Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Pasar obligasi global kembali mengalami tekanan seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak mentah.
Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun mendekati level psikologis 5% pada Jumat (11/9/2026), di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Biaya pinjaman dari Tokyo, Sydney, New York hingga London telah berada di level tertinggi dalam beberapa dekade. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya ekspektasi investor bahwa bank sentral perlu menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan harga yang dipicu perang di Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari enam bulan.
Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (10/9/2026) menaikkan suku bunga sekaligus memperingatkan bahwa tekanan harga berpotensi bertahan lebih lama. Sementara itu, data menunjukkan harga produsen di AS meningkat pada Agustus, sehingga memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve akan segera menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
Kekhawatiran investor juga semakin besar akibat membengkaknya kebutuhan pembiayaan pemerintah di negara-negara maju. Kondisi tersebut membuat investor meminta kompensasi yang lebih tinggi untuk memegang surat utang pemerintah.
Baca Juga: Dolar AS Menguat, Risiko Gangguan Energi Timur Tengah Dorong Yield Obligasi
Yield obligasi pemerintah menjadi acuan bagi penentuan harga berbagai aset di pasar keuangan. Ketika biaya uang meningkat, konsumen menghadapi kenaikan suku bunga kredit perumahan, sementara pemerintah harus menghadapi biaya utang yang semakin mahal sehingga ruang belanja menjadi lebih terbatas.
"Kita melihat badai sempurna berupa kenaikan harga minyak, meningkatnya kekhawatiran inflasi, sikap hawkish bank sentral, serta kekhawatiran yang terus berlanjut terhadap defisit fiskal. Semua faktor tersebut berpadu mendorong yield global lebih tinggi," kata Mansoor Mohi-uddin, chief macro strategist Bank of Singapore.
Ia menambahkan, apabila data inflasi konsumen AS yang akan dirilis pada Jumat menunjukkan angka yang kuat, yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun berpotensi menembus level 5%.
"Jika data inflasi konsumen malam ini kuat, maka yield Treasury tenor 10 tahun kemungkinan akan menembus 5,00%," ujarnya, merujuk pada data indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) AS yang sangat dinantikan pasar.
Penembusan level 5% secara berkelanjutan pada yield Treasury tenor 10 tahun dinilai sejumlah analis sebagai titik penting yang dapat membuat obligasi semakin menarik dibandingkan saham. Kondisi tersebut berpotensi mendorong investor mengalihkan dana dari pasar saham.
Kenaikan yield Treasury juga berdampak ke perekonomian yang lebih luas melalui peningkatan suku bunga kredit perumahan, kendaraan dan konsumen. Selain itu, biaya pembiayaan bagi perusahaan serta pemerintah daerah juga ikut meningkat.
Yield Treasury 10 Tahun Hampir 5%
Yield surat utang Treasury AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,97% pada perdagangan awal Asia. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak akhir 2023 dan membuat investor semakin waspada terhadap potensi kenaikan yield melewati 5%.
Baca Juga: Facebook, TikTok hingga YouTube Digugat di Portugal karena Fitur Adiktif
Level 5% sebelumnya sempat ditembus secara singkat sekitar tiga tahun lalu.
Tekanan jual di pasar obligasi juga meluas ke Asia. Yield obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun melonjak 18 basis poin menjadi 5,047%, level tertinggi dalam 15 tahun terakhir.
Sementara itu, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 6 basis poin menjadi 2,97%. Bank of Japan (BOJ) diperkirakan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada pekan depan dan berpotensi memberikan sinyal mengenai percepatan pengetatan kebijakan moneter ke depan.
Di Eropa, kontrak berjangka obligasi pemerintah Jerman atau bund turun 0,22% dan berada di dekat level terendah sejak 2011. Sementara itu, kontrak berjangka obligasi pemerintah Prancis atau OAT turun 0,3% ke level terendah sepanjang masa.
Prashant Newnaha, senior rates strategist di TD Securities, menilai yield Treasury tenor 10 tahun di atas 5% sulit dihindari apabila harga minyak mentah bertahan di atas US$100 per barel.
Ia menyebut data inflasi AS pada Agustus menjadi salah satu indikator terpenting bagi Federal Reserve dan pasar keuangan sepanjang tahun ini.
"Jika data inflasi lebih rendah dan tidak ada kenaikan suku bunga pekan depan, yield kemungkinan akan langsung bergerak turun. Namun, penurunan tersebut kemungkinan tidak akan bertahan jika harga minyak juga tidak ikut turun," kata Newnaha.
Lonjakan Harga Minyak Menambah Tekanan
Harga minyak mentah menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Kontrak berjangka minyak Brent melonjak ke level tertinggi dalam empat bulan, yakni US$109,97 per barel.
Harga Brent berada di jalur kenaikan sekitar 13% dalam sepekan. Lonjakan tersebut terjadi setelah meningkatnya serangan di sepanjang jalur pelayaran penting di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak yang berkepanjangan.
Kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi yang masih tinggi juga mengubah ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.
Baca Juga: Ekonomi Inggris Tumbuh 0,4% pada Juli, Lampaui Ekspektasi Ekonom
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan mencapai 72%, naik dari 49% pada pekan sebelumnya berdasarkan CME FedWatch Tool.
Yield obligasi Treasury AS tenor dua tahun, yang biasanya bergerak mengikuti ekspektasi suku bunga The Fed, naik ke level tertinggi sejak Juli 2024, yakni 4,596% pada Jumat (11/9/2026).
Yield tersebut meningkat setelah sebelumnya melonjak 12 basis poin pada sesi perdagangan sebelumnya.
Tekanan jual di pasar obligasi semakin dalam setelah pemerintah AS menyatakan telah membeli kembali obligasi senilai US$5,2 miliar dalam operasi buyback terbaru. Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung likuiditas pasar.
Nilai pembelian tersebut masih berada di bawah batas maksimum US$6 miliar dan hanya sekitar separuh dari US$10,5 miliar obligasi yang ditawarkan dalam operasi tersebut.
Tina Teng, market strategist di Moomoo ANZ di Auckland, mengatakan kenaikan yield Treasury berpotensi mulai menarik kembali minat investor terhadap aset pendapatan tetap.
"Yield ini sangat tinggi," kata Teng.
"Mungkin ada peluang sekarang," lanjutnya.
"Ada kemungkinan pembalikan tren ini akan segera terjadi," tambahnya.














