Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - LONDON. Amerika Serikat (AS) menyumbang sekitar sepertiga dari peningkatan emisi karbon global pada tahun 2025.
Berdasarkan laporan Energy Institute, kenaikan emisi karbon di AS terjadi karena harga gas yang lebih tinggi mendorong produsen listrik kembali menggunakan ke batubara.
Berdasarkan laporan yang diproduksi dalam kemitraan dengan Ember, Kearney Institute, dan KPMG disebutkan bahwa konsumsi batubara AS melonjak 10% di tahun lalu. Ini membalikkan pergeseran menuju bahan bakar yang lebih bersih dan membantu meningkatkan emisi secara keseluruhan.
Emisi karbon global dari sektor energi meningkat 1,1% menjadi 35.806 juta metrik ton karbon dioksida. Lebih dari sepertiga peningkatan ini berasal dari AS.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak: Ancaman Selat Hormuz Dorong Kenaikan Lebih 1% di Awal Pekan
Peningkatan di kawasan Amerika Utara ini bertentangan dengan tren penurunan emisi selama 10 tahun sebesar 0,7%, kata laporan tersebut seperti dikutip dari Reuters, Selasa (30/6/2026).
Di sisi lain, permintaan terkait energi global terus meningkat. Total pasokan energi meningkat 1,7% dari tahun 2024, dengan energi terbarukan memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan tersebut. Pembangkit listrik tenaga terbarukan meningkat 9,1%, dipimpin oleh lonjakan 30% pada energi surya.
Emisi karbon sektor energi di Eropa meningkat sebesar 0,5%, sementara di China meningkat sebesar 0,7% pada tahun 2025.
Permintaan listrik meningkat lebih cepat daripada pasokan, naik 3% dari tahun ke tahun, didorong oleh kendaraan listrik, pusat data, dan kecerdasan buatan.
Konsumsi minyak global terlihat meningkat 1,3% pada tahun 2025 menjadi 103 juta barel per hari, dibandingkan dengan peningkatan 1,1% pada tahun 2024, sementara produksi tumbuh 3,5%.
Baca Juga: Modus Penjualan Tiket Spekulatif di Piala Dunia, Penonton Rugi Besar
Di China, penggunaan bensin dan solar menurun tahun lalu, melanjutkan tren yang terlihat pada tahun 2024.
Pertumbuhan permintaan gas terkonsentrasi di Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Utara, dengan Eropa dan India bergantung pada impor untuk hampir setengah dari pasokan mereka.














