Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Yuan China menguat ke level tertinggi dalam sekitar 3,5 tahun terhadap dolar AS pada Senin (7/9/2026).
Penguatan tersebut terjadi meski bank sentral China, People's Bank of China (PBOC), memberikan panduan nilai tukar yang relatif lemah.
Melansir Reuters, yuan onshore menguat hingga 6,7050 per dolar AS dalam perdagangan awal. Level tersebut merupakan yang terkuat sejak Februari 2023. Namun, yuan kemudian sedikit melemah ke 6,7125 per dolar AS.
Baca Juga: Taiwan Perkuat Diplomasi Chip, Hadapi Tekanan AS untuk Perluas Produksi
Sementara itu, yuan offshore diperdagangkan di level 6,7113 per dolar AS, turun sekitar 0,05% dalam perdagangan Asia.
Sebelum pembukaan pasar, PBOC menetapkan kurs tengah yuan di level 6,7795 per dolar AS. Angka tersebut 709 pip lebih lemah dibandingkan estimasi Reuters dan menjadi deviasi ke sisi lemah terbesar sejak rekor yang tercatat pada Februari tahun ini.
PBOC dalam beberapa waktu terakhir memang secara bertahap memperkuat panduan harian yuan. Namun, level yang ditetapkan masih lebih lemah dibandingkan ekspektasi pasar.
"Yuan tetap menjadi salah satu mata uang paling tangguh di kawasan ini, tetapi penguatannya mulai mendapat perhatian lebih besar dari otoritas," kata Geoff Yu, Senior EMEA Market Strategist di BNY.
Menurut Yu, perhatian tersebut tercermin dari semakin lebarnya faktor kontra-siklus dalam penetapan kurs USD/CNY harian.
Baca Juga: Nikkei Jepang Melonjak Lebih dari 2% Senin (7/9), Saham Chip Jadi Penggerak Utama
Yuan diperbolehkan bergerak dalam kisaran 2% di atas atau di bawah kurs tengah yang ditetapkan PBOC setiap hari.
Data arus dana juga menunjukkan posisi investor terhadap yuan semakin berada dalam kondisi underweight seiring melambatnya laju apresiasi mata uang China tersebut.
Di sisi lain, sejumlah bank China mulai menaikkan suku bunga deposito dolar AS dan meningkatkan pembelian surat utang pemerintah AS dalam beberapa bulan terakhir.
Langkah tersebut berpotensi membantu menahan laju penguatan yuan. Kondisi itu juga terjadi ketika imbal hasil obligasi AS meningkat.
Pergerakan yuan turut dipengaruhi arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama relatif stabil di level 99,17.
Investor kini menantikan laporan inflasi AS pada pekan ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Data nonfarm payrolls AS yang dirilis pada Jumat (4/9/2026) sebelumnya menunjukkan penguatan pasar tenaga kerja.
Baca Juga: Peso Filipina Ambruk ke Rekor Terendah Senin (7/9), Mata Uang Asia Tertekan
Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga pada September.
"Pemulihan pasar tenaga kerja meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September, meskipun laporan CPI Agustus mendatang kemungkinan akan menentukan apakah kenaikan tersebut benar-benar dilakukan," tulis analis Orient Securities dalam sebuah catatan.
Penguatan yuan meski PBOC memberikan panduan yang relatif lemah menunjukkan kuatnya permintaan terhadap mata uang China sekaligus masih terbatasnya permintaan terhadap dolar AS di pasar Asia.














