kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   7.000   0,25%
  • USD/IDR 16.902   0,00   0,00%
  • IDX 7.302   195,28   2,75%
  • KOMPAS100 1.013   35,14   3,59%
  • LQ45 746   24,04   3,33%
  • ISSI 258   9,10   3,66%
  • IDX30 407   13,79   3,51%
  • IDXHIDIV20 510   21,50   4,40%
  • IDX80 114   3,88   3,53%
  • IDXV30 138   3,76   2,79%
  • IDXQ30 133   5,61   4,40%

Trump ke China Mei Setelah 8 Tahun: Apakah Xi Jinping Siap Beri Sambutan?


Kamis, 26 Maret 2026 / 06:34 WIB
Trump ke China Mei Setelah 8 Tahun: Apakah Xi Jinping Siap Beri Sambutan?
ILUSTRASI. Trump akan kembali ke China setelah 8 tahun. Namun, agenda sensitif seperti Taiwan dan Iran bisa mengubah arah pembicaraan mereka. (REUTERS/Evan Vucci)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan bertemu Presiden China Xi Jinping pada Mei dalam kunjungan pertamanya ke China dalam delapan tahun terakhir. Ini akan menjadi sebuah perjalanan penting yang sempat ditunda akibat perang Iran yang sedang berlangsung.

Reuters melaporkan, upaya Trump untuk menjadwalkan ulang kunjungan tersebut mencerminkan keinginannya untuk menunjukkan kepercayaan diri di tengah perang di Timur Tengah, sekaligus mengelola hubungan yang tegang antara dua ekonomi terbesar dunia.

Menurut unggahan di Truth Social pada Rabu, awalnya dijadwalkan berangkat pekan depan, Trump kini akan mengunjungi Beijing pada 14 dan 15 Mei. Trump juga menambahkan bahwa ia akan menjamu Xi dalam kunjungan balasan di Washington akhir tahun ini.

"Perwakilan kami sedang merampungkan persiapan untuk kunjungan bersejarah ini," kata Trump. "Saya sangat menantikan untuk menghabiskan waktu bersama Presiden Xi dalam apa yang saya yakini akan menjadi peristiwa monumental."

Kedutaan Besar China menyatakan tidak memiliki informasi yang dapat disampaikan terkait pengumuman kunjungan tersebut. Beijing biasanya tidak mengungkap jadwal Xi jauh-jauh hari.

Kunjungan yang telah lama direncanakan ini, serta upaya Washington untuk mereset hubungan di kawasan Asia Pasifik, berulang kali terganggu oleh berbagai peristiwa.

Baca Juga: Iran Kaji Proposal AS, Tapi Tidak Tertarik Negosiasi Akhiri Konflik

Pada Februari, Mahkamah Agung AS membatasi kewenangan presiden dalam mengenakan tarif, yang sebelumnya menjadi alat tawar Trump dalam negosiasi dengan mitra dagang terbesar ketiga AS. 

Di akhir bulan yang sama, operasi militer gabungan Trump dengan Israel terhadap Iran menambah ketegangan baru dengan Beijing, yang merupakan pembeli utama minyak Iran.

Kunjungan terakhir Trump ke China pada 2017 merupakan yang terakhir dilakukan oleh presiden AS. Pertemuan pada Mei nanti akan menjadi pembicaraan tatap muka pertama kedua pemimpin sejak pertemuan di Korea Selatan pada Oktober, ketika mereka menyepakati gencatan perang dagang.

Gedung Putih sebut Xi Memahami Penundaan

Kunjungan dua hari ini diperkirakan akan menggabungkan kemegahan seremoni khas perjalanan luar negeri Trump dengan diplomasi yang keras.

Kedua pihak mungkin akan mencapai kesepakatan yang mencerminkan niat baik, seperti dalam perdagangan pertanian dan suku cadang pesawat. Namun, mereka juga diperkirakan akan membahas isu-isu sensitif seperti Taiwan, yang kecil kemungkinan menghasilkan kemajuan signifikan.

Trump secara signifikan meningkatkan penjualan senjata AS ke Taiwan selama masa jabatan keduanya. Langkah ini memicu kemarahan Beijing, yang mengklaim pulau yang memiliki pemerintahan demokratis tersebut sebagai wilayahnya.

Belum jelas pula apakah perang dengan Iran, yang mengguncang ekonomi global, akan mereda sebelum pertemuan Trump dan Xi berlangsung.

Trump berupaya mendapatkan dukungan dari negara-negara konsumen minyak utama dunia, termasuk China, untuk membantu menghadapi upaya Iran menutup Selat Hormuz.

Namun, permintaan tersebut sejauh ini sebagian besar ditolak. China, yang mengimpor sekitar 12 juta barel minyak per hari dalam dua bulan pertama 2026, tertinggi di dunia, belum memberikan respons langsung terhadap permintaan itu.

Tonton: Iran Ancam Serang Kapal Induk USS Abraham Lincoln

Saat ditanya apakah perang bisa mereda sebelum kunjungan ke China, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan pada Rabu bahwa "kami selalu memperkirakan sekitar empat hingga enam minggu. Anda bisa menghitungnya sendiri."

Leavitt juga mengatakan bahwa Trump dan Xi telah membahas penjadwalan ulang kunjungan tersebut, dan Xi memahami alasan di balik keputusan itu.

"Presiden Xi memahami bahwa sangat penting bagi presiden untuk tetap berada di sini selama operasi militer ini berlangsung," ujarnya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×