Sumber: Yahoo Finance | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Bitcoin tampaknya tidak kebagian “hadiah Natal” tahun ini.
Alih-alih menikmati reli akhir tahun ala Santa rally, harga aset kripto terbesar dunia ini justru memasuki momen Natal dengan kondisi turun sekitar 30% dari rekor tertingginya pada Oktober, meskipun didukung sentimen makroekonomi yang sebenarnya cukup positif.
Padahal, kombinasi “goldilocks” berupa siklus penurunan suku bunga global dan meningkatnya likuiditas telah mendorong kinerja saham dan emas. Namun, Bitcoin justru mengecewakan investor, kata analis London Crypto Club, David Brickell dan Chris Mills, dalam buletin mingguan mereka.
“Terlepas dari berbagai faktor positif yang mendukung Bitcoin, mulai dari kemajuan kebijakan AS yang lebih ramah kripto hingga meningkatnya adopsi institusional, dan meskipun sempat mencetak rekor di atas US$ 126.000 pada awal Oktober, Bitcoin saat ini justru turun sekitar 5% secara tahunan terhadap dolar AS dan sekitar 40% dibandingkan emas,” tulis mereka.
Mengutip Yahoo Finance, berikut empat alasan utama mengapa harga Bitcoin melemah di penghujung 2025, menurut Brickell dan Mills.
Baca Juga: Kim Jong Un Memantau Uji Rudal Jarak Jauh dan Kapal Selam Nuklir Korea Utara
1. Tekanan pasokan ‘mekanis’ yang terus berlanjut
Kinerja Bitcoin yang lesu dalam beberapa bulan terakhir disebabkan oleh aksi jual yang stabil dan tidak sensitif terhadap harga.
Menurut Brickell dan Mills, terjadi penjualan besar-besaran dari pemegang lama atau OG holders, investor yang sudah melewati beberapa siklus pasar, yang mulai melepas kepemilikan secara agresif saat harga mendekati level psikologis US$ 100.000.
Aksi jual strategis ini menekan harga Bitcoin, meskipun faktor fundamental sebenarnya cukup mendukung.
2. Jebakan siklus empat tahunan
Keyakinan pasar terhadap pola siklus empat tahunan Bitcoin justru menjadi bumerang.
Setiap sekitar empat tahun, Bitcoin mengalami halving, yakni pemangkasan imbalan penambangan blok baru hingga separuh. Peristiwa ini mengurangi pasokan Bitcoin baru di pasar dan menekan para penambang.
Dalam siklus-siklus sebelumnya, harga Bitcoin cenderung melonjak beberapa bulan setelah halving, kemudian mencapai puncak, lalu turun kembali saat euforia mereda dan investor awal mengambil untung.
Karena pola ini berulang, banyak trader kini mengantisipasi hal serupa dan memilih menjual lebih awal, sehingga justru menekan harga.
Meski demikian, semakin banyak pihak, termasuk analis Grayscale, Bitwise, serta pendiri Binance Changpeng Zhao, yang menilai narasi siklus empat tahunan sudah tidak relevan. Mereka berargumen bahwa adopsi institusional, kejelasan regulasi, dan kematangan industri kripto telah mengubah dinamika pasar.
Baca Juga: Ancaman Nyata Perubahan Iklim: Kota-Kota Ini Berisiko Hilang pada 2100
Namun, kenyataannya masih banyak pelaku pasar yang belum siap meninggalkan strategi lama tersebut.
3. Kekhawatiran gelembung AI
Sektor kecerdasan buatan (AI), yang sebelumnya menjadi motor utama pasar, mulai goyah pada paruh kedua 2025.
Meningkatnya keraguan terhadap valuasi dan kepastian monetisasi membuat investor berbasis momentum mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Dalam kondisi normal, Bitcoin cenderung bergerak seperti aset berisiko yang sensitif terhadap likuiditas. Ketika selera risiko menurun, kripto pun ikut melemah. Faktor ini dinilai lebih berpengaruh dibandingkan katalis khusus kripto lainnya.
4. Luka dari ‘Red October’
Peristiwa likuidasi besar senilai US$ 19 miliar pada Oktober memberikan dampak berkepanjangan bagi Bitcoin.
Meski harga sempat pulih secara kasat mata, kerusakan di balik layar masih terasa. Penyedia likuiditas dan market maker yang menyerap aksi jual paksa tersebut perlahan mengurangi eksposur mereka, sehingga menciptakan tekanan harga yang terus membayangi hingga akhir tahun.
Tonton: Bea Keluar Emas Berlaku Mulai Tahun Depan, Begini Efeknya Terhadap Dominasi Antam
Prospek 2026
Meski harga Bitcoin melemah, Brickell dan Mills tetap optimistis dalam jangka panjang.
Menurut mereka, sistem keuangan berbasis mata uang fiat yang digerakkan oleh utang membutuhkan utang dan defisit yang terus membesar agar bisa bertahan. Hal ini memaksa bank sentral untuk terus memperluas neraca keuangan melalui pencetakan uang demi menyediakan likuiditas.
“Secara harfiah, tidak ada yang bisa menghentikan kereta ini,” tulis mereka.
Kesimpulan
Pelemahan harga Bitcoin di akhir 2025 bukan semata akibat sentimen negatif, melainkan kombinasi tekanan pasokan dari investor lama, perilaku pasar yang masih terjebak narasi siklus empat tahunan, menurunnya minat terhadap aset berisiko akibat kekhawatiran gelembung AI, serta dampak lanjutan dari likuidasi besar pada Oktober. Meski demikian, analis tetap menilai prospek jangka panjang Bitcoin masih kuat, seiring tantangan struktural pada sistem keuangan global berbasis utang dan fiat.












![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)