Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harapan terciptanya perdamaian jangka panjang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih dibayangi ketidakpastian.
Meski kedua negara telah menandatangani kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang, perbedaan pandangan mengenai inspeksi nuklir, pencairan aset Iran yang dibekukan, hingga pengaturan Selat Hormuz memunculkan tanda tanya besar atas keberlanjutan perjanjian tersebut.
Presiden AS Donald Trump pada Selasa (23/6) mengklaim Iran telah menyetujui inspeksi internasional terhadap fasilitas nuklirnya tanpa batas waktu.
Namun, Teheran langsung membantah pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa isu program nuklir tidak dibahas dalam putaran perundingan terakhir yang digelar di Swiss.
Perbedaan sikap ini menjadi sorotan utama karena isu nuklir merupakan salah satu agenda paling sensitif dalam hubungan kedua negara.
Baca Juga: Beda Pandangan Soal Sanksi, AS-Iran Lanjutkan Perundingan Nuklir
Kerangka kesepakatan yang diteken pekan lalu memang belum mengatur pembatasan program nuklir Iran dan memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan detailnya.
Selain soal nuklir, AS dan Iran juga memberikan versi berbeda terkait mekanisme penggunaan aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri. Trump menyatakan dana yang dicairkan nantinya akan digunakan untuk membeli kebutuhan pangan dan obat-obatan dari AS.
Sebaliknya, Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Ali Bahreini, menegaskan bahwa Iran akan menentukan sendiri penggunaan dana tersebut tanpa campur tangan Washington.
Meski masih diwarnai perbedaan, Trump menilai proses negosiasi berjalan positif. Ia menyebut hubungan kedua negara saat ini berlangsung cukup baik setelah putaran awal pembicaraan damai berakhir pada Senin (22/6).
Selat Hormuz Kembali Dibuka
Di tengah ketidakpastian politik, salah satu dampak langsung dari kesepakatan tersebut adalah kembali normalnya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan energi dunia.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui badan maritim internasionalnya saat ini tengah berupaya mengevakuasi sekitar 11.000 pelaut yang sempat terjebak akibat penutupan jalur tersebut selama konflik berlangsung.
Baca Juga: Negosiasi AS-Iran Buntu di Islamabad, Peluang Damai Masih Ada
Berdasarkan kesepakatan sementara, Iran sepakat menjamin kebebasan pelayaran selama 60 hari. Namun Teheran juga memberi sinyal dapat mengenakan tarif atau biaya tertentu terhadap kapal yang melintas setelah periode tersebut berakhir.
Iran dan Oman, negara yang menguasai sisi lain Selat Hormuz, dalam pernyataan bersama menegaskan hak kedaulatan mereka atas jalur pelayaran tersebut serta komitmen untuk mengelola lalu lintas kapal beserta biaya yang terkait.
Pernyataan itu memicu kekhawatiran sejumlah negara Teluk. Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Iran tidak akan diizinkan memungut tarif pelayaran sebagai bagian dari kesepakatan final.
Meredanya ketegangan di Timur Tengah ikut menekan harga minyak dunia. Harga minyak pada Rabu (24/6) kembali turun lebih dari 1% dan berada di level terendah sejak sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu.
Melihat penurunan harga minyak mentah, Trump mendesak perusahaan energi segera menurunkan harga bahan bakar di tingkat konsumen. Ia bahkan meminta Departemen Kehakiman AS menyelidiki perusahaan minyak yang dinilai lambat menyesuaikan harga.
Di dalam negeri, Trump juga menghadapi tekanan politik yang semakin besar. Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan 35% warga AS menilai posisi negaranya terhadap Iran justru lebih lemah dibandingkan sebelum perang, sementara hanya 23% yang merasa posisi AS semakin kuat.
Baca Juga: AS-Iran Berselisih Soal Inspeksi Nuklir dan Pembekuan Aset pada Kesepakatan Damai
Sentimen tersebut tercermin di Kongres. Senat AS yang dikuasai Partai Republik secara mengejutkan menyetujui resolusi untuk menghentikan keterlibatan militer AS dalam konflik dengan Iran dengan suara 50 berbanding 48.
Meski bersifat simbolis dan belum jelas dampaknya terhadap kebijakan perang, pemungutan suara tersebut menunjukkan mulai munculnya perpecahan di internal Partai Republik terkait konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Lebanon Masih Menjadi Titik Rawan
Kesepakatan damai juga mencakup penghentian konflik di Lebanon, namun implementasinya masih jauh dari kata mulus.
Iran menilai perjanjian mengharuskan Israel menarik pasukannya dari Lebanon.
Sebaliknya, Israel bersikeras mempertahankan zona keamanan di wilayah selatan Lebanon dan akan terus melakukan operasi untuk menghadapi ancaman terhadap warga maupun tentaranya.
Baca Juga: Perundingan Damai AS-Iran Gagal, Delegasi Tinggalkan Islamabad Tanpa Kesepakatan
Ketegangan pun masih terjadi di lapangan. Dua warga dilaporkan tewas akibat tembakan pasukan Israel di Lebanon selatan pada Selasa (23/6). Kelompok Hizbullah yang didukung Iran menuduh Israel telah melanggar gencatan senjata yang berlaku sejak akhir pekan lalu.
Rangkaian perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa meski perang telah dihentikan, jalan menuju perdamaian permanen antara AS dan Iran masih dipenuhi tantangan.
Isu nuklir, aset yang dibekukan, Selat Hormuz, dan konflik Lebanon berpotensi menjadi batu sandungan dalam negosiasi lanjutan selama dua bulan ke depan.













