Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Langkah tiga lembaga global International Monetary Fund (IMF), World Bank Group, dan International Energy Agency untuk berkoordinasi merespons dampak ekonomi perang Iran menjadi sinyal bahwa gejolak ini bukan sekadar konflik kawasan, melainkan ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global.
Dalam pernyataan bersama yang dikutip Reuters (2/4). ketiganya sepakat berbagi data, menyelaraskan rekomendasi kebijakan, hingga menggalang dukungan bagi negara-negara yang paling terdampak. Mereka juga mulai menghitung kebutuhan pembiayaan yang berpotensi melonjak, terutama di negara berkembang yang ruang fiskalnya sudah terbatas.
Namun di balik koordinasi tersebut, tersimpan kekhawatiran besar, yakni dampak krisis ini tidak merata. Negara pengimpor energi terutama yang berpendapatan rendah menjadi pihak paling rentan. “Dampaknya signifikan, global, dan sangat asimetris,” demikian peringatan para pimpinan lembaga tersebut.
Lonjakan harga energi menjadi sumber tekanan utama. Harga minyak Brent yang bertahan di kisaran US$ 100 per barel melonjak sekitar 40% sejak eskalasi konflik pada akhir Februari menjadi pukulan bagi negara yang bergantung pada impor energi. Kenaikan ini tidak hanya mengerek biaya produksi, tetapi juga mempersempit ruang kebijakan moneter karena risiko inflasi yang kembali menguat.
Baca Juga: Ambisi MUFG: Bidik Tahta Raja Transaksi Asia, Geser Raksasa Global
Efek rambatannya cepat terasa. Rantai pasok global kembali terguncang, mencakup komoditas strategis seperti helium, fosfat, hingga aluminium. Sektor penerbangan pun ikut terdampak, menambah daftar tekanan di tengah pemulihan ekonomi yang belum sepenuhnya solid.
Yang lebih mengkhawatirkan, tekanan tidak berhenti di energi. Kenaikan harga pupuk dan pangan mulai menekan negara-negara dari Timur Tengah hingga Amerika Latin. IMF bahkan mengingatkan potensi krisis pangan baru, terutama bagi negara berpendapatan rendah. Gangguan pasokan nutrisi tanaman dari kawasan Teluk datang di saat yang krusial awal musim tanam di belahan bumi utara yang bisa berdampak pada hasil panen sepanjang tahun.
Situasi ini menempatkan banyak negara dalam posisi sulit, antara menjaga stabilitas harga atau mempertahankan pertumbuhan. Tanpa dukungan pembiayaan tambahan, risiko pelemahan ekonomi hingga instabilitas sosial bukan hal yang berlebihan.
Ke depan, perang Iran dan dampaknya dipastikan menjadi agenda utama dalam pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia pada 13–18 April. Forum ini akan menjadi ujian apakah koordinasi global mampu bergerak lebih cepat dari eskalasi krisis atau justru kembali tertinggal seperti pada guncangan sebelumnya.
Baca Juga: Perang Iran Redupkan Prospek Ekonomi Global, IMF Peringatkan Risiko Inflasi













