Sumber: Yahoo Finance | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Di sisi lain, Wall Street justru memproyeksikan tahun yang sangat cerah bagi laba perusahaan, dengan asumsi hampir semua faktor berjalan positif, mulai dari ekonomi, produktivitas AI, hingga kondisi geopolitik.
Berdasarkan data FactSet, laba perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh dua digit di setiap kuartal sepanjang 2026. Pertumbuhan tertinggi diproyeksikan terjadi pada kuartal keempat sebesar 18,1%, sementara secara tahunan laba diperkirakan naik 15%.
Target indeks S&P 500 versi analis bottom-up bahkan dipatok di level 8.010, atau sekitar 18% lebih tinggi dari posisi saat ini.
Namun, skenario “pemulihan tanpa lapangan kerja” yang diperingatkan Mericle berpotensi merusak optimisme pasar, meskipun bank sentral AS kembali memangkas suku bunga.
“Kami masih melihat kondisi pasar tenaga kerja seperti zona Goldilocks, cukup baik untuk membenarkan kebijakan suku bunga The Fed sejauh ini. Suku bunga kecil kemungkinan naik, bahkan bisa turun. Tapi risikonya ada di kedua sisi,” kata Tim Urbanowicz, Kepala Strategi Investasi Innovator Capital Management, kepada Yahoo Finance.
Tonton: Kemkomdigi Blokir Grok AI, Kenapa Platform X Harus Bertanggung Jawab?
“Jika pertumbuhan ekonomi ini melaju terlalu kencang, salah satu risiko terbesar bagi pasar adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun,” ujarnya. “Sebaliknya, jika kita mulai melihat pekerjaan digantikan oleh AI dalam skala besar, itu juga akan menjadi masalah serius.”













