Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Chief Executive Officer (CEO) JPMorgan Chase, Jamie Dimon, memperingatkan rencana pembatasan suku bunga kartu kredit di Amerika Serikat (AS) berpotensi memicu dampak serius bagi perekonomian.
Menurutnya, kebijakan tersebut justru akan menghambat akses kredit bagi mayoritas masyarakat.
Berbicara dalam forum World Economic Forum (WEF) di Davos, Rabu (21/1/2026), Dimon menilai usulan pembatasan bunga kartu kredit maksimal 10% yang disampaikan Presiden AS Donald Trump sebagai kebijakan yang keliru.
Baca Juga: Trump Usul Batas Bunga Kartu Kredit 10%, Analis Nilai Sulit Disahkan
Ia menyebut dampaknya bisa sangat luas dan merugikan. “Sekitar 80% warga Amerika berisiko kehilangan akses ke kredit jika kebijakan ini diterapkan,” kata Dimon.
Trump sebelumnya mengusulkan pembatasan suku bunga kartu kredit awal bulan ini.
Namun, hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai mekanisme penerapan kebijakan tersebut.
Sejumlah analis Wall Street menilai, rencana itu membutuhkan payung undang-undang dan peluang untuk disetujui parlemen tergolong kecil.
Industri perbankan pun secara terbuka menolak wacana tersebut. Pelaku industri menilai pembatasan bunga akan menekan kemampuan bank dalam menyalurkan kredit, terutama kepada nasabah berisiko menengah dan rendah.
Baca Juga: Trump Serukan Pembatasan Bunga Kartu Kredit, Bank-Bank di Wall Steet Hadapi Ujian
Dimon menegaskan, dampak kebijakan ini tidak hanya dirasakan oleh penerbit kartu kredit, tetapi juga sektor ekonomi lainnya yang bergantung pada transaksi berbasis kredit.
“Pihak yang paling terdampak bukan perusahaan kartu kredit, melainkan restoran, peritel, perusahaan perjalanan, sekolah, hingga pemerintah daerah,” ujar Dimon.
Baca Juga: Donald Trump Minta Bunga Kartu Kredit Dibatasi 10% Per Tahun
Menurutnya, pembatasan bunga justru dapat mempersempit perputaran ekonomi karena konsumen kehilangan fleksibilitas pembiayaan. Hal ini berpotensi menekan konsumsi, investasi, dan aktivitas usaha secara luas.
JPMorgan Chase sendiri merupakan bank terbesar di Amerika Serikat, dengan bisnis kartu kredit sebagai salah satu pilar utamanya.
Pernyataan Dimon mencerminkan kekhawatiran industri keuangan terhadap kebijakan populis yang dinilai berisiko mengganggu stabilitas sistem kredit.













