kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   80.000   3,02%
  • USD/IDR 17.808   -59,00   -0,33%
  • IDX 6.467   72,92   1,14%
  • KOMPAS100 837   11,65   1,41%
  • LQ45 635   7,30   1,16%
  • ISSI 227   2,85   1,27%
  • IDX30 354   2,82   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,20   0,51%
  • IDX80 95   1,27   1,35%
  • IDXV30 119   0,36   0,30%
  • IDXQ30 112   0,77   0,69%

AS Gandakan Buyback Treasury, Yield Obligasi 30 Tahun Mulai Turun


Kamis, 20 Agustus 2026 / 08:20 WIB
AS Gandakan Buyback Treasury, Yield Obligasi 30 Tahun Mulai Turun
ILUSTRASI. Menteri Keuangan AS Scott Bessent (REUTERS/Leah Millis)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) menggandakan ukuran pembelian kembali atau buyback obligasi jangka panjang untuk meredam lonjakan imbal hasil (yield) Treasury yang telah mengguncang pasar keuangan global.

Melansir Reuters, kebijakan tersebut diumumkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Rabu (19/8/2026), setelah aksi jual besar-besaran di pasar obligasi mendorong yield Treasury 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007.

Baca Juga: Dolar Tertekan Dekati Level Terendah Tiga Bulan Kamis (20/8), Ini Pemicunya

Lonjakan yield terjadi di tengah kekhawatiran mengenai potensi eskalasi perang AS-Israel dengan Iran serta memburuknya kondisi fiskal AS. Total utang pemerintah AS yang beredar bahkan telah menembus US$ 40 triliun pada Rabu.

Kenaikan yield Treasury meningkatkan biaya pinjaman, baik bagi pemerintah, rumah tangga maupun perusahaan, sekaligus berpotensi menekan pasar keuangan secara lebih luas.

Departemen Keuangan AS akan meningkatkan nilai buyback surat utang Treasury tenor 10 tahun hingga 30 tahun menjadi sedikitnya US$ 4 miliar per operasi. Sebelumnya, nilai buyback yang direncanakan hanya US$ 2 miliar.

Kebijakan tersebut akan berlaku mulai 9 September hingga 4 November 2026, mencakup sektor Treasury tenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun.

"Menurut saya, langkah ini akan memberikan dampak besar pada tenor panjang," ujar Dan Gottlander, Global Head of USD and CAD Swaps Trading di Citi.

Namun, menurut dia, kebijakan tersebut juga berpotensi mendorong pemerintah AS menerbitkan lebih banyak surat utang jangka pendek.

"Ini jelas tidak mengubah defisit. Jika Anda membeli kembali obligasi tenor panjang, Anda tetap perlu menerbitkan surat utang," katanya.

Baca Juga: Misi Penyelamatan Teleskop NASA Gagal, Swift Akan Jatuh ke Atmosfer

Yield Treasury Turun

Pengumuman Departemen Keuangan AS langsung meredakan tekanan di pasar obligasi. Yield Treasury 30 tahun yang sempat mencapai 5,34%, level tertinggi dalam 19 tahun pada Selasa (18/8), turun menjadi sekitar 5,184%.

Sementara itu, yield Treasury 10 tahun turun sekitar 6 basis poin menjadi 4,66%.

Departemen Keuangan AS mengatakan, peningkatan ukuran buyback bertujuan memberikan dukungan likuiditas yang lebih besar pada surat utang tenor panjang.

Langkah tersebut dilakukan karena permintaan investor terhadap transaksi buyback obligasi tenor panjang dinilai cukup kuat.

Presiden AS Donald Trump juga berupaya meredakan kekhawatiran terhadap gejolak pasar obligasi.

Ketika ditanya apakah masyarakat AS perlu mengkhawatirkan volatilitas pasar obligasi, Trump menjawab, "Tidak, saya rasa tidak."

Analis DZ Bank Rene Albrecht menilai, pemerintah AS khawatir terhadap dampak yield Treasury yang menembus level 5% atau lebih.

"Saya pikir mereka khawatir terhadap dampak yield 5% atau lebih pada tenor panjang, bukan hanya karena meningkatkan biaya bunga pemerintah, tetapi juga sektor swasta," ujar Albrecht.

Menurutnya, tingginya yield dapat meningkatkan biaya pinjaman korporasi dan menjaga suku bunga hipotek tetap tinggi.

Baca Juga: Utang AS Naik Dua Kali Lipat Pada Pemerintahan Trump dan Biden, Lewati US$ 40 Triliun

Tak Menyelesaikan Masalah Fiskal

Meski mampu memberikan ruang bernapas bagi pasar obligasi, kebijakan buyback tersebut dinilai tidak menyelesaikan persoalan fundamental fiskal AS.

Evercore ISI menyebut, Bessent kembali menunjukkan pendekatan taktis sebagai Menteri Keuangan yang aktif dengan mengumumkan peningkatan buyback secara mengejutkan.

Namun, analis mempertanyakan seberapa besar dampaknya dalam jangka panjang karena pemerintah AS masih harus membiayai gelombang utang jatuh tempo dan defisit anggaran.

Thomas Simons, Chief U.S. Economist Jefferies menilai, pengumuman mendadak tersebut berbeda dengan tradisi Departemen Keuangan AS yang selama ini menekankan penerbitan utang secara "teratur dan dapat diprediksi".

Dari sisi skala, tambahan buyback sebesar US$ 2 miliar relatif kecil dibandingkan total pasar Treasury yang mencapai sekitar US$ 32,2 triliun.

Sementara itu, jumlah obligasi Treasury tenor 20 tahun dan 30 tahun yang beredar mencapai sekitar US$ 5,5 triliun per 31 Juli 2026.

Baca Juga: Putin: Serangan Ukraina ke Fasilitas Industri Tak Berdampak Besar

Departemen Keuangan AS telah melakukan pembelian kembali surat utang lama secara terjadwal selama dua tahun terakhir.

Langkah tersebut bertujuan meningkatkan likuiditas surat utang yang sudah tidak lagi menjadi penerbitan acuan atau off-the-run securities.

Dalam periode 6 Agustus hingga 5 November, Departemen Keuangan sebelumnya telah merencanakan pembelian kembali Treasury hingga US$ 69 miliar untuk seluruh tenor.

Dengan tambahan transaksi yang dijadwalkan, nilai maksimum buyback dapat mencapai sekitar US$ 83 miliar.

Chief Investment Officer Savvy Wealth Anshul Sharma mengatakan, kebijakan tersebut tidak mengatasi persoalan mendasar seperti defisit, inflasi maupun besarnya pasokan Treasury.

"Namun, ini memberi sedikit waktu dan, mungkin yang lebih penting, menunjukkan bahwa Departemen Keuangan memiliki instrumen yang tersedia dan bersedia menggunakannya ketika kondisi pasar membutuhkannya," ujar Sharma.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×