kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Australia Siap Tetapkan Harga Dasar Mineral Kritis, Tantang Dominasi China


Rabu, 25 Maret 2026 / 08:25 WIB
Australia Siap Tetapkan Harga Dasar Mineral Kritis, Tantang Dominasi China
ILUSTRASI. Mineral tanah jarang (rare earth) (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Australia berencana menetapkan mekanisme harga dasar (floor price) dalam pembentukan cadangan strategis mineral kritis, sebagai upaya memperkuat posisinya dalam rantai pasok global.

Menteri Sumber Daya Australia Madeleine King mengatakan bahwa skema tersebut tengah disiapkan dan akan melibatkan konsultasi dengan pelaku industri.

Baca Juga: SpaceX Bidik IPO Raksasa, Target Dana Tembus US$ 75 Miliar

"Kami sedang mengembangkan cadangan strategis, dan itu tentu akan memiliki elemen harga dasar. Kami akan berkonsultasi dengan industri untuk menentukan harga yang tepat," ujar King dalam ajang Minerals Week summit di Canberra, Rabu (25/3/2026).

Menurut dia, penerapan harga dasar ini bertujuan menciptakan mekanisme penetapan harga yang lebih mencerminkan biaya produksi mineral kritis, sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

Australia menargetkan menjadi pemasok utama mineral kritis seperti rare earth yang sangat dibutuhkan untuk berbagai industri, mulai dari otomotif hingga pertahanan.

Untuk mendukung ambisi tersebut, pemerintah menyiapkan pendanaan sekitar A$1,2 miliar guna membangun cadangan strategis tersebut.

Program ini ditargetkan mulai beroperasi pada paruh kedua 2026, sebagai bagian dari strategi jangka panjang Australia dalam memperkuat posisinya di pasar global.

Selain itu, pemerintah juga mendorong investasi melalui berbagai lembaga pembiayaan, termasuk dukungan tambahan hingga A$4 miliar serta peran Northern Australia Infrastructure Fund (NAIF) untuk menarik partisipasi swasta.

Baca Juga: Ternyata, Peringatan Keras dari Negara Teluk yang Bikin Trump Tak Berkutik Soal Iran

King menekankan bahwa pengembangan sektor mineral kritis membutuhkan komitmen jangka panjang, baik dari pemerintah maupun pelaku industri.

"Ini adalah investasi jangka panjang. Saya pikir kita perlu terus melakukan ini untuk beberapa waktu ke depan," tambahnya.

Langkah ini juga menjadi respons terhadap dominasi China yang saat ini menguasai lebih dari 80% produksi dan pemurnian mineral kritis global.

Pembatasan ekspor oleh China sebelumnya telah mengguncang industri otomotif dan pertahanan, sekaligus mendorong negara-negara lain untuk mendiversifikasi rantai pasok.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×