Reporter: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - BEJING. Hubungan bilateral antara China dan Rusia resmi memasuki babak baru yang kian solid.
Dalam pertemuan puncak di Beijing, Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan komitmen bersama untuk memperluas kemitraan strategis komprehensif.
Kerjasama ini sekaligus mempercepat reformasi tata kelola global yang bebas dari intervensi unilateral dan praktik hegemoni barat.
Baca Juga: Tegas! Pejabat Kelas Atas China Jadi Buruan Xi Jinping
Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan pernyataan bersama untuk memperkuat kemitraan di era baru, serta peluncuran deklarasi bersama untuk membangun tatanan dunia multipolar.
Total terdapat sekitar 40 dokumen kerja sama antarpemerintah, korporasi, dan lembaga lintas sektoral yang berhasil disepakati oleh kedua negara raksasa tersebut.
Dedolarisasi Total: Transaksi Rubel - Yuan
Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan bahwa kerja sama ekonomi kedua negara telah mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.
Sepanjang tahun 2025, nilai total volume perdagangan bilateral antara Rusia dan China sukses menembus angka hampir US$ 240 miliar, setara dengan 1,63 triliun Yuan, atau RUB 17,1 triliun.
Struktur perdagangan pun kian bervariasi dengan porsi barang bernilai tambah tinggi atau high-value added yang terus merangkak naik.
"Langkah terkoordinasi untuk mengalihkan penyelesaian transaksi keuangan ke dalam mata uang nasional memiliki signifikansi yang sangat besar. Saat ini, praktis hampir seluruh operasi ekspor-impor antara Rusia dan China diselesaikan menggunakan mata uang Rubel dan Yuan," tegas Putin.
Sistem perdagangan mandiri ini diklaim mampu membentengi aktivitas ekonomi kedua negara dari pengaruh eksternal negatif serta gejolak pasar keuangan global.
Tren positif ini terus berlanjut pada awal tahun ini, di mana nilai perdagangan periode Januari-April mencatatkan pertumbuhan melejit hingga 20% secara tahunan (year-on-year).
Tonton: Bahlil Pastikan Hulu Migas Bebas Aturan Ekspor Baru Prabowo, Kenapa Bisa Dikecualikan?
Rantai Pasok Energi dan Logistik
Di sektor riil, Rusia terus menancapkan kukunya sebagai salah satu pemasok energi terbesar bagi pasar domestik China.
Moskow berkomitmen mengamankan pasokan minyak mentah, gas alam, gas alam cair (LNG), hingga batu bara secara berkelanjutan demi menopang pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu.
Selain energi fosil, raksasa nuklir Rusia, Rosatom, tengah merampungkan pembangunan unit daya berbasis desain Rusia di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Tianwan dan PLTN Xudabao.
Langkah ini dibarengi dengan penandatanganan memorandum pengakuan bersama sertifikat ekologis untuk pembangkit listrik rendah karbon serta pengembangan kemitraan logam kritis untuk teknologi hijau.
Untuk mempercepat perputaran arus barang, kedua pihak sepakat mengintegrasikan program nasional masing-masing hingga periode 2030.
Fokus utama diarahkan pada modernisasi rute logistik trans-Eurasia, termasuk peningkatan kapasitas jalur kereta api Trans-Siberia dan Baikal-Amur (BAM), serta perluasan infrastruktur koridor trans-Arktik melalui Jalur Laut Utara atau Northern Sea Route.
Baca Juga: Pesan Xi Jinping ke Putin-Trump: Ini Kunci Stabilitas Dunia di 2026
Poros Politik Baru
Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa rasa saling percaya di bidang politik merupakan pilar utama penyokong hubungan kedua negara.
Kemitraan ini secara konsisten memegang teguh prinsip non-blok, non-konfrontasi, dan tidak menargetkan pihak ketiga mana pun.
"Dunia saat ini sedang tidak tenang akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh tindakan sepihak dan hegemoni global. Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, China dan Rusia akan tegas menjalankan tugasnya untuk melindungi otoritas PBB dan keadilan internasional," ujar Xi Jinping.
Beijing juga mengonfirmasi dukungannya terhadap integrasi ekonomi antara Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) dengan inisiatif Sabuk dan Jalan atau dikenal Belt and Road Initiative (BRI) milik China guna membentuk Kemitraan Besar Eurasia.
Di samping itu, Moskow menyatakan dukungan penuh atas keketuaan China di forum APEC tahun ini menuju KTT komprehensif yang akan digelar di Shenzhen.
Baca Juga: Xi Jinping Jamu Putin di Beijing: Pertegas Aliansi Hadapi Tekanan Geopolitik Global













