Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang bertahan di dekat level terlemahnya dalam 40 tahun pada Jumat (10/72026) dan bersiap mencatat pelemahan mingguan.
Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing, di tengah kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Aura Prancis Bikin Lawan Gentar, Les Bleus Melenggang ke Semifinal Piala Dunia
Meski ketegangan geopolitik meningkat, pasar keuangan global pada perdagangan semalam cenderung tenang. Harga minyak turun dan bursa saham menguat, sementara pergerakan mata uang utama relatif terbatas.
Namun, retaknya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali memunculkan kekhawatiran terhadap prospek harga energi dan inflasi global.
"Bayang-bayang perang masih membebani sentimen pasar," ujar Thierry Wizman, analis strategi valuta asing dan suku bunga di Macquarie Group.
"Pertanyaan yang dihadapi pelaku pasar adalah apakah Iran bersedia kembali ke perang berskala besar melawan Amerika Serikat dan sekutunya untuk memperkuat klaim penguasaannya atas Selat Hormuz," tambahnya.
Dolar AS melemah tipis pada Jumat, tetapi secara mingguan diperkirakan bergerak relatif stabil. Permintaan terhadap aset aman akibat konflik geopolitik mengimbangi berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Baca Juga: Paul Grewal Tinggalkan Coinbase, Bagaimana Nasib Regulasi Kripto?
Terhadap yen, dolar diperdagangkan di level 162,36 yen, tidak jauh dari posisi tertinggi dalam empat dekade yang dicapai pekan lalu. Secara mingguan, dolar diperkirakan menguat lebih dari 0,5% terhadap mata uang Jepang tersebut.
Pelaku pasar telah mengantisipasi kemungkinan intervensi pemerintah Jepang selama beberapa pekan terakhir karena yen terus bertahan di atas level 160 per dolar.
Namun, perubahan pendekatan pemerintah Jepang dalam melakukan intervensi membuat waktu pelaksanaannya semakin sulit diprediksi.
Analis Goldman Sachs menilai risiko intervensi tetap menjadi perhatian utama dalam jangka pendek.
Meski demikian, tanpa perubahan fundamental seperti penurunan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, meningkatnya risiko resesi, atau membaiknya kondisi fiskal Jepang, yen diperkirakan masih akan terus melemah dalam beberapa bulan mendatang.
Baca Juga: Deschamps: Prancis Tak Pernah Ragu Meski Mbappe Gagal Penalti
Goldman Sachs juga menilai yen tetap menjadi salah satu mata uang utama yang digunakan sebagai sumber pendanaan (funding currency) dalam transaksi global.
Sementara itu, poundsterling bertahan di dekat level tertinggi terhadap yen sejak 2007. Mata uang Inggris tersebut sempat menyentuh 218 yen pada perdagangan semalam.
Euro diperdagangkan di US$ 1,1433, naik tipis 0,02%, sedangkan poundsterling menguat 0,03% menjadi US$ 1,3413 dan diperkirakan mencatat kenaikan sekitar 0,45% sepanjang pekan ini.
Dolar Australia diperdagangkan di US$ 0,6939, sementara dolar Selandia Baru (kiwi) naik 0,08% menjadi US$ 0,5759.
Kiwi menuju kenaikan mingguan lebih dari 0,9% setelah Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) menaikkan suku bunga pekan ini sekaligus memberi sinyal pengetatan kebijakan moneter masih akan berlanjut.
Baca Juga: Khamenei Dimakamkan di Mashhad, Pemimpin Tertinggi Baru Iran Belum Tampil ke Publik
Westpac memperkirakan RBNZ akan kembali menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada September dan Desember.
Bank tersebut juga memproyeksikan suku bunga acuan Selandia Baru akan mencapai puncak di 4% pada September 2027.
Meski demikian, Kepala Ekonom Westpac Kelly Eckhold menilai waktu pengetatan kebijakan moneter masih sangat bergantung pada perkembangan ekonomi ke depan sehingga belum dapat dipastikan.














