kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.676   -60,00   -0,34%
  • IDX 6.319   -52,18   -0,82%
  • KOMPAS100 832   -10,94   -1,30%
  • LQ45 631   -4,14   -0,65%
  • ISSI 225   -2,77   -1,22%
  • IDX30 360   -1,39   -0,38%
  • IDXHIDIV20 449   1,48   0,33%
  • IDX80 96   -1,08   -1,12%
  • IDXV30 124   -0,84   -0,68%
  • IDXQ30 118   0,53   0,46%

WHO Laporkan 600 Dugaan Kasus Ebola Bundibugyo di Kongo dan Uganda


Rabu, 20 Mei 2026 / 18:28 WIB
WHO Laporkan 600 Dugaan Kasus Ebola Bundibugyo di Kongo dan Uganda
ILUSTRASI. SIMULASI PENANGGULANGAN EBOLA (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JENEWA. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan terdapat 600 dugaan kasus Ebola dan 139 dugaan kematian akibat virus tersebut pada Rabu (20/5/2026). Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat mengingat virus telah menyebar sebelum wabah di Kongo dan Uganda terdeteksi.

Komite Darurat WHO mengadakan pertemuan Selasa lalu di Jenewa dan menegaskan bahwa wabah Ebola dengan strain Bundibugyo yang langka merupakan darurat kesehatan masyarakat internasional, namun bukan darurat pandemi, kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

“WHO menilai risiko wabah ini tinggi di tingkat nasional dan regional, namun rendah di tingkat global,” ujar Tedros.

Baca Juga: Bank Dunia: Pendapatan Carbon Pricing Naik Jadi US$107 Miliar pada 2025

Tedros menyatakan keadaan darurat tersebut pada akhir pekan lalu dan menegaskan ini adalah pertama kalinya seorang kepala WHO mengambil langkah tersebut tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan para ahli, karena urgensi situasi.

Kepala unit darurat WHO, Chikwe Ihekweazu, mengatakan dalam konferensi pers: “Prioritas mutlak kami saat ini adalah mengidentifikasi seluruh rantai penularan yang ada agar kami dapat menentukan skala wabah dan memberikan perawatan yang tepat.”

Wabah ini mengkhawatirkan para ahli karena telah menyebar selama berminggu-minggu tanpa terdeteksi di wilayah padat penduduk yang juga terdampak kekerasan bersenjata. Wabah Ebola strain Zaire pada 2018–2020 di wilayah yang sama menewaskan hampir 2.300 orang, menjadi salah satu wabah mematikan kedua tertinggi yang tercatat.

Strain Bundibugyo menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang atau hewan yang terinfeksi dan memiliki tingkat kematian rata-rata sekitar 40%, menurut WHO.

Hingga saat ini, WHO telah mengonfirmasi 51 kasus di provinsi utara Kongo, yaitu Ituri dan North Kivu. Uganda juga melaporkan dua kasus terkonfirmasi di ibu kota Kampala, termasuk satu kematian di antara dua orang yang melakukan perjalanan dari Kongo ke Uganda.

Seorang warga AS yang bekerja di Kongo juga dinyatakan positif dan telah dipindahkan ke Jerman, menurut WHO.

Baca Juga: Rupee India Sentuh Rekor Terendah Dekati 97 per Dolar AS

Para ahli WHO menduga wabah ini kemungkinan dimulai beberapa bulan lalu, dengan kematian pertama yang diduga terjadi pada 20 April, meski penyelidikan masih berlangsung. Setelah kematian pertama, diduga terjadi peristiwa super-spreader baik di pemakaman maupun fasilitas kesehatan. Pada 5 Mei, peristiwa super-spreader terdeteksi melalui laporan media sosial tentang kematian di komunitas setempat.

Pada 12 Mei, pemerintah sementara bersama WHO mengirim tim investigasi dan mengumpulkan sampel. Dari 13 sampel yang diambil, delapan di antaranya terkonfirmasi positif Ebola.

Tedros menekankan kesulitan mendeteksi strain langka ini melalui pengujian, ditambah kondisi lingkungan yang terdampak konflik, membuat upaya membatasi awal wabah menjadi kompleks. Gejala awal Ebola juga mirip dengan penyakit lain yang umum di wilayah tersebut, seperti malaria.

Beberapa ahli menilai keterlambatan deteksi wabah bisa menunjukkan adanya celah dalam kesiapsiagaan akibat pemotongan dana oleh AS dan donor global lainnya. Tedros menegaskan bahwa saat ini terlalu dini untuk menyimpulkan apakah pemotongan dana di Kongo atau WHO turut memengaruhi keterlambatan deteksi atau respons terhadap wabah.

Hingga kini, vaksin untuk strain Bundibugyo belum tersedia. WHO menyebut ada dua kandidat vaksin yang sedang dipertimbangkan, namun pengembangannya bisa memakan waktu antara tiga hingga sembilan bulan dan memerlukan uji klinis.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×