Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengatakan pada Rabu (4/3) bahwa Presiden AS Donald Trump pada akhirnya “tertawa terakhir” setelah militer AS berhasil menewaskan seorang pejabat Iran yang memimpin upaya pembunuhan terhadap dirinya.
Melansir Reuters, dalam pernyataannya, Hegseth menggunakan bahasa yang cukup keras untuk menggambarkan perang yang baru berlangsung empat hari antara Amerika Serikat dan Iran. Ia juga berulang kali menyebut nama Trump sambil menegaskan bahwa Pentagon mampu mempertahankan operasi militer selama diperlukan.
“Mereka sudah habis dan mereka tahu itu. Atau setidaknya sebentar lagi mereka akan menyadarinya,” ujar Hegseth, merujuk pada para pemimpin Iran. “Amerika sedang menang, secara tegas, menghancurkan, dan tanpa ampun.”
AS Sebut Iran Pernah Berupaya Bunuh Trump
Hegseth, yang tampil dengan dasi dan sapu tangan merah-putih-biru, menggambarkan kematian seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya secara cukup personal. Pejabat itu diketahui memimpin unit yang diduga berupaya membunuh Trump.
Meski demikian, Hegseth menegaskan bahwa tokoh tersebut bukan target utama sejak awal konflik.
“Iran mencoba membunuh Presiden Trump, dan Presiden Trump yang akhirnya tertawa terakhir,” kata Hegseth kepada wartawan.
Sebelumnya, pada 2024, Departemen Kehakiman AS mendakwa seorang pria Iran terkait dugaan rencana pembunuhan terhadap Trump yang disebut-sebut diperintahkan oleh Islamic Revolutionary Guard Corps. Saat itu, Trump masih berstatus presiden terpilih.
Baca Juga: Kilang Minyak Terbesar di Arab Saudi Jadi Sasaran Serangan Drone
Pemerintah Iran membantah tuduhan bahwa mereka menargetkan Trump maupun pejabat AS lainnya.
Trump juga sempat menyinggung dugaan rencana pembunuhan tersebut ketika berbicara mengenai operasi militer gabungan AS–Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Dalam wawancara dengan ABC News, Trump mengatakan, “Saya mendapatkannya sebelum dia mendapatkan saya.”
Namun Hegseth menyatakan bahwa Trump sebenarnya tidak pernah secara khusus meminta Pentagon untuk memburu pemimpin unit yang diduga merencanakan pembunuhan tersebut.
Menurutnya, pihak militer tetap memastikan orang-orang yang bertanggung jawab akhirnya masuk dalam daftar target operasi.
Serangan Militer AS Makin Dalam ke Wilayah Iran
Konflik juga semakin meluas setelah serangan Amerika Serikat menghantam kapal perang Iran di dekat Sri Lanka. Insiden ini memperparah krisis yang telah melumpuhkan aktivitas pelayaran di Strait of Hormuz, jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dari Timur Tengah.
Hegseth mengatakan Amerika Serikat dan Israel diperkirakan akan menguasai penuh wilayah udara Iran dalam beberapa hari ke depan.
Sementara itu, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyebut bahwa serangan militer AS kini semakin diperluas seiring upaya membangun dominasi udara di sepanjang pantai selatan Iran.
Baca Juga: Kapal Selam AS Tenggelamkan Fregat Iran di Lepas Pantai Sri Lanka, 80 Tewas
“Kami akan mulai memperluas operasi ke wilayah daratan dan menyerang semakin dalam ke wilayah Iran, sekaligus memberi ruang gerak lebih besar bagi pasukan AS,” kata Caine.
Ia juga mengklaim bahwa peluncuran rudal balistik Iran telah turun sekitar 86% sejak hari pertama perang. Sementara serangan drone sekali pakai dari Iran disebut turun sekitar 73% dibanding hari-hari awal konflik.
Dukungan Publik AS Terhadap Perang Terbelah
Presiden Trump sebelumnya menyatakan konflik dengan Iran bisa berlangsung hingga empat minggu. Namun sejumlah anggota parlemen AS dari kedua partai politik mengkritik pemerintah karena belum menjelaskan strategi jangka panjang setelah perang berakhir.
Strategi tersebut dinilai sebagian pihak hanya bergantung pada harapan bahwa rakyat Iran akan bangkit menentukan masa depan mereka sendiri setelah puluhan tahun mengalami penindasan.
Hegseth menegaskan bahwa militer AS mampu mempertahankan operasi militer selama dibutuhkan.
“Kami bisa mempertahankan pertempuran ini dengan mudah selama yang diperlukan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa satu-satunya batasan adalah tujuan yang ingin dicapai oleh Presiden Trump.
Namun survei Reuters dan Ipsos menunjukkan dukungan publik terhadap serangan AS ke Iran tidak terlalu kuat.
Tonton: Erdogan Turun Tangan! Turki Intensifkan Diplomasi di Tengah Perang Iran
Hanya sekitar satu dari empat warga Amerika yang menyetujui serangan tersebut, sementara hampir setengah responden menilai Trump terlalu mudah menggunakan kekuatan militer. Bahkan seperempat responden dari Partai Republik memiliki pandangan serupa.
Di Gedung Putih, Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengatakan bahwa pengerahan pasukan darat AS ke Iran saat ini belum menjadi bagian dari rencana operasi militer.
Meski demikian, ia menyatakan Trump yakin sebagian besar warga Amerika tetap mendukung serangan militer tersebut.













