kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 16.989   -60,00   -0,35%
  • IDX 7.165   116,84   1,66%
  • KOMPAS100 991   19,10   1,97%
  • LQ45 727   11,45   1,60%
  • ISSI 256   4,98   1,98%
  • IDX30 393   4,82   1,24%
  • IDXHIDIV20 488   1,01   0,21%
  • IDX80 112   2,02   1,84%
  • IDXV30 135   -0,36   -0,27%
  • IDXQ30 128   1,50   1,19%

AT&T Investasi FirstNet, Efisiensi Dipertanyakan


Rabu, 01 April 2026 / 13:04 WIB
AT&T Investasi FirstNet, Efisiensi Dipertanyakan
ILUSTRASI. Bendera Amerika Serikat (AS) (REUTERS/Nathan Howard)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - TEXAS. AT&T menyepakati investasi sekitar US$1 miliar untuk meningkatkan jaringan darurat FirstNet milik Departemen Perdagangan Amerika Serikat. Di saat yang sama, perusahaan ini juga menjanjikan efisiensi biaya hingga US$1 miliar melalui penurunan tarif layanan sebuah langkah yang di atas kertas tampak saling menguntungkan, namun tetap menyisakan sejumlah catatan.

Mengutip Reuters (1/4), FirstNet sendiri bukan proyek baru. Jaringan seluler khusus bagi layanan darurat ini digagas pasca tragedi Serangan 11 September, ketika lemahnya koordinasi komunikasi antar lembaga menjadi sorotan. Pada 2017, AT&T memenangkan kontrak jumbo berdurasi 25 tahun untuk membangun dan mengelola jaringan tersebut.

Kini, jaringan itu telah digunakan oleh sekitar 31.000 lembaga di AS, termasuk tenaga medis, pemadam kebakaran, hingga aparat kepolisian. Perannya krusial, yajbu memastikan komunikasi tetap berjalan dalam situasi darurat yang kerap kali menentukan keselamatan jiwa.

Namun, di balik komitmen investasi dan efisiensi biaya, muncul pertanyaan soal struktur tarif dan keberlanjutan model bisnisnya. Penghematan US$1 miliar yang dijanjikan berasal dari penurunan tarif yang bisa berarti margin lebih tipis bagi operator, atau sebaliknya, indikasi bahwa tarif sebelumnya masih memiliki ruang untuk ditekan.

Baca Juga: IPO Jumbo SpaceX Uji Selera Pasar Global

Kesepakatan ini juga tidak lepas dari intervensi kebijakan. Donald Trump melalui perintah eksekutif awal 2025 meminta seluruh lembaga federal meninjau ulang kontrak-kontrak yang ada. Langkah ini membuka ruang renegosiasi, termasuk pada proyek FirstNet yang selama ini didominasi satu operator.

Menurut National Telecommunications and Information Administration (NTIA), kesepakatan baru ini mencerminkan penyesuaian terhadap kebutuhan efisiensi anggaran pemerintah. Namun, di sisi lain, langkah tersebut juga mempertegas ketergantungan proyek strategis negara pada mitra swasta dalam jangka panjang.

Presiden Sektor Publik AT&T, Wes Anderson, menyebut kesepakatan ini sebagai bukti komitmen perusahaan terhadap kemitraan publik-swasta. “Kesepakatan prinsip ini mencerminkan dedikasi berkelanjutan kami,” ujarnya.

Meski demikian, penguatan investasi dan penurunan biaya tidak serta-merta menghapus risiko. Ketergantungan pada satu penyedia dalam proyek vital seperti jaringan darurat tetap menjadi isu yang patut dicermati, terutama dalam konteks daya saing, transparansi tarif, dan kesiapan teknologi di masa depan.

Baca Juga: Won Korea Selatan dan Peso Filipina Menguat Paling Kencang di Asia pada Rabu (1/4)


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×