Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) naik pada perdagangan Rabu (29/7/2026), mengakhiri tren penurunan selama tiga hari berturut-turut.
Kenaikan dipicu lonjakan harga minyak akibat memanasnya kembali konflik Iran, sementara investor menanti keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Reuters, pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, masih terdapat keraguan di pasar.
Baca Juga: UPDATE-Harga Emas Menguat Tipis ke US$ 4.036 Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar masih memperkirakan peluang sekitar 32% bagi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini.
Analis BCA Research menilai, pasar tenaga kerja AS tidak lagi menjadi pendorong inflasi.
"Pasar tenaga kerja tidak lagi memberikan tekanan terhadap inflasi, indikator utama inflasi menunjukkan tren pendinginan, dan ekspektasi inflasi secara umum masih terkendali. Jika data ekonomi terus melunak, maka periode kebijakan moneter yang paling hawkish kemungkinan sudah berlalu," tulis analis BCA Research dalam risetnya.
Indikator lain juga menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda. Swap inflasi bertenor satu tahun maupun lima tahun terus menurun dalam beberapa pekan terakhir, mengindikasikan investor melihat peluang yang kecil bagi lonjakan inflasi dalam jangka menengah.
Data yang dirilis awal bulan ini menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS pada Juni melambat tajam.
Baca Juga: Bursa Saham Negara Berkembang Tertekan Rabu (29/7), Jelang Keputusan The Fed
Selain itu, data penambahan tenaga kerja dua bulan sebelumnya direvisi lebih rendah, menandakan pasar tenaga kerja mulai mendingin. Inflasi konsumen pada Juni juga melambat lebih besar dari perkiraan seiring turunnya harga minyak mentah.
Meski demikian, data yang dihimpun LSEG menunjukkan pelaku pasar kini sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga pada pertemuan September.
Selain itu, terdapat peluang 71,2% untuk tambahan satu kali kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun.
Rapat kali ini menjadi pertemuan kebijakan moneter kedua yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh.
Analis memperkirakan bank sentral AS kembali tidak akan memberikan panduan (forward guidance) yang jelas mengenai arah suku bunga, setelah bulan lalu Warsh menyampaikan pernyataan kebijakan yang lebih singkat dibandingkan pendahulunya, Jerome Powell.
Baca Juga: Perang Timur Tengah Berkobar Lagi, AS-Arab Saudi Serang Milisi Pro-Iran di Irak
"Ini adalah kondisi paling tidak pasti mengenai kemungkinan perubahan suku bunga menjelang rapat The Fed sejak Desember 2018," ujar Jim Reid, Kepala Riset Makro Global Deutsche Bank.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 1,2 basis poin menjadi 4,616%, sedangkan yield obligasi tenor dua tahun yang paling sensitif terhadap ekspektasi suku bunga naik 2,4 basis poin menjadi 4,301%. Keduanya berpeluang mengakhiri tren penurunan selama tiga hari.
Di sisi lain, harga minyak mentah melonjak lebih dari 3% setelah sebelumnya melemah selama tiga sesi berturut-turut.
Penguatan dipicu serangan gabungan AS dan Arab Saudi terhadap kelompok yang didukung Iran di Irak, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap meluasnya konflik dan potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Meskipun yield obligasi AS masih berada di bawah level tertinggi bulan ini, kinerjanya tetap mengarah pada kenaikan bulanan yang kuat.
Investor meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga setelah lonjakan harga minyak dinilai berpotensi kembali mendorong inflasi.
Baca Juga: Iran Tolak Usulan Pengelolaan Bersama Selat Hormuz, Terobosan Diplomatik Memudar
Yield obligasi tenor 10 tahun dan 30 tahun diperkirakan mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Maret. Sementara itu, yield obligasi tenor dua tahun menuju kenaikan bulanan kelima secara berturut-turut.
Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada rilis Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index AS untuk Juni pada Kamis (30/7), yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed, serta data produk domestik bruto (PDB) kuartal II.
Di pasar obligasi, pasokan surat utang pemerintah AS juga cukup besar pekan ini. Setelah lelang obligasi tenor dua tahun dan lima tahun pada Senin, pemerintah AS menggelar lelang obligasi tenor tujuh tahun senilai US$ 44 miliar pada Selasa.
Menurut analis, permintaan pada lelang tersebut tergolong moderat dengan rasio bid-to-cover sebesar 2,49 kali, atau relatif sejalan dengan rata-rata historis.














