kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.868.000   -20.000   -0,69%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

AS Tunda Pengiriman Senjata ke Eropa karena Konflik Iran


Jumat, 17 April 2026 / 19:25 WIB
AS Tunda Pengiriman Senjata ke Eropa karena Konflik Iran
ILUSTRASI. Pemerintah AS memberi sinyal penundaan pengiriman senjata ke Eropa akibat perang Iran (Andrius Sytas/REUTERS)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah Amerika Serikat mulai memberi sinyal kepada sejumlah negara Eropa bahwa pengiriman senjata yang sebelumnya telah dikontrak kemungkinan akan mengalami keterlambatan. Penyebab utamanya adalah perang melawan Iran yang terus menguras stok persenjataan dan amunisi milik AS. 

Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut negara-negara di kawasan Baltik dan Skandinavia menjadi pihak yang paling terdampak. Sebagian senjata yang tertunda merupakan pembelian melalui program Foreign Military Sales (FMS), namun hingga kini belum dikirimkan.

Dalam beberapa hari terakhir, pejabat AS disebut telah menyampaikan kemungkinan penundaan itu kepada mitra Eropa melalui komunikasi bilateral.

Program FMS sendiri merupakan skema pembelian senjata buatan AS oleh negara asing dengan dukungan logistik dan persetujuan pemerintah AS.

Baca Juga: Pasar Saham Dunia Dekati Rekor, Harga Minyak Bertahan di Bawah US$100

Di bawah pemerintahan Donald Trump, Washington selama ini mendorong negara-negara Eropa anggota NATO untuk meningkatkan pembelian peralatan militer dari AS sebagai bagian dari strategi membagi beban pertahanan kawasan. Namun, keterlambatan pengiriman yang berulang mulai memicu frustrasi di ibu kota negara-negara Eropa. 

Sejumlah pejabat Eropa menilai situasi ini menempatkan mereka dalam posisi sulit, terutama bagi negara-negara yang berbatasan langsung dengan Rusia dan membutuhkan kepastian pasokan senjata untuk menjaga kesiapan pertahanan.

Beberapa negara bahkan mulai mempertimbangkan sistem persenjataan buatan Eropa sebagai alternatif atas ketergantungan terhadap pasokan AS. 

Diskusi di forum-forum Eropa juga menunjukkan meningkatnya sentimen untuk memperkuat industri pertahanan domestik. Banyak pihak menilai ketergantungan berlebihan terhadap pemasok Amerika justru memperbesar risiko strategis ketika Washington menghadapi konflik lain.

Baca Juga: Warga Lebanon Mulai Pulang di Tengah Gencatan Senjata, Banyak Rumah Hancur

Perang Iran sendiri telah menambah tekanan terhadap industri pertahanan AS yang sebelumnya sudah terbebani oleh bantuan militer ke Ukraina sejak 2022 dan dukungan kepada Israel sejak konflik Gaza pecah pada akhir 2023. Stok artileri, amunisi, rudal antitank, hingga sistem pertahanan udara terus terkuras dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak perang dengan Iran dimulai, Teheran dilaporkan telah menembakkan ratusan rudal balistik dan drone ke negara-negara Teluk. Sebagian besar berhasil dicegat menggunakan sistem seperti rudal pencegat PAC-3 Patriot, yang juga sangat dibutuhkan oleh Ukraina untuk melindungi infrastruktur energi dan fasilitas militernya.

Di sisi lain, pejabat AS berpendapat bahwa persenjataan tersebut kini lebih dibutuhkan untuk mendukung operasi di Timur Tengah. Washington juga menilai negara-negara Eropa belum cukup membantu AS dan Israel dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz yang saat ini menjadi salah satu titik krisis utama perdagangan energi global.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×