Zona Eropa Hampir Pasti Memasuki Resesi, Ini Tanda-tandanya

Selasa, 06 September 2022 | 06:40 WIB Sumber: Reuters
Zona Eropa Hampir Pasti Memasuki Resesi, Ini Tanda-tandanya

ILUSTRASI. Hasil survei menunjukkan, zona Eropa hampir pasti memasuki resesi. REUTERS/Benoit Tessier


KONTAN.CO.ID - LONDON. Zona Eropa hampir pasti memasuki resesi. Hasil survei yang dilakukan pada Senin (5/9/2022) menunjukkan, krisis biaya hidup yang semakin dalam dan pandangan suram yang membuat konsumen waspada terhadap pengeluaran rumah tangganya.

Mengutip Reuters, meskipun ada beberapa penurunan pada tekanan harga, namun menurut survei, tingkat inflasi tetap tinggi. Kondisi itu membuat Bank Sentral Eropa berada di bawah tekanan karena inflasi berjalan lebih dari empat kali target 2%, yang mencapai rekor 9,1% bulan lalu.

Bank Sentral menghadapi prospek untuk kembali menaikkan suku bunga secara agresif saat ekonomi memasuki penurunan.

Kenaikan biaya pinjaman akan menambah kesengsaraan konsumen yang berutang. Namun dalam jajak pendapat Reuters minggu lalu, hampir setengah dari ekonom yang disurvei mengatakan mereka memperkirakan kenaikan suku bunga 75 basis poin yang belum pernah terjadi sebelumnya dari ECB pada minggu ini. Sementara, sebagian lainnya memperkirakan kenaikan suku bunga mencapai 50 bps.

Terlepas dari ekspektasi tersebut, euro melemah di bawah 99 sen AS untuk pertama kalinya dalam 20 tahun pada hari Senin setelah Rusia mengatakan pasokan gas ke pipa utamanya ke Eropa akan tetap ditutup tanpa batas waktu. 

Baca Juga: Inilah Liz Truss, Sosok Perdana Menteri Inggris Pengganti Boris Johnson

Harga gas di benua itu melonjak sebanyak 30% pada hari Senin, sehingga memicu kekhawatiran akan kekurangan pasokan gas. Kondisi ini memperkuat ekspektasi terjadinya resesi dan musim dingin yang pahit karena bisnis dan rumah tangga terpukul oleh harga energi yang setinggi langit.

Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global, dilihat sebagai panduan untuk kesehatan ekonomi, turun ke level terendah 18-bulan ke level 48,9 pada Agustus dari level 49,9 Juli. Angka tersebut berada di bawah perkiraan awal 49,2. Informasi saja, angka PMI di bawah level 50 menunjukkan kontraksi.

"Survei PMI memberi sinyal bahwa kawasan euro memasuki resesi lebih awal dari yang kami duga sebelumnya, dipimpin oleh ekonomi terbesarnya Jerman, dan kami sekarang melihat kawasan euro 'menikmati' resesi tiga kuartal yang lebih lama," kata Peter Schaffrik dari Royal Bank dari Kanada.

Baca Juga: Minyak Rusia Mengalir ke Asia dengan Harga Murah, Bagaimana dengan Indonesia?

Dia menambahkan, "Revisi ini terutama disebabkan oleh perkembangan harga energi yang, bahkan setelah mundur selama beberapa hari terakhir, tetap tinggi dan ini berarti bahwa dampak pada pengeluaran rumah tangga akan lebih besar daripada yang kita antisipasi sampai sekarang."

Survei lain menunjukkan, prospek resesi itu memukul moral investor di pasar mata uang sehingga mengalami penurunan pada September ke level terendah sejak Mei 2020.

Aktivitas jasa di Jerman, ekonomi terbesar Eropa, mengalami kontraksi untuk bulan kedua berturut-turut pada Agustus karena permintaan domestik berada di bawah tekanan dari inflasi yang melonjak dan kepercayaan yang goyah.

Menurut jajak pendapat Reuters pekan lalu, ekonomi Jerman juga berada di jalur kontraksi selama tiga kuartal berturut-turut. 

Di Prancis, ekonomi terbesar kedua di zona euro, sektor jasa kehilangan lebih banyak tenaga dan hanya berhasil meningkatkan pertumbuhan moderat dengan prospek PMI yang suram.

Baca Juga: Krisis Energi Langka, Jerman Umumkan Paket Bantuan 65 Miliar Euro untuk Warganya

Industri jasa Italia kembali ke pertumbuhan moderat. Akan tetapi, di Spanyol, aktivitas berkembang pada tingkat paling lambat sejak Januari, dengan perusahaan yang khawatir inflasi akan membebani keuntungan mereka dan permintaan pelanggan.

Di Inggris, PMI menunjukkan, ekonomi yang berakhir Agustus dengan pijakan yang jauh lebih lemah daripada yang diperkirakan sebelumnya karena aktivitas bisnis secara keseluruhan berkontraksi untuk pertama kalinya sejak Februari 2021 dalam sinyal resesi yang jelas.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru