Antisipasi Dampak Sanksi Barat, Rusia Beri Tambahan Stimulus Hingga US$ 9,5 Miliar

Jumat, 10 Juni 2022 | 13:57 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Antisipasi Dampak Sanksi Barat, Rusia Beri Tambahan Stimulus Hingga US$ 9,5 Miliar

ILUSTRASI. Presiden Rusia Vladimir Putin. Sputnik/Alexey Nikolsky/Kremlin via REUTERS


KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Mengantisipasi dampak sanksi barat, Rusia menggelontorkan dana besar untuk melindungi perekonomian nasional. Tak tanggung-tanggung, Rusia menyuntikkan tambahan dana darurat hingga US$ 9,5 miliar atau setara Rp 138,35 triliun. 

"Dana tersebut akan digunakan sebagian untuk melaksanakan langkah-langkah stimulus yang bertujuan untuk memastikan stabilitas pembangunan ekonomi di tengah kendala eksternal," kata pemerintah Rusia dikutip dari Reuters, Jumat (10/6). 

Peningkatan cadangan datang berkat keuntungan ekstra yang dihasilkan dari ekspor minyak dan gas Rusia. Bisnis ini yang menghasilkan ratusan juta dolar per hari dan masuk ke anggaran negara walaupun mereka hadapi sanksi Barat.

Negara-negara Barat telah memukul Rusia dengan paket sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk membekukan sekitar setengah atau US$ 300 miliar cadangan emas dan mata uang asing bank sentral setelah Moskow mengirim puluhan ribu tentara ke Ukraina pada 24 Februari yang disebut sebagai operasi militer khusus.

Baca Juga: Pasukan Ukraina yang Pertahankan Sievierodonetsk Maju ke Selatan

Rusia sebelumnya mengarahkan keuntungan minyak dan gas ke dalam kekayaan negara senilai US$ 198 miliar. Ini merupakan sebuah peti perang yang dimaksudkan untuk mendanai proyek-proyek investasi besar.

Dana darurat tersebut berbentuk uang kas sehingga dinilai lebih fleksibel dan memungkinkan pemerintah untuk menutup defisit negara. Kemudian mendukung pengeluaran sosial seperti kenaikan dana darurat untuk pensiunan dan menghadapi potensi krisis ekonomi. 

Pemerintah menambahkan 791,6 miliar rubel atau setara US$ 13,56 miliar pada pos dana yang sama Mei lalu. 

Rusia siap menghadapi resesi terbesar lebih dari dua dekade karena menghadapi disintegrasi secara penuh sejak 30 tahun masa investasi yang dapat menghapus keuntungan ekonomi selama 15 tahun.

Kremlin telah mulai mengerahkan sumber dayanya untuk mendukung bisnis terbesar di negara itu dalam upaya untuk meringankan krisis ekonomi dan telah melihat inflasi naik ke level tertinggi dalam dua dekade dan akan melihat pendapatan rumah tangga juga jatuh dalam beberapa bulan mendatang.

Baca Juga: 60 Kapal Perang dan 40 Pesawat Tempur Rusia Memulai Latihan di Laut Baltik

Pada bulan Mei, pemerintah telah menyuntikkan US$ 4 miliar ke Russian Railways, perusahaan terbesar di negara itu, dan telah menjanjikan stimulus sebesar US$ 1,75 miliar untuk maskapai milik negara Aeroflot.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru