kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.106   76,00   0,42%
  • IDX 5.890   16,32   0,28%
  • KOMPAS100 766   2,50   0,33%
  • LQ45 583   0,52   0,09%
  • ISSI 203   0,80   0,40%
  • IDX30 330   -0,15   -0,05%
  • IDXHIDIV20 408   -1,89   -0,46%
  • IDX80 87   0,35   0,41%
  • IDXV30 111   -0,06   -0,05%
  • IDXQ30 106   -0,46   -0,43%

Ancaman Baru untuk Bitcoin, Komputer Kuantum Bisa Bobol Dompet Kripto


Kamis, 09 Juli 2026 / 09:47 WIB
Ancaman Baru untuk Bitcoin, Komputer Kuantum Bisa Bobol Dompet Kripto
ILUSTRASI. Altcoin crypto (Jakub Porzycki/NurPhoto via REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - Investor kripto mulai dihadapkan pada ancaman baru yang berpotensi memengaruhi keamanan aset digital dalam beberapa tahun mendatang.

Ancaman tersebut datang dari perkembangan quantum computing atau komputer kuantum yang dinilai mampu membobol sistem enkripsi yang selama ini menjadi fondasi blockchain.

Jika blockchain belum sempat beradaptasi, aset kripto seperti Bitcoin berisiko menjadi sasaran serangan siber yang lebih canggih.

Mengutip laporan Reuters pada Rabu (8/7), nilai pasar aset kripto global saat ini mencapai sekitar US$2 triliun atau sekitar Rp36.120 triliun (kurs Rp18.060 per dolar AS), sehingga potensi dampaknya dinilai tidak bisa dianggap sepele.

Baca Juga: Minat Investor Membludak, Penawaran Saham SK Hynix Oversubscribed 7 Kali

Google Percepat Kekhawatiran Industri Kripto

Google memperkirakan komputer kuantum yang mampu membobol sistem enkripsi bisa hadir pada 2029, lebih cepat dibanding estimasi lama yang menyebut teknologi tersebut masih berjarak lebih dari satu dekade.

Laporan Citigroup juga menyebut perkembangan quantum computing, ditambah kemajuan kecerdasan buatan (AI), memperpendek waktu yang dibutuhkan hingga aset kripto menjadi rentan terhadap serangan peretas.

Sebagai respons, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bulan lalu menerbitkan perintah eksekutif untuk memperkuat pengembangan teknologi komputer kuantum di negaranya.

Baca Juga: Bitcoin-Ethereum Kehilangan Momentum, Citi Turunkan Proyeksi 12 Bulan

Bitcoin Dinilai Paling Rentan

Sebagian besar blockchain, termasuk Bitcoin, masih menggunakan sistem kriptografi berbasis elliptic curve cryptography (ECC) yang telah digunakan selama puluhan tahun.

Teknologi tersebut saat ini masih aman dari komputer konvensional. Namun, komputer kuantum yang jauh lebih kuat secara teori mampu menghitung private key dari public key, sehingga membuka peluang bagi peretas untuk mengambil alih aset digital.

Risiko tersebut dinilai lebih besar pada blockchain publik seperti Bitcoin karena seluruh riwayat transaksinya bersifat terbuka dan permanen.

Penelitian yang belum dipublikasikan pada Juni 2026 memperkirakan sekitar 35% Bitcoin yang beredar berpotensi terdampak jika komputer kuantum mampu memecahkan sistem enkripsinya.

Penelitian lain bahkan memperkirakan angkanya bisa mencapai 50%.

Cristiano Ventricelli, Vice President dan Senior Analyst Digital Assets di Moody's Ratings, mengatakan satu insiden pencurian aset kripto dalam jumlah besar saja dapat memicu aksi jual besar-besaran.

Baca Juga: Trump Raup Pendapatan US$ 1,4 Miliar pada 2025, Mayoritas Berasal dari Bisnis Kripto

Industri Kripto Mulai Bersiap

Mayoritas pengembang blockchain memperkirakan masih ada waktu beberapa tahun sebelum komputer kuantum benar-benar mampu membobol jaringan kripto.

Waktu tersebut diharapkan cukup untuk melakukan migrasi menuju sistem enkripsi baru yang lebih tahan terhadap serangan komputer kuantum atau post-quantum cryptography.

Hingga saat ini, belum ada satu pun blockchain dalam daftar 20 terbesar di dunia yang sepenuhnya menerapkan algoritma tanda tangan digital tahan komputer kuantum.

Di sisi lain, pengembang Ethereum menargetkan perlindungan penuh terhadap ancaman quantum computing pada 2029.

Sementara Algorand menjadi salah satu proyek blockchain yang lebih cepat bergerak dengan merilis peta jalan (roadmap) post-quantum dan berencana mulai mendukung akun berbasis teknologi tersebut tahun ini.

Baca Juga: Produk Kripto Baru AS Dikritik Keras, Bos CME Sebut Bisa Jadi Bencana

Apa Artinya bagi Investor?

Dalam jangka pendek, ancaman quantum computing memang belum diperkirakan memengaruhi harga Bitcoin maupun aset kripto lainnya secara langsung.

Namun, bagi investor jangka panjang, perkembangan teknologi ini layak dipantau karena dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keamanan jaringan blockchain di masa depan.

Apabila pengembang blockchain mampu melakukan transisi menuju sistem enkripsi baru sebelum komputer kuantum benar-benar matang, risiko tersebut dapat diminimalkan.

Sebaliknya, jika perkembangan komputer kuantum berlangsung lebih cepat dari perkiraan, industri kripto berpotensi menghadapi tantangan keamanan terbesar sejak Bitcoin pertama kali diluncurkan.

Baca Juga: Ribuan Investor Gugat Binance, Apa Itu Derivatif Kripto yang Dipersoalkan?




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×