Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Indeks Nikkei Jepang melemah pada perdagangan Senin (26/1/2026), terdorong penguatan yen yang membebani pasar, sementara kekhawatiran soal intervensi mata uang membuat investor enggan mengambil posisi.
Yen diperdagangkan hingga 154,22 per dolar AS, level tertinggi lebih dari tiga bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu spekulasi intervensi mata uang setelah Jumat lalu yen tiba-tiba menguat tajam, memicu kenaikan lebih lanjut sepanjang sisa hari itu.
Sumber Reuters menyebut, Federal Reserve New York melakukan "rate check" pada pasangan dolar-yen, yang dinilai bisa menjadi sinyal intervensi yang dekat, bahkan kemungkinan kolaborasi antara otoritas AS dan Jepang.
Penguatan yen menekan nilai pendapatan luar negeri bagi banyak eksportir besar Jepang, sehingga membebani kinerja pasar saham.
Baca Juga: Indeks Nikkei Tergelicir dari Rekor Tertinggi, Terseret Penurunan Saham Teknologi
Pada perdagangan Senin, Nikkei turun 1,6% ke level 53.008,67, dengan 196 dari 225 saham komponennya berada di zona merah. Indeks Topix yang lebih luas anjlok 1,8% menjadi 3.565,76.
Sektor otomotif menjadi yang paling terpukul, jatuh 2,8%, diikuti sektor karet yang turun 2,5%. Toyota Motor dan Honda masing-masing melemah 3,1% dan 3,7%.
"Risiko intervensi masih ada dan prospeknya tidak jelas," ujar Maki Sawada, strategist di Nomura Securities.
"Baik untuk mata uang maupun saham, sulit bagi trader untuk mengambil posisi dalam situasi seperti ini."
Baca Juga: Bursa Jepang Rabu (14/1): Nikkei Cetak Rekor Tertinggi, Didukung Harapan Stimulus
Di sisi lain, SoftBank Group, investor startup yang fokus pada kecerdasan buatan (AI), menjadi pemberat terbesar Nikkei dengan penurunan 4,2%, mengurangi indeks sebesar 142 poin.
Namun, saham Furukawa Electric dan Fujikura yang mendapat manfaat dari investasi pusat data AI justru menguat masing-masing 6,4% dan 2,2%.













