kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.676   -60,00   -0,34%
  • IDX 6.319   -52,18   -0,82%
  • KOMPAS100 832   -10,94   -1,30%
  • LQ45 631   -4,14   -0,65%
  • ISSI 225   -2,77   -1,22%
  • IDX30 360   -1,39   -0,38%
  • IDXHIDIV20 449   1,48   0,33%
  • IDX80 96   -1,08   -1,12%
  • IDXV30 124   -0,84   -0,68%
  • IDXQ30 118   0,53   0,46%

Trump Sebut Negosiasi dengan Iran Masuk Tahap Akhir, Ancam Serangan Jika Gagal


Rabu, 20 Mei 2026 / 22:34 WIB
Trump Sebut Negosiasi dengan Iran Masuk Tahap Akhir, Ancam Serangan Jika Gagal
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump (via REUTERS/LAURENT GILLIERON)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Iran kini telah memasuki tahap akhir.

Namun, Trump juga memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan apabila kesepakatan gagal tercapai.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Rabu (20/5/2026), sekitar enam minggu setelah dirinya menghentikan sementara Operation Epic Fury untuk membuka jalan menuju gencatan senjata.

Baca Juga: Xi Jinping & Putin Bersumpah Runtuhkan Hegemoni Global, Dagang Tembus US$ 240 Miliar

Meski pembicaraan damai masih berlangsung, hingga kini negosiasi dinilai belum menunjukkan kemajuan signifikan.

“Kami berada di tahap akhir soal Iran. Kita lihat apa yang terjadi. Entah ada kesepakatan atau kami akan melakukan beberapa hal yang agak tidak menyenangkan, tapi semoga itu tidak terjadi,” ujar Trump kepada wartawan dilansir Reuters.

Trump menegaskan pihaknya masih memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi. Namun ia tetap membuka opsi militer apabila perundingan tidak membuahkan hasil.

“Kami akan memberikan satu kesempatan ini. Saya tidak terburu-buru. Idealnya saya ingin melihat lebih sedikit orang terbunuh dibandingkan banyak orang. Kami bisa melakukannya dengan dua cara,” kata Trump.

Di sisi lain, Iran menuduh Trump tengah mempersiapkan serangan baru dan mengancam akan melakukan balasan yang meluas hingga di luar kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Barney Frank, Arsitek Reformasi Wall Street Pasca Krisis 2008, Meninggal Dunia

Korps Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa apabila agresi terhadap Iran kembali terjadi, maka perang regional akan meluas lebih jauh dibanding sebelumnya.

Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama perdamaian, Mohammad Baqer Qalibaf, juga menuding AS tengah menyiapkan serangan baru melalui berbagai langkah terselubung.

Dalam perkembangan diplomatik terbaru, Menteri Dalam Negeri Pakistan melakukan kunjungan ke Teheran pada Rabu.

Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah satu-satunya putaran perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat.

Baca Juga: WHO Laporkan 600 Dugaan Kasus Ebola Bundibugyo di Kongo dan Uganda

Iran juga dikabarkan telah mengajukan proposal baru kepada Washington pekan ini.

Namun, sejumlah poin dalam proposal tersebut disebut masih memuat tuntutan yang sebelumnya ditolak Trump, termasuk terkait kontrol Selat Hormuz, pencabutan sanksi, kompensasi perang, hingga penarikan pasukan AS dari kawasan.

Ketegangan geopolitik di kawasan turut memengaruhi jalur perdagangan energi global. Iran diketahui masih membatasi akses pelayaran di Selat Hormuz bagi kapal asing sejak konflik dengan AS dan Israel pecah pada Februari lalu.

Meski demikian, dua kapal tanker raksasa asal China yang membawa sekitar 4 juta barel minyak dilaporkan berhasil melintasi selat tersebut pada Rabu.

Baca Juga: Bank Dunia: Pendapatan Carbon Pricing Naik Jadi US$107 Miliar pada 2025

Korea Selatan juga menyebut salah satu kapal tankernya tengah melintasi Selat Hormuz dengan koordinasi bersama Iran.

Data pemantau pelayaran Lloyd’s List mencatat setidaknya 54 kapal melintasi Selat Hormuz pekan lalu, meningkat dibandingkan pekan sebelumnya meski masih jauh di bawah rata-rata normal sebelum perang yang mencapai sekitar 140 kapal per hari.

Situasi konflik Iran dan Israel terus menjadi perhatian pasar global karena memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi dunia.

Harga minyak mentah Brent sempat turun sekitar 2,75% pada perdagangan Rabu pagi ke kisaran US$108 per barel, setelah Trump kembali menyatakan perang dengan Iran dapat segera berakhir.

Namun pelaku pasar tetap berhati-hati mengingat sikap Washington terhadap Iran dinilai berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Baca Juga: Rupee India Sentuh Rekor Terendah Dekati 97 per Dolar AS

Sejak konflik dimulai, serangan AS dan Israel dilaporkan telah menewaskan ribuan orang di Iran dan Lebanon.

Di sisi lain, serangan balasan Iran melalui rudal, drone, dan kelompok proksi juga menyebabkan korban jiwa di Israel dan negara-negara Teluk.




TERBARU

[X]
×