5 Hal yang Akan Terjadi Jika Suatu Negara Bangkrut seperti Sri Lanka

Selasa, 12 Juli 2022 | 08:50 WIB Sumber: Kompas.com
5 Hal yang Akan Terjadi Jika Suatu Negara Bangkrut seperti Sri Lanka

ILUSTRASI. Saat bangkrut seperti Sri Lanka, sebuah negara akan mengalami resesi seperti kekurangan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan. REUTERS/Dinuka Liyanawatte


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan kepada parlemen Selasa (5/7/2022), Sri Lanka sudah menjadi negara bangkrut dan penderitaan akut dari krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya akan bertahan hingga setidaknya akhir tahun depan.

Melansir Channel News Asia, negara kepulauan yang berpenduduk 22 juta orang itu telah mengalami inflasi selama berbulan-bulan dan pemadaman listrik yang berkepanjangan setelah pemerintah kehabisan mata uang asing untuk mengimpor barang-barang vital.

Wickremesinghe mengatakan negara yang pernah makmur itu akan mengalami resesi yang dalam tahun ini dan kekurangan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan akan terus berlanjut.

"Kami juga harus menghadapi kesulitan pada 2023," kata perdana menteri. "Inilah kebenarannya. Inilah kenyataannya."

Kondisi itu membuat negara dan penduduk Sri Lanka mengalami banyak kesulitan, khususnya terkait pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Misalnya kesulitan mendapatkan obat-obatan, bahan bakar, bahan pangan, dan lain sebagainya. 

Baca Juga: Selain Sri Lanka, Dua Negara Tetangga Indonesia Ini Terancam Bangkrut

Sulitnya kondisi Sri Lanka saat ini membuat penduduk marah, menuntut presiden mundur, bahkan melakukan sejumlah akurasi protes termasuk memaksa masuk dan menguasai kediaman mewah presiden. 

Lantas, apa sesungguhnya yang akan terjadi pada sebuah negara yang bangkrut? 

Jika negara bangkrut

Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudhistira, menjelaskan kondisi keuangan negara yang alami kebangkrutan. 

"Kebangkrutan adalah kondisi di mana suatu negara tidak mampu lagi membayar bunga utang dan tidak ada kreditur yang mau memberikan pinjaman baru," kata Bhima kepada Kompas.com, Senin (11/7/2022). 

"Contohnya Sri Lanka, sudah tidak bisa lagi bayar kewajiban utangnya, sehingga minta di-bailout (disuntik dana bantuan) oleh IMF. Itu berarti secara teknikal dianggap bangkrut atau gagal bayar default," lanjut dia. 

Kebangkrutan ini membawa begitu banyak dampak, baik bagi negara secara sebuah lembaga, maupun bagi masyarakat yang ada di dalamnya. 

Baca Juga: Menlu AS Menyebut Ada Peran Rusia dalam Kekacauan dan Krisis di Sri Lanka

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru