kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.800.000   35.000   1,27%
  • USD/IDR 17.680   4,00   0,02%
  • IDX 6.296   -22,36   -0,35%
  • KOMPAS100 828   -4,16   -0,50%
  • LQ45 632   1,00   0,16%
  • ISSI 224   -1,63   -0,72%
  • IDX30 361   1,28   0,35%
  • IDXHIDIV20 451   2,06   0,46%
  • IDX80 96   -0,16   -0,17%
  • IDXV30 124   -0,17   -0,14%
  • IDXQ30 118   0,59   0,50%

Ambisi Energi China: PetroChina Bidik Produksi Gas Batubara 30 BCM pada 2035


Kamis, 21 Mei 2026 / 08:34 WIB
Ambisi Energi China: PetroChina Bidik Produksi Gas Batubara 30 BCM pada 2035
ILUSTRASI. PetroChina (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - China terus memperkuat strategi kemandirian energinya dengan mengembangkan sumber gas alam nonkonvensional baru yang berasal dari lapisan batuan batubara atau coal rock gas (CRG).

Melansir Reuters pada Kamis (21/5/2026), raksasa energi milik negara, PetroChina memperkirakan produksi CRG dapat mencapai 30 miliar meter kubik (bcm) pada 2035.

Volume tersebut bahkan diproyeksikan melampaui rekor produksi gas serpih (shale gas) China tahun lalu yang menyumbang sekitar 10% produksi gas nasional.

Baca Juga: X Milik Elon Musk Kalah dalam Gugatan Kepatuhan Perlindungan Anak di Australia

Pengembangan CRG menjadi bagian dari upaya Beijing mendiversifikasi bauran energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Strategi itu dinilai membantu China lebih tahan menghadapi gejolak geopolitik global, termasuk dampak perang Iran, meski negara tersebut merupakan importir energi terbesar dunia.

Berbeda dengan gas konvensional, CRG diekstraksi dari lapisan batuan dalam cekungan batubara menggunakan teknologi pengeboran horizontal dan hydraulic fracturing atau fracking.

Teknologi ini sebelumnya telah dikembangkan PetroChina selama lebih dari satu dekade dalam proyek shale gas.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bangkit Lagi Kamis (21/5) Pagi, Perdamaian Iran Masih Abu-Abu

Sebagian besar cadangan CRG berada di Basin Ordos yang membentang di tiga provinsi di China. PetroChina menyebut sumber energi ini sebagai “bahan bakar strategis tahap berikutnya” yang berpotensi menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan produksi gas nasional di masa depan.

Analis utama gas dari S&P Global Energy, Huang Tianshi, menilai CRG memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan sumber gas domestik lainnya.

China sendiri merupakan konsumen gas terbesar ketiga dunia. Konsumsi gas negara itu diperkirakan mencapai puncak pada 2040 di kisaran 600 hingga 650 bcm per tahun, naik dari sekitar 430 bcm saat ini.

Keberhasilan mengembangkan sumber gas baru dinilai dapat menekan ketergantungan China terhadap impor liquefied natural gas (LNG), sekaligus memperkuat posisi tawar Beijing terhadap Rusia dalam negosiasi proyek pipa gas Power of Siberia 2.

Baca Juga: China Tunda Kunjungan Pejabat Pentagon Imbas Penjualan Senjata AS ke Taiwan

Pengembangan teknologi CRG berawal dari pengalaman panjang perusahaan energi China dalam memproduksi coalbed methane atau gas metana batubara yang berada di lapisan dangkal tambang batubara.

Namun produksi coalbed methane selama ini dinilai kurang optimal karena biaya tinggi dan produktivitas sumur yang rendah.

Terobosan terjadi pada 2021 ketika PetroChina mulai menerapkan teknologi fracking shale gas di sumur Jishen 6-7 di lapangan Daji, Basin Ordos. Sumur horizontal sepanjang 3.000 meter yang dibor hingga kedalaman 2.200 meter itu berhasil menghasilkan gas komersial dengan produksi harian mencapai 100.000 meter kubik.

Keberhasilan tersebut mendorong ekspansi pengeboran besar-besaran. Berdasarkan presentasi seminar China National Petroleum Corp (CNPC) tahun 2025 yang ditinjau Reuters, 14 basin batubara China diperkirakan memiliki cadangan teknis yang dapat dipulihkan mencapai 13 triliun meter kubik.

Baca Juga: IPO SpaceX Bongkar Kerugian AI dan Dominasi Elon Musk

Hingga akhir tahun lalu, China telah mengebor lebih dari 700 sumur CRG dan memproduksi sekitar 4,2 bcm gas pada 2025, mayoritas berasal dari lapangan Daji.

Geolog senior CNPC, Zhang Junfeng, mengatakan China menjadi satu-satunya negara yang saat ini mengembangkan CRG secara komersial karena kondisi geologi yang unik dan mulai terbatasnya pengembangan gas batubara konvensional.

Meski menjanjikan, pengembangan CRG masih menghadapi tantangan besar berupa biaya produksi tinggi akibat kompleksitas pengeboran di kedalaman ekstrem.

Analis Rystad Energy Chen Lin menyebut biaya impas proyek shale gas di Basin Sichuan berkisar 1,7 hingga 1,8 yuan per meter kubik.

Sementara gas konvensional sekitar 0,6 hingga 0,8 yuan per meter kubik. Adapun biaya produksi CRG diperkirakan lebih tinggi, meski belum ada estimasi pasti.

Untuk menekan biaya, CNPC mempertimbangkan integrasi proyek CRG dengan pengembangan tight gas dan coalbed methane, termasuk memanfaatkan sumur lama untuk pengeboran lebih dalam menuju lapisan batuan penghasil gas.

Baca Juga: Xi Jinping Dikabarkan Akan Kunjungi Korea Utara, Misi Rahasia Perdamaian Trump-Kim?

Selain itu, pengembangan teknologi fracking yang lebih efisien serta metode stimulasi baru berbasis gas dan pulsa listrik juga tengah dikaji untuk meningkatkan keekonomian proyek.

Analis S&P Global Energy memperkirakan biaya penuh pengembangan CRG pada akhirnya bisa setara atau bahkan lebih rendah dibanding shale gas karena China telah memiliki infrastruktur dan rantai pasok gas nonkonvensional yang matang.

Namun, untuk menjadikan CRG sebagai penyumbang 10% produksi gas nasional, China diperkirakan masih membutuhkan investasi modal besar, percepatan teknologi, standar industri terpadu, ekspansi ke basin baru, dan dukungan kebijakan pemerintah.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×