Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Produsen otomotif Jepang Honda Motor Co. memperingatkan potensi kerugian pada tahun buku berjalan setelah perusahaan memutuskan melakukan restrukturisasi besar-besaran pada bisnis kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Langkah tersebut diperkirakan menelan biaya hingga US$15,7 miliar dalam beberapa tahun ke depan.
Keputusan ini menjadikan Honda sebagai salah satu produsen mobil terbaru yang menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan kendaraan listrik di sejumlah pasar utama dunia.
Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, pemerintah Amerika Serikat telah menghentikan berbagai bentuk dukungan terhadap kendaraan listrik. Kebijakan ini memaksa sejumlah produsen otomotif global, termasuk Ford Motor dan Stellantis, untuk meninjau ulang strategi mereka dalam pengembangan kendaraan berbasis baterai.
Honda, yang merupakan produsen mobil terbesar kedua di Jepang, menyatakan akan menanggung beban restrukturisasi bisnis EV sekitar 2,5 triliun yen atau setara US$15,7 miliar dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: Perang AS–Israel vs Iran Picu Lonjakan Biaya Logistik, Ekspor Beras India Melambat
CEO Honda Toshihiro Mibe mengatakan dalam konferensi pers bahwa perusahaan akan membatalkan pengembangan sejumlah model kendaraan listrik yang sebelumnya direncanakan. Sebagai gantinya, Honda akan meningkatkan fokus pada pengembangan kendaraan hybrid, yang permintaannya meningkat pesat di Amerika Serikat dan sejumlah pasar global lainnya.
Akibat langkah restrukturisasi tersebut, Honda kini memperkirakan akan mencatat kerugian hingga 570 miliar yen (sekitar US$3,6 miliar) untuk tahun buku yang berakhir pada Maret mendatang. Sebelumnya, perusahaan memperkirakan masih mampu mencatat laba sebesar 550 miliar yen.
Sebagai bentuk tanggung jawab manajemen, Mibe bersama Wakil Presiden Eksekutif Noriya Kaihara secara sukarela akan memangkas 30% dari kompensasi mereka selama tiga bulan. Sementara itu, sejumlah eksekutif lain akan mengurangi kompensasi sebesar 20% dalam periode yang sama.
Ke depan, Honda berencana mengumumkan strategi bisnis jangka menengah hingga panjang yang telah diperbarui pada tahun fiskal berikutnya. Langkah ini diharapkan dapat menyesuaikan arah investasi perusahaan dengan dinamika pasar otomotif global, khususnya terkait transisi menuju elektrifikasi kendaraan.













