Sumber: Yahoo Finance | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Tahun ini bisa menjadi periode “jobless recovery”. Apa itu? Yakni, pemulihan ekonomi tanpa diiringi penciptaan lapangan kerja yang berarti.
Peringatan itu disampaikan tim ekonom Goldman Sachs dalam catatan terbaru kepada klien mereka.
“Kami melihat kemungkinan terjadinya fase pertumbuhan ekonomi tanpa pertumbuhan lapangan kerja, mirip dengan ‘jobless recovery’ pada awal 2000-an, sebagai salah satu skenario yang masuk akal,” ujar Kepala Ekonom AS Goldman Sachs, David Mericle.
Melansir Yahoo Finance, Mericle menjabarkan, ada sejumlah faktor yang berpotensi menahan pemulihan pasar tenaga kerja tahun ini. Di antaranya, titik awal pertumbuhan lapangan kerja yang sudah lemah, jumlah lowongan kerja yang terus menurun secara perlahan, serta semakin banyak perusahaan yang membicarakan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan antusias memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menekan biaya tenaga kerja.
Ia bahkan menggambarkan kondisi pasar tenaga kerja pada 2026 berpotensi berada dalam situasi yang “rapuh”.
“Keyakinan terkuat kami untuk 2026 adalah proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih tinggi dari konsensus dan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan pasar,” kata Mericle. “Namun, prospek pasar tenaga kerja jauh lebih tidak pasti. Kami memperkirakan akan stabil, tetapi risiko utamanya adalah kemungkinan pelemahan lanjutan sepanjang 2026.”
Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Jepang Tenor 20 Tahun Cetak Rekor Tertinggi
Data ketenagakerjaan terbaru semakin memperkuat kekhawatiran Goldman Sachs.
Laporan ketenagakerjaan bulan Desember menunjukkan hanya 50.000 lapangan kerja baru yang tercipta, jauh di bawah perkiraan pasar sebanyak 70.000. Selain itu, data Oktober dan November direvisi turun sebanyak 76.000 pekerjaan.
Dalam 12 bulan terakhir, pasar tenaga kerja AS hanya menambah 584.000 pekerjaan, laju pertumbuhan paling lambat sejak 2020. Sebagai perbandingan, sepanjang 2024 perusahaan menciptakan lebih dari 2 juta pekerjaan.
Jumlah orang yang terpaksa bekerja paruh waktu karena tidak mendapatkan pekerjaan penuh waktu juga meningkat.
Sebagian besar penambahan tenaga kerja pada Desember terjadi di sektor kesehatan, sementara sektor lain seperti ritel masih lesu. Industri manufaktur, yang terdampak kebijakan tarif pemerintahan Trump, kehilangan 68.000 pekerjaan dalam setahun terakhir.
Baca Juga: Nasib Samsung dan Micron Terancam: SK Hynix Perkuat Monopoli Chip AI













