Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - Selama lebih dari dua dekade, smartphone menjadi pusat kehidupan digital manusia. Perangkat ini menggantikan kamera, peta, pemutar musik, dompet, hingga komputer mini yang selalu ada di genggaman.
Namun kini, sejumlah tokoh besar teknologi dunia mulai menyatakan bahwa era smartphone mendekati akhir.
Menlasnir, Aptaerials.co.uk, Senin (5/1/2026), Elon Musk, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg memiliki pandangan serupa: ponsel berbentuk persegi panjang bukanlah masa depan akhir komputasi personal.
Mereka meyakini, teknologi berikutnya akan melekat lebih dekat ke tubuh manusia, bahkan masuk ke dalam tubuh.
Sebaliknya, CEO Apple Tim Cook justru menyampaikan pandangan berbeda. Ia menilai smartphone belum akan tergantikan, melainkan akan terus berevolusi dan hidup berdampingan dengan perangkat baru.
Baca Juga: Era Tim Cook Berakhir? Apple Intensifkan Rencana Suksesi CEO, Ini Kandidat Terkuat
Elon Musk melihat masa depan tanpa layar. Melalui Neuralink, perusahaan neuroteknologi miliknya, Musk mengembangkan implan otak yang memungkinkan manusia mengendalikan perangkat digital langsung dengan pikiran.
Teknologi ini saat ini diuji pada pasien dengan gangguan motorik, seperti untuk menggerakkan kursor atau mengetik tanpa tangan.
Dalam skenario jangka panjangnya, Musk membayangkan manusia dapat mengirim pesan, menjelajah internet, hingga berinteraksi dengan perangkat lunak hanya dengan berpikir. Dalam pandangan ini, smartphone dianggap tidak efisien dan ketinggalan zaman.
Namun, gagasan tersebut memicu perdebatan serius. Implan otak membutuhkan pembedahan, pengawasan jangka panjang, serta regulasi ketat terkait keamanan dan perlindungan data. Penerapannya pada konsumen sehat dinilai masih sangat jauh dan berisiko tinggi.
Baca Juga: Bising Proyek Mark Zuckerberg, Tetangga Diberi Headphone Peredam Suara
Sementara itu, Bill Gates menyoroti potensi “tato pintar” atau electronic tattoos. Teknologi ini berupa lapisan tipis dengan sensor nano yang ditempelkan di kulit untuk memantau kesehatan, menyimpan identitas digital, atau berfungsi sebagai alat autentikasi.
Dalam skenario pasca-smartphone, tato pintar bisa menggantikan kartu identitas, kunci digital, hingga alat pembayaran. Namun, pengembangannya masih menghadapi tantangan besar, terutama soal daya tahan baterai, kenyamanan, dan keamanan data pribadi.
Adapun Mark Zuckerberg melalui Meta bertaruh pada kacamata augmented reality (AR). Ia membayangkan masa depan di mana pesan, navigasi, terjemahan, dan panggilan video muncul langsung di depan mata pengguna. Interaksi dilakukan lewat suara, gerakan tangan, atau pengendali kecil, tanpa perlu merogoh saku.
Meski teknologi AR masih tergolong besar dan mahal, berbagai perusahaan teknologi kini berlomba membuat kacamata AR yang lebih ringan dan menyerupai kacamata biasa. Tantangan terbesarnya bukan hanya teknis, tetapi juga penerimaan sosial, mengingat kekhawatiran privasi akibat kamera yang selalu aktif.












