Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Perusahaan energi raksasa Arab Saudi, Saudi Aramco, kembali melakukan pengangkutan minyak mentah pada Jumat dari terminal Ras Tanura setelah penghentian hampir empat bulan, menurut data pelayaran. Langkah ini menandai kembalinya salah satu eksportir minyak terbesar dunia ke jalur pengiriman utama di kawasan tersebut, di tengah harapan industri akan pulihnya stabilitas perdagangan energi.
Pengiriman minyak Saudi ini terjadi meskipun sebuah kapal milik Evergreen Marine asal Taiwan dilaporkan terkena benda tak dikenal di Selat Hormuz pada Kamis, yang kembali memicu kekhawatiran keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.
Produsen minyak Timur Tengah sebelumnya telah meningkatkan produksi dan ekspor menjelang kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan konflik dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Baca Juga: AS Kembali Serang Iran Jumat (26/6), Eskalasi Konflik Selat Hormuz Memanas
Data pelayaran menunjukkan dua kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) yang dioperasikan oleh armada pelayaran Saudi Bahri sedang memuat minyak di Ras Tanura, pelabuhan minyak terbesar di dunia. Satu VLCC lainnya sedang menuju terminal, sementara satu kapal lain menunggu di sekitar lokasi. Setiap VLCC mampu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak.
Saudi Aramco menolak memberikan komentar terkait aktivitas tersebut.
Badan maritim Inggris UKMTO menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz setelah insiden terbaru terhadap kapal kargo, yang kembali menimbulkan kekhawatiran apakah kesepakatan damai sementara antara Iran dan pihak lain dapat bertahan.
Dua pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa Iran menembakkan senjata ke arah kapal tersebut. Namun, otoritas Selat Teluk Persia Iran menyatakan bahwa kapal yang tidak mengikuti jalur yang telah ditetapkan tidak dijamin keamanannya saat melintasi selat.
Terminal Ras Tanura berada di pesisir timur Arab Saudi di Teluk dan terletak di sebelah barat Selat Hormuz. Sebelum konflik, terminal ini mengekspor lebih dari 5 juta barel per hari alias barel per day (Bpd) minyak mentah. Di lokasi yang sama juga terdapat kilang terbesar Arab Saudi dengan kapasitas 550.000 bpd, yang sempat dihentikan selama konflik sebagai langkah pencegahan.
Data LSEG menunjukkan Saudi Aramco terakhir mengirimkan kargo dari Ras Tanura ke China pada 8 Maret. Selama penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, ekspor Saudi dialihkan ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Konflik tersebut menyebabkan ekspor minyak Arab Saudi turun menjadi sekitar 4 juta bpd dalam tiga bulan terakhir, dari lebih 7 juta bpd pada Februari.
Harga minyak global turun lebih dari 1 dolar AS per barel pada Jumat, setelah sebelumnya sempat menguat akibat laporan serangan terhadap kapal kargo. Tekanan penurunan terjadi karena meningkatnya pasokan minyak melalui Selat Hormuz, yang kini mencapai level tertinggi sejak konflik dimulai.
Baca Juga: AS Sita 400 Domain Streaming Ilegal Piala Dunia FIFA, Libatkan Banyak Negara
Saudi Aramco juga berpotensi memangkas harga minyak untuk pengiriman Agustus dalam waktu dekat, seiring meningkatnya persaingan antarprodusen.
Perusahaan minyak negara Irak SOMO, serta Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab juga meningkatkan penawaran minyak mentah. Iran turut mempercepat ekspor setelah sanksi dari Washington sementara dilonggarkan. Dua kapal tanker VLCC kosong bernama Natsumi dan Halti juga dilaporkan memasuki Teluk untuk mengangkut minyak Iran.
Sementara itu, kapal tanker yang membawa minyak dari Uni Emirat Arab terus melintasi Selat Hormuz, dengan dua VLCC bermuatan keluar dari wilayah tersebut dan satu kapal menuju pelabuhan Zirku.
“Sebanyak 2 juta barel per hari kembali beroperasi hanya dalam tiga minggu, dan pemulihan terjadi di seluruh kawasan,” kata Aditya Saraswat, Direktur Riset MENA di Rystad Energy.
Ia menambahkan bahwa kondisi pasokan kini jelas membaik, dengan estimasi produksi yang sebelumnya terhenti di kawasan Teluk turun menjadi 9,6 juta bpd pada pertengahan Juni, dari 11,7 juta bpd tiga minggu sebelumnya. Rystad memperkirakan pemulihan penuh pasokan di kawasan tersebut akan terjadi pada akhir tahun.














