Sumber: Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga emas dan perak melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah, seiring reli besar di pasar logam mulia setelah Departemen Kehakiman AS (DOJ) mengancam Federal Reserve dengan dakwaan pidana. Situasi ini kembali memunculkan kekhawatiran soal independensi bank sentral AS.
Bloomberg melaporkan, harga emas sempat menembus US$ 4.600 per ons, sementara perak melampaui US$ 86 per ons. Lonjakan ini terjadi setelah Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan potensi dakwaan tersebut muncul di tengah “ancaman dan tekanan berkelanjutan” dari pemerintah untuk memengaruhi kebijakan suku bunga.
Informasi saja, harga perak melonjak hingga 8% pada Senin, menyentuh US$86,25 per ons, rekor tertinggi baru.
Tahun lalu, harga perak sudah melonjak hampir 150%, sebagian dipicu oleh fenomena short squeeze besar-besaran.
Di saat yang sama, dolar AS melemah dan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik tipis.
Saham perusahaan tambang ikut menguat. Saham Hochschild Mining Plc melonjak hingga 9,6%, sementara Industrias Peñoles, perusahaan tambang perak, naik sampai 12%.
Baca Juga: Geger! Jerome Powell Diteror: Ancaman Dakwaan Pidana The Fed Dibongkar
Faktor pendongkrak harga emas dan perak
Ada sejumlah faktor yang mendongkrak harga emas dan perak.
Serangan berulang pemerintahan Trump terhadap The Fed menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga emas dan perak terus mencetak rekor sejak tahun lalu, dan faktor ini diperkirakan masih akan berlanjut. Jika kemampuan The Fed untuk mengendalikan inflasi melemah, dolar dan obligasi AS berpotensi tertekan, sehingga membuat logam mulia makin menarik sebagai penyimpan nilai.
Risiko yang dinilai lebih besar bagi The Fed akan muncul pada 21 Januari, saat Mahkamah Agung AS mendengarkan argumen lisan dalam kasus terhadap Gubernur The Fed Lisa Cook, menurut analis Wells Fargo. Jika pengadilan berpihak pada pemerintahan Trump, yang sebelumnya berupaya memecat Cook, dolar AS berpotensi turun hingga 2%. Kondisi ini dinilai positif bagi harga emas karena diperdagangkan dalam dolar.
“Kami melihat meningkatnya campur tangan terhadap The Fed sebagai faktor tak terduga yang sangat mendukung harga logam mulia pada 2026,” kata Carsten Menke dari Julius Baer.
Ia menambahkan, pasar perak yang lebih kecil membuat harganya lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga dan nilai dolar.
Kenaikan harga logam mulia didorong oleh berbagai faktor sekaligus: penurunan suku bunga AS, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta persepsi bahwa AS akan melonggarkan upaya pengendalian inflasi.
Baca Juga: Nestlé Tarik Produk Bayi di Negara Lain, Cek Stok Anda di Malaysia
Lebih dari selusin manajer investasi mengatakan mereka memilih tetap mempertahankan kepemilikan emas, karena yakin daya tarik jangka panjangnya masih kuat.
“Potensi dakwaan terhadap The Fed menjadi pengingat bahwa pasar sedang menghadapi banyak ketidakpastian, mulai dari geopolitik, perdebatan soal pertumbuhan dan suku bunga, hingga risiko institusional baru,” kata Charu Chanana dari Saxo Markets di Singapura.
Kerusuhan mematikan di Iran juga menambah ketidakpastian, terutama terkait kemungkinan keterlibatan kembali AS di kawasan tersebut, menurut analis City Index Fawad Razaqzada.
Presiden Trump pada Minggu mengatakan tengah mempertimbangkan berbagai opsi terkait Iran. Ia juga kembali mengancam akan mengambil alih Greenland dan mempertanyakan manfaat aliansi NATO, hanya berselang sedikit lebih dari sepekan setelah menyita pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.
Sementara itu, Mahkamah Agung AS menjadwalkan Rabu sebagai hari potensial berikutnya untuk mengumumkan putusan terkait tarif Trump. Jika tarif tersebut dibatalkan, itu akan menjadi pukulan besar bagi kebijakan ekonomi andalannya sekaligus kekalahan hukum terbesarnya sejak kembali menjabat presiden.
Tonton: CEO Exxon Sebut Venezuela Tak Layak Investasi, Trump Meradang
Pelaku pasar juga menanti hasil penyelidikan Section 232, yang berpotensi berujung pada pengenaan tarif AS atas perak, platinum, dan paladium.













