Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt tidak memberikan banyak informasi baru terkait status negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Namun pada Rabu (25/3/2026), ia memperingatkan bahwa Presiden AS Donald Trump siap “melepaskan kekuatan penuh” jika Teheran menolak mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
“Preferensi presiden selalu adalah perdamaian. Tidak perlu ada lagi kematian dan kehancuran,” ujar Leavitt kepada wartawan dalam konferensi pers seperti yang dilansir ABC News.
“Namun, jika Iran gagal menerima realitas saat ini, jika mereka tidak memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer dan akan terus demikian, Presiden Trump akan memastikan mereka dihantam lebih keras daripada sebelumnya,” lanjutnya.
Dia menambahkan, “Presiden Trump tidak menggertak, dan ia siap melepaskan kekuatan penuh. Iran tidak boleh salah perhitungan lagi.”
Pemerintahan Trump telah mengirimkan proposal perdamaian 15 poin kepada Iran melalui Pakistan, menurut sumber kepada ABC News. Namun, media Iran Press TV mengutip seorang pejabat yang menyatakan bahwa Iran menolak proposal tersebut, dan para pejabat di Teheran secara terbuka menyangkal adanya pembicaraan.
Meski demikian, Leavitt bersikeras pada Rabu bahwa negosiasi masih berlangsung dan menyebutnya “produktif”, meskipun ia menghindari pertanyaan wartawan terkait detail pembahasan, siapa yang mewakili Iran, serta apakah akan ada pertemuan langsung dalam waktu dekat.
Saat ditanya apakah pembicaraan telah menemui jalan buntu, Leavitt dengan tegas membantah: “Tidak.”
Baca Juga: Trump ke China Mei Setelah 8 Tahun: Apakah Xi Jinping Siap Beri Sambutan?
Leavitt juga menghindari pertanyaan mengenai “hadiah besar” yang disebut Trump diberikan Iran kepada AS pada Selasa. Trump tidak menjelaskan apa hadiah tersebut, namun mengatakan hal itu terkait minyak dan arus pengiriman melalui Selat Hormuz yang krusial.
Ketika ditanya apakah hadiah itu berupa kapal yang membawa 2 juta barel minyak yang berhasil melintasi selat pada Selasa, Leavitt tidak mengonfirmasi maupun membantah, dan hanya berkata: “Saya akan membiarkan presiden menjelaskannya pada waktu yang tepat.”
Trump sebelumnya mengatakan bahwa hadiah dari Iran itu menjadi sinyal bahwa AS “berurusan dengan pihak yang tepat” dan bahwa Teheran “akan membuat kesepakatan.”
Presiden juga menyatakan bahwa perubahan rezim di Iran telah terjadi, setelah banyak pemimpin seniornya tewas dalam serangan AS dan Israel.
Saat ditanya apakah pemerintahan puas dengan kepemimpinan baru di Iran, Leavitt menjawab: “Masih terlalu dini untuk mengatakan.”
Baca Juga: Setelah Tertunda, Donald Trump Akan Bertemu Xi Jinping di Beijing pada Mei 2026













