60 Kapal Perang dan 40 Pesawat Tempur Rusia Memulai Latihan di Laut Baltik

Jumat, 10 Juni 2022 | 06:10 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
60 Kapal Perang dan 40 Pesawat Tempur Rusia Memulai Latihan di Laut Baltik

ILUSTRASI. Pada Kamis (9/6/2022), puluhan kapal Rusia ambil bagian dalam latihan militer di Laut Baltik yang strategis. REUTERS/Yoruk Isik


KONTAN.CO.ID - Pada Kamis (9/6/2022), puluhan kapal Rusia ambil bagian dalam latihan militer di Laut Baltik yang strategis setelah Swedia dan Finlandia baru-baru ini mengumumkan tawaran untuk bergabung dengan NATO.

Melansir AFP, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kapal-kapal armada Baltiknya, akan melakukan tugas-tugas pelatihan untuk pertahanan jalur laut dan pangkalan armada.

Disebutkan bahwa 60 kapal dan 40 pesawat mengambil bagian dalam manuver yang juga akan berlangsung di darat di tempat pelatihan di daerah kantong Rusia Kaliningrad.

Latihan angkatan laut itu dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara Moskow dan NATO, setelah Swedia dan Finlandia mengajukan tawaran mereka untuk bergabung dengan aliansi yang dipimpin AS setelah dimulainya kampanye militer Rusia di Ukraina.

Jika keanggotaan mereka —yang saat ini diblokir oleh Turki— disetujui, Rusia akan menjadi satu-satunya negara non-NATO di Laut Baltik.

Baca Juga: Ukraina: Pertempuran di Sievierodonetsk Paling Brutal Sepanjang Perang dengan Rusia

Sebagai tanda dukungan untuk Finlandia dan keanggotaan NATO Swedia, Kepala Staf AS Jenderal Mark Milley berada di Stockholm pada hari Sabtu di atas USS Kearsage, menjadikannya kapal perang AS terbesar yang pernah berlabuh di Stockholm.

Kunjungannya dilakukan saat NATO melakukan latihan angkatan laut tahunan di Laut Baltik yang disebut "Baltop 22" yang akan berlanjut hingga 17 Juni.

Sebelumnya diberitakan, mengutip Reuters, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan Barat bahwa Rusia akan menanggapi jika NATO mulai memperkuat infrastruktur militer Swedia dan Finlandia. 

Putin telah berulang kali mengutip perluasan aliansi NATO pasca-Soviet ke arah timur menuju perbatasan Rusia sebagai alasan konflik Ukraina.

Berbicara kepada para pemimpin aliansi militer yang didominasi Rusia dari negara-negara bekas Soviet, Putin mengatakan perluasan NATO digunakan oleh Amerika Serikat dengan cara "agresif" untuk memperburuk situasi keamanan global yang sudah sulit. 

Baca Juga: Rusia: Tak Ada Kesepakatan yang Telah Dicapai Untuk Jual Gandum dari Ukraina ke Turki

Rusia, kata Putin, tidak memiliki masalah dengan Finlandia atau Swedia, sehingga tidak ada ancaman langsung dari perluasan NATO yang mencakup negara-negara tersebut. 

"Tetapi perluasan infrastruktur militer ke wilayah ini tentu akan memancing tanggapan kami," kata Putin kepada para pemimpin Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif, yang meliputi Belarus, Armenia, Kazakhstan, Kirgistan, dan Tajikistan. 

"Apa (respons) itu - kita akan melihat ancaman apa yang diciptakan untuk kita. Masalah diciptakan tanpa alasan sama sekali. Kami akan bereaksi sesuai dengan itu," kata Putin di Istana Grand Kremlin. 

 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru