CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.600.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.629   63,00   0,36%
  • IDX 6.524   -65,23   -0,99%
  • KOMPAS100 859   -7,25   -0,84%
  • LQ45 650   -5,87   -0,89%
  • ISSI 227   -2,96   -1,29%
  • IDX30 361   -3,43   -0,94%
  • IDXHIDIV20 450   -2,82   -0,62%
  • IDX80 98   -0,88   -0,89%
  • IDXV30 125   -1,00   -0,79%
  • IDXQ30 116   -1,14   -0,98%

AS Perketat Sanksi Iran, Bidik Jaringan Hezbollah dan Proksi Teheran


Jumat, 11 September 2026 / 14:58 WIB
AS Perketat Sanksi Iran, Bidik Jaringan Hezbollah dan Proksi Teheran
ILUSTRASI. Donald Trump (via REUTERS/SAUL LOEB)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menjatuhkan sanksi baru kepada sejumlah perusahaan dan individu yang dituding membantu Hezbollah serta kelompok proksi Iran lainnya di Timur Tengah.

Departemen Keuangan AS pada Kamis (10/9/2026) mengatakan sanksi terbaru tersebut menyasar entitas dan individu yang berada di Irak, Uni Emirat Arab (UEA), Lebanon, dan Turki. Washington menilai mereka memberikan dukungan kepada Kata’ib Hezbollah, kelompok paramiliter Syiah Irak yang berada di bawah komando Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), serta Hezbollah, partai Syiah yang berbasis di Lebanon.

Langkah tersebut merupakan bagian dari Operation Economic Outcast, kampanye yang diumumkan Departemen Keuangan AS pada 24 Agustus lalu. Operasi tersebut bertujuan memutus sumber pendanaan Teheran untuk perang, pembangunan rudal, serangan siber, serta aktivitas IRGC.

Baca Juga: Israel Hancurkan Infrastruktur Bawah Tanah Hezbollah di Lebanon Selatan

Selain menjatuhkan sanksi baru, Departemen Keuangan AS juga mengumumkan penyelesaian kasus dengan seorang warga negara AS yang sepakat membayar US$1,43 juta untuk menyelesaikan potensi tanggung jawab perdata terkait 39 dugaan pelanggaran sanksi terhadap Iran.

Departemen Keuangan juga membuka saluran pengaduan bagi pelapor untuk memberikan informasi mengenai dugaan penghindaran sanksi maupun pencucian uang yang melibatkan Iran.

AS Perketat Izin Transaksi Terkait Iran

Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri Departemen Keuangan AS (OFAC) turut menerbitkan buletin yang menegaskan bahwa sebagian besar permohonan lisensi terkait Iran akan ditolak, kecuali dalam kondisi tertentu.

OFAC bahkan disebut telah segera mulai menolak "sebagian besar" permohonan lisensi khusus terkait Iran yang masih dalam proses.

Departemen Keuangan AS mengatakan kebijakan tersebut akan terus diterapkan hingga Iran mengubah perilakunya.

"OFAC akan mempertahankan kebijakan perizinan ini sampai Iran mengubah perilakunya, termasuk menghalangi Selat Hormuz, menyerang personel AS dan mitra AS di kawasan Teluk, serta mengejar senjata nuklir dan senjata konvensional," kata Departemen Keuangan AS.

Baca Juga: Houthi Kuasai Pelabuhan Mocha, Iran Diduga Buka Front Baru Lawan AS

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan operasi tersebut ditujukan kepada pihak-pihak yang masih memberikan dukungan kepada pemerintah Iran.

"Operation Economic Outcast menargetkan mereka yang terus berdiri bersama rezim Iran yang sedang gagal," kata Bessent.

"Baik mereka mendanai terorisme, mencuci uang, atau membantu Iran menghindari sanksi, kami akan menemukan mereka, memutus akses mereka dari sistem keuangan AS, dan membongkar jaringan yang membuat rezim tersebut tetap bertahan," lanjutnya.

Perang Iran Tekan Ekonomi dan Politik AS

Perang Iran yang kini memasuki bulan ketujuh turut memberikan tekanan politik terhadap Presiden AS Donald Trump. Kenaikan harga bensin yang signifikan menjadi salah satu persoalan yang membebani masyarakat AS sekaligus berpotensi memengaruhi peluang Partai Republik mempertahankan kendali atas Kongres dalam pemilihan paruh waktu pada November.

Konflik Iran juga berkembang menjadi perang berkepanjangan yang berbeda dengan operasi militer AS di Venezuela yang berlangsung relatif cepat hingga menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.

Perang Iran telah berkembang menjadi perang atrisi yang disertai serangan terhadap kapal tanker minyak dan mulai meluas ke sejumlah negara tetangga.

Dalam paket sanksi terbaru tersebut, AS tidak memasukkan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran sebagai sasaran. Pada Kamis, kelompok tersebut dilaporkan mengambil alih kota pelabuhan Mocha di Yaman dan bergerak ke sepanjang pesisir Laut Merah.

Pergerakan tersebut memberikan pengaruh lebih besar terhadap Selat Bab el-Mandeb, jalur keluar bagian selatan Laut Merah yang menjadi salah satu rute pelayaran paling penting di dunia.

Pengiriman Minyak Iran Anjlok

Tekanan terhadap Iran juga mulai terlihat pada aktivitas pengiriman minyak. Seorang pejabat AS mengatakan kampanye sanksi telah memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Iran, sementara blokade laut AS membatasi kemampuan Teheran untuk mengirimkan minyak.

Baca Juga: Yield Obligasi AS Mendekati 5%, Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Menurut pejabat tersebut, pemuatan minyak Iran dalam 30 hari terakhir turun menjadi sekitar 200.000 barel per hari, dari sekitar 1,8 juta barel per hari pada Januari dan Februari.

Sementara itu, volume pembongkaran minyak turun menjadi sekitar 900.000 barel per hari, dibandingkan sekitar 1,4 juta barel per hari sebelum perang.

Jumlah minyak Iran atau minyak yang diduga berasal dari Iran yang berada dalam perjalanan melalui laut juga menurun. Rata-rata volumenya hanya sekitar 110 juta barel dalam sepekan terakhir, dibandingkan lebih dari 180 juta barel pada Januari dan Februari.

Tekanan ekonomi juga berdampak pada harga kebutuhan pangan. Pejabat AS tersebut mengatakan harga pangan meningkat tajam, sementara nilai tukar rial Iran telah melemah sekitar 30% terhadap dolar AS sejak perang dimulai.

Dampak Sanksi Dinilai Terbatas

Meski demikian, efektivitas sanksi terbaru terhadap kemampuan Iran memperoleh mata uang asing dinilai tidak terlalu besar.

Brett Erickson, managing principal di Obsidian Risk Advisors, mengatakan sanksi terbaru hanya akan memberikan dampak marginal terhadap kemampuan Iran mengalirkan mata uang asing.

"Sanksi-sanksi ini sama sekali tidak mengubah keadaan secara signifikan," ujar Erickson.

Menurut dia, sanksi tersebut memang menyasar Hezbollah, tetapi tidak menyentuh kelompok proksi Iran yang dinilai memiliki dampak lebih besar terhadap pasar energi global, yakni Houthi.

"Selain itu, sanksi tersebut menargetkan Hezbollah, tetapi tidak menyasar proksi Iran yang jauh lebih berdampak, yaitu Houthi, yang menimbulkan kekacauan di pasar energi global," katanya.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×