Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Iran berpeluang membongkar dan mempelajari teknologi drone bawah laut militer Amerika Serikat (AS) yang berhasil mereka tangkap. Kondisi ini menjadi kemunduran bagi Pentagon sekaligus perusahaan pembuat drone, Anduril.
Drone tersebut merupakan Dive-LD, kendaraan bawah laut otonom atau autonomous underwater vehicle (AUV) yang dirancang untuk misi pengawasan jarak jauh dan operasi bawah laut lainnya.
Baca Juga: Penasihat Trump Bongkar Fakta Mengejutkan: Perang Iran Bisa Berlangsung hingga 2029
Melansir Reuters Kamis (10/9/2026), Dive-LD termasuk generasi baru drone militer yang dirancang dapat beroperasi selama berhari-hari dengan intervensi manusia yang sangat terbatas.
Meski militer AS dan Anduril mengecilkan arti penting jatuhnya drone tersebut ke tangan Iran, sejumlah analis menilai Teheran hampir pasti akan berusaha membongkar perangkat tersebut untuk mempelajari teknologi yang digunakan.
Bryan Clark, senior fellow sekaligus direktur Center for Defense Concepts and Technology di Hudson Institute, mengatakan Iran kemungkinan dapat melakukan rekayasa balik terhadap sistem mekanis drone.
"Iran tentu akan berupaya membongkar perangkat kerasnya," kata Clark.
Menurut dia, perangkat lunak Dive-LD memiliki sistem perlindungan yang dapat menyulitkan upaya Iran memperoleh seluruh teknologi di dalamnya. Namun, para insinyur Iran dinilai tetap mampu mempelajari sistem mekanis drone tersebut.
Iran memiliki rekam jejak dalam memanfaatkan teknologi militer AS yang berhasil mereka tangkap.
Baca Juga: Robot China Kalahkan Rekor Usain Bolt, Kini Siap Rebut Pekerjaan Manusia?
Pernah bongkar drone siluman AS
Salah satu kasus paling terkenal terjadi pada 2011 ketika Iran menangkap drone pengintai siluman AS, RQ-170 Sentinel.
Saat itu, Presiden AS Barack Obama secara terbuka meminta Iran mengembalikan pesawat tersebut.
Iran kemudian mengklaim telah melakukan rekayasa balik terhadap drone itu dan memperkenalkan sejumlah model produksi dalam negeri yang dinilai memiliki kemiripan dengan desain RQ-170.
Karena pengalaman tersebut, jatuhnya Dive-LD kembali menjadi perhatian bagi Washington.
Pada 2022, Angkatan Laut AS bahkan bergerak cepat untuk mencegah pasukan Iran menguasai teknologi maritim nirawak.
Kapal patroli Angkatan Laut AS dan helikopter MH-60S Seahawk dikerahkan setelah sebuah kapal Iran mencoba menarik kapal permukaan tanpa awak Saildrone di kawasan Teluk.
Para analis menilai Iran kemungkinan tidak akan memperoleh keunggulan militer yang menentukan hanya dari satu drone yang ditangkap.
Namun, insiden tersebut tetap menjadi kemenangan propaganda bagi Teheran sekaligus pukulan terhadap upaya Washington mempertahankan citra keunggulan teknologi militernya.
Baca Juga: Apple Tersalip Samsung Setelah 16 Tahun, Skor Brand Intimacy Anjlok
Iran jadikan bahan propaganda
Kedutaan Iran di sejumlah negara bahkan menggunakan insiden tersebut untuk mengejek AS.
Kedutaan Iran di Ghana melalui unggahan di X membanggakan keberhasilan mereka mengambil drone tersebut di kawasan Selat Hormuz.
Kedutaan Iran di Hyderabad juga menulis bahwa proses "unboxing" oleh tim rekayasa balik mereka akan segera dilakukan.
Farzin Nadimi, senior fellow di Washington Institute for Near East Policy mengatakan, Iran akan memanfaatkan insiden tersebut sebagai kemenangan propaganda.
Menurut dia, teknologi yang diperoleh juga berpotensi membantu Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengembangkan versi perangkat mereka sendiri.
"Iran akan memanfaatkan setiap kesempatan sebagai kemenangan propaganda," ujar Nadimi.
Mona Yacoubian, direktur program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies, menilai insiden tersebut memperlihatkan bagaimana Iran berupaya membentuk narasi bahwa AS tidak sepenuhnya mampu mengendalikan kawasan Selat Hormuz.
Baca Juga: Perang Iran-AS Makin Brutal, Harga Minyak Tembus US$ 100
Klaim berbeda soal kemampuan drone
Di sisi lain, Angkatan Laut AS berupaya meredam kekhawatiran terkait jatuhnya Dive-LD ke tangan Iran.
Kapten Tim Hawkins dari U.S. Central Command mengatakan drone tersebut merupakan model lama yang mengalami kerusakan.
Menurut dia, perangkat tersebut tidak mengumpulkan data sensitif serta tidak membawa sistem sonar atau radar rahasia.
Angkatan Laut AS menyebut drone itu ditinggalkan dalam kondisi tidak dapat beroperasi atau "dead in the water" sebelum akhirnya ditemukan dan dikuasai pasukan Iran.
Pernyataan tersebut berbeda dengan cara Anduril memasarkan Dive-LD. Perusahaan itu sebelumnya menyebut Dive-LD sebagai kendaraan bawah laut otonom berukuran besar yang sangat andal dan fleksibel, serta mampu beroperasi hingga 10 hari dalam kondisi berat.
Dive-LD juga digunakan sebagai kendaraan uji dalam pengembangan Ghost Shark, drone bawah laut berukuran besar milik Australia.
Baca Juga: Istri Presiden Pertama Indonesia Dituntut Hukuman Denda Rp 22,8 Juta, Cek Kasusnya!
Perbedaan narasi tersebut menunjukkan adanya persoalan lain di luar aspek keamanan teknologi, yakni bagaimana insiden tersebut dapat memengaruhi persepsi terhadap kemampuan sistem pertahanan nirawak AS.
Bagi Iran, drone yang berhasil ditangkap dapat menjadi alat propaganda sekaligus sumber teknologi.
Sementara bagi AS, insiden tersebut menjadi pengingat bahwa semakin banyak sistem militer otonom digunakan di medan konflik, semakin besar pula risiko teknologi tersebut jatuh ke tangan lawan.














