Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memaksa lembaga keuangan global menyiapkan bantalan darurat. World Bank Group membuka opsi mobilisasi dana cepat hingga US$25 miliar untuk menopang negara-negara yang terdampak perang di Iran.
Presiden Bank Dunia, Ajay Banga menyatakan, dana tersebut bisa digelontorkan dalam waktu singkat melalui skema respons krisis. Mekanismenya memungkinkan hingga 10% dana proyek yang belum dicairkan dialihkan sementara untuk kebutuhan penanganan krisis.
Melansir Bloomberg dan Reuters (10/4), langkah ini menunjukkan eskalasi risiko ekonomi global yang tak lagi bisa diabaikan. Jika konflik berlarut, Bank Dunia bahkan mempertimbangkan menambah kapasitas pembiayaan hingga US$ 60 miliar. Artinya, tekanan yang ditimbulkan perang berpotensi jauh lebih dalam dari sekadar gangguan jangka pendek.
Di sisi lain, dukungan juga akan datang dari International Monetary Fund (IMF). Lembaga tersebut memperkirakan kebutuhan pembiayaan negara-negara bisa mencapai US$ 20 miliar hingga US$ 50 miliar, terutama untuk menutup defisit neraca pembayaran.
Baca Juga: Ini Peringatan IMF Atas Dampak Buruk Perang ke Ekonomi Global
Namun, Banga mengingatkan, bahwa intervensi ini harus dilakukan secara hati-hati. “Bantuan harus terarah, bersifat sementara, dan transparan,” ujarnya. Pernyataan ini sekaligus menegaskan kekhawatiran klasik, bahwa bantuan besar berisiko salah sasaran jika tidak dikawal ketat.
Para ekonom menilai dampak perang tidak hanya berhenti pada kawasan konflik. Gangguan terhadap pasokan minyak dan rantai pasok global berpotensi menekan pertumbuhan sekaligus memicu lonjakan inflasi kombinasi yang kerap menjadi mimpi buruk bagi negara berkembang.
Banga secara tegas menilai ancaman inflasi kini lebih mendesak dibanding pertumbuhan. Terganggunya pasokan, mulai dari energi hingga bahan baku seperti pupuk dan helium, bisa langsung menghantam harga domestik. “Keduanya penting, tetapi prioritas saat ini adalah inflasi,” tegasnya.
Dengan kata lain, dunia tengah menghadapi dilema klasik, yakni menjaga pertumbuhan atau menahan laju harga. Dalam situasi seperti ini, ruang kebijakan negara berkembang semakin sempit dan ketergantungan pada dukungan lembaga global kian tak terelakkan.
Baca Juga: IMF & Bank Dunia Siaga Hadapi Guncangan Ekonomi













