioritas nasional sekaligus instrumen diplomasi," ungkap Chen, seperti dikutip Reuters pada Kamis (16/7).
Baca Juga: CEO JPMorgan: AI Canggih Berisiko Tinggi, Akses Harus Dibatasi
AI Menjadi Bagian Strategi Politik Luar Negeri Tiongkok
Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing semakin aktif mengangkat isu AI dalam berbagai forum internasional.
Pada WAIC tahun lalu, Tiongkok mengusulkan pembentukan World AI Cooperation Organisation (WAICO) sebagai wadah kerja sama internasional di bidang AI.
Meski hingga kini belum ada negara yang secara resmi bergabung, perkembangan organisasi tersebut diperkirakan kembali menjadi salah satu agenda pembahasan dalam konferensi tahun ini.
Selain itu, pemerintah Tiongkok juga akan menggelar High-Level Meeting on Global AI Governance yang berfokus pada implementasi Global AI Governance Initiative.
Inisiatif ini diperkenalkan Beijing untuk memperluas kerja sama internasional di bidang AI.
Pemerintah Tiongkok secara konsisten menempatkan AI sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.
Dalam pidatonya pada Januari lalu, Xi Jinping menyebut AI sebagai "transformasi teknologi besar setelah mesin uap", sekaligus menegaskan pentingnya mencapai kemandirian dalam pengembangan teknologi mutakhir.
Melalui editorial People's Daily pekan ini, pemerintah Tiongkok menegaskan bahwa perkembangan AI tidak boleh mengarah pada monopoli teknologi.
"Pengembangan AI tidak boleh bergerak menuju monopoli teknologi yang menutup diri, tetapi harus selalu berlandaskan tujuan utama melayani umat manusia," ungkap pemerintah Tiongkok.
Baca Juga: AI Jadi Mesin Cuan Baru Wall Street, IPO hingga Pinjaman Bank Melesat













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
