kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.042.000   -45.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.916   25,00   0,15%
  • IDX 7.362   -27,28   -0,37%
  • KOMPAS100 1.021   -6,48   -0,63%
  • LQ45 751   -1,06   -0,14%
  • ISSI 259   -0,96   -0,37%
  • IDX30 401   1,72   0,43%
  • IDXHIDIV20 497   5,73   1,17%
  • IDX80 115   -0,59   -0,51%
  • IDXV30 134   1,20   0,90%
  • IDXQ30 129   0,61   0,48%

Menteri Energi AS: Harga Minyak Tidak Mungkin Tembus US$200 per Barel


Kamis, 12 Maret 2026 / 22:47 WIB
Menteri Energi AS: Harga Minyak Tidak Mungkin Tembus US$200 per Barel
ILUSTRASI. Harga BBM di LA Amerika Serikat (AS) (REUTERS/Mike Blake)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menyatakan pada Kamis (12/3/2026) bahwa harga minyak tidak kemungkinan mencapai US$200 per barel, meski perang AS-Israel dengan Iran telah mengganggu lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz.

Konflik yang meluas di wilayah Timur Tengah membuat dua kapal tanker minyak terbakar di pelabuhan Irak akibat serangan kapal Iran yang diduga membawa bahan peledak.

Sementara itu, puluhan kapal lain masih tertahan karena Selat Hormuz tetap ditutup. Akibatnya, harga minyak melonjak lebih dari 9% mendekati US$100 per barel.

Baca Juga: Harga BBM di AS: Trump Berencana Goyang Aturan Demi Tekan Lonjakan Biaya

Wright mengatakan kepada CNN, ketika ditanya kemungkinan harga mencapai US$200, “Saya katakan tidak mungkin, tetapi fokus kami saat ini adalah operasi militer dan menyelesaikan masalah ini.”

Pernyataan tersebut meski mengatakan “tidak mungkin”, tetap mengakui bahwa lonjakan harga mendekati US$200 bisa saja terjadi.

Ia menambahkan bahwa lonjakan harga ini diperkirakan bersifat jangka pendek, dalam hitungan minggu, bukan bulan.

Sebagai catatan, harga minyak Brent pernah mencapai rekor tertinggi sekitar US$147 per barel pada 2008, akibat ketegangan Barat-Iran terkait program nuklir, dolar AS yang melemah, dan kekhawatiran inflasi.

Kali ini, para analis memperkirakan harga minyak bisa tetap tinggi karena penutupan Selat Hormuz yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga: Dolar AS Mendekati Level Tertinggi 2026, Euro Tertekan Lonjakan Harga Minyak

Juru bicara markas militer Khatam al-Anbiya Iran Ebrahim Zolfaqari menegaskan, “Siap-siap harga minyak US$200, karena harga minyak sangat tergantung pada keamanan regional yang telah Anda ganggu.”

Wright menambahkan bahwa administrasi AS saat ini fokus pada solusi pragmatis untuk mengatasi gangguan pasokan minyak jangka pendek dan memastikan aliran energi aman dalam jangka panjang.

Ia mengatakan, “Kami tengah menghadapi gangguan signifikan dalam jangka pendek, tetapi fokus pada solusi jangka panjang untuk keamanan energi.”

Presiden Donald Trump menekankan keuntungan AS dari kenaikan harga minyak.

“Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jadi ketika harga minyak naik, kita menghasilkan banyak uang,” tulis Trump di media sosial.

Ia juga menegaskan prioritasnya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Baca Juga: Mojtaba Khamenei Bersumpah Balas Serangan AS - Israel, Iran Tutup Selat Hormuz

Trump mendorong perusahaan minyak AS agar tetap melintasi Selat Hormuz meski ada risiko. Ia menambahkan, pihaknya tidak mendeteksi adanya ranjau di selat tersebut.

Wright juga menambahkan bahwa angkatan laut AS saat ini belum dapat mengawal kapal melalui selat, tetapi kemungkinan bisa dilakukan pada akhir bulan ini.

Meski demikian, lonjakan harga minyak terjadi meski IEA (International Energy Agency) telah mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak global terbesar dalam sejarah, sebanyak 400 juta barel, 40% di antaranya berasal dari AS.

Konflik di Teluk memaksa negara-negara penghasil minyak mengurangi produksi sekitar 10 juta barel per hari, setara dengan 10% permintaan global. IEA menyebut ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah pasar global.

AS juga akan melepas 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve, yang menurut Wright akan diganti lebih dari 200 juta barel dalam setahun.

Wright menekankan bahwa kekurangan pasokan ini lebih berpengaruh di Asia, sementara Amerika dan negara-negara di belahan Barat relatif aman.

Baca Juga: AS Sebut Kecil Kemungkinan Harga Minyak Tembus US$ 200 per Barel, Ini Penyebabnya

Harga bensin AS terus melonjak, rata-rata US$3,60 per galon, menurut AAA, sementara harga barang lain kemungkinan ikut terdampak karena gangguan pengiriman bahan pupuk dan komoditas lain akibat Selat Hormuz tertutup.

Hal ini menjadi tantangan tambahan bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu pada November, di mana warga Amerika akan menentukan apakah Partai Republik tetap menguasai Kongres.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×