kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.951   -8,00   -0,04%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

AS Masukkan Alibaba, Baidu, dan BYD ke Daftar Hitam Korporasi Penyokong Militer China


Selasa, 09 Juni 2026 / 06:05 WIB
AS Masukkan Alibaba, Baidu, dan BYD ke Daftar Hitam Korporasi Penyokong Militer China
ILUSTRASI. Alibaba Group Umumkan Laporan Keuangan Kuartal yang Berakhir Desember 2019 (Dok/Alibaba)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara resmi merilis pembaruan daftar perusahaan China yang dinilai ikut menyokong dan membantu memperkuat militer Beijing pada hari Senin (8/6/2026).

Daftar hitam terbaru ini mencakup sejumlah raksasa teknologi sipil terkemuka, mulai dari perusahaan e-commerce Alibaba, penyedia mesin pencari internet Baidu, hingga raksasa otomotif kendaraan listrik BYD.

Baca Juga: Survei Reuters/Ipsos: Kepuasan Publik Terhadap Trump Anjlok ke 35% Akibat Perang Iran

Langkah tegas Pentagon ini menggantikan daftar lama yang dirilis pada awal tahun 2025.

Pengumuman ini terhitung mengejutkan karena dirilis kurang dari sebulan setelah Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing, di mana kedua pemimpin negara tersebut sepakat mempertahankan gencatan senjata perang dagang yang rapuh.

Kronologi Perubahan Daftar Hitam Pentagon (Daftar 1260H)

Penyusunan daftar yang dikenal sebagai indeks 1260H atau CMC List (Chinese Military Companies) ini sempat diwarnai ketidakpastian birokrasi:

Februari 2026: Pentagon sempat mengunggah draf pembaruan daftar ini ke publik, namun langsung ditarik kembali dalam waktu singkat tanpa penjelasan mendetail.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Bertahan di US$ 4.334 Senin (8/6), Meski Data Tenaga Kerja AS Kuat

Juni 2026 (Versi Final): Daftar resmi yang dirilis Senin ini mengadopsi versi Februari, namun dengan tambahan signifikan berupa masuknya dua produsen cip memori papan atas China, yaitu CXMT dan YMTC. Kedua raksasa cip tersebut sebelumnya sempat dihapus pada draf Februari, yang sempat memicu kemarahan kelompok elang (hawks) anti-China di Washington.

Daftar Korporasi Baru dan Dinamika Rantai Pasok Global

Selain Alibaba, Baidu, dan BYD, Pentagon juga memasukkan jajaran korporasi mutakhir yang bergerak di bidang kecerdasan buatan (AI), robotika, dan bioteknologi:

  • Unitree & RoboSense: Unitree merupakan produsen robot berkaki empat (quadruped) dan humanoid terkemuka China. Masuknya Unitree menjadi ironi karena pada 1 Juni lalu, raksasa cip AI Amerika, Nvidia, baru saja mengumumkan rencana kerja sama dengan Unitree untuk membangun robot riset.
  • WuXi AppTec: Perusahaan raksasa di bidang bioteknologi. Merespons hal ini, juru bicara WuXi AppTec menyatakan kepada Reuters bahwa pencantuman nama mereka "jelas merupakan sebuah kesalahan" dan pihak perusahaan akan segera mengambil tindakan hukum untuk mengoreksi kekeliruan tersebut.
  • Sektor Energi (CNOOC): Dua anak usaha minyak negara China National Offshore Oil Corporation (CNOOC)—yaitu CNOOC China Ltd dan CNOOC International Trading—dihapus dari daftar. Namun, anak usaha CNOOC lainnya, China BlueChemical Limited, justru ditambahkan dengan catatan khusus bahwa induk usaha mereka dikontrol langsung oleh pemerintah China.

Baca Juga: Meski Rugi Membesar, VinFast Genjot Ekspansi EV ke Indonesia, Asia Tenggara & India

Konsekuensi Hukum dan Dampak Finansial Kerja Sama

Meskipun daftar 1260H ini tidak secara otomatis menjatuhkan sanksi ekonomi atau pembekuan aset keuangan, undang-undang baru AS menetapkan sanksi operasional yang ketat bagi perusahaan yang terdaftar:

Mulai akhir Juni 2026, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) dilarang melakukan kontrak langsung dengan perusahaan di dalam daftar.

Mulai tahun 2027, AS dilarang membeli produk atau layanan dari perusahaan tersebut melalui pihak ketiga (vendor/mitra).

Regulasi ini diproyeksikan akan menimbulkan kerugian material yang besar bagi perusahaan-perusahaan China tersebut beserta mitra bisnis mereka di AS.

Baca Juga: Nvidia Masuk Pasar AI PC dengan RTX Spark, Mampukah Mengubah Masa Depan PC?

Selain itu, status ini memberikan sinyal peringatan kepada lembaga pemerintah AS lainnya mengenai risiko keamanan dari korporasi tersebut.

Beberapa perusahaan China diketahui telah melayangkan gugatan hukum melawan pemerintah AS atas transparansi penetapan status ini.

"Washington tidak lagi memperlakukan entitas-entitas ini sebagai korporasi yang terisolasi secara mandiri. AS kini memperlakukan seluruh ekosistem dan rantai pasok teknologi (technology stack) China sebagai wilayah kompetisi strategis yang diperebutkan," ujar Craig Singleton, pakar China di lembaga pemikir Foundation for Defense of Democracies di Washington.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×