Sumber: Bloomberg | Editor: Dikky Setiawan
FRANKFURT. Bank Sentral Eropa (ECB) bersiap-siap mengurangi program bantuan likuiditas untuk industri perbankan. Presiden ECB Jean-Claude Trichet menyatakan, penghapusan bantuan darurat untuk industri keuangan akan dilakukan secara bertahap.
Bank sentral Eropa yang berbasis di Frankfurt, Jerman tersebut, masih menawarkan pinjaman darurat berjangka 3 bulan dan 6 bulan. Tapi pinjaman darurat berjangka 1 tahun kemungkinan akan dihapus. Penghapusan bantuan likuiditas ini untuk mencegah melonjaknya nilai uang beredar. "Supaya inflasi tetap terkendali," ujar Trichet.
ECB mulai mencemaskan kestabilan harga barang dan jasa karena laju pertumbuhan inflasi tahunan alias year-on-year di akhir kuartal III 2009 mencapai 0,5%. Angka ini meningkat drastis dibandingkan laju inflasi tahunan per akhir semester I, yaitu minus 0,1%.
Program bantuan likuiditas ECB, sedikit banyak ikut mempengaruhi laju inflasi. Untuk menyelamatkan bank dari hantaman krisis, ECB memangkas bunga, meminjamkan bantuan darurat, serta membeli obligasi milik bank.
Imbas dari tiga jurus itu adalah peningkatan uang beredar alias inflasi. Kendati mencemaskan tekanan inflasi, ECB tidak berniat mengoreksi ketiga-tiganya sekaligus.
Kebijakan moneter yang longgar, alias bunga rendah, tetap dipertahankan ECB. Trichet beralasan, bunga perlu dipertahankan rendah karena proses pemulihan ekonomi masih berjalan.
Ini sesuai dengan pandangan para ekonom di pasar finansial. Mereka menilai, pertumbuhan yang terjadi di kuartal ketiga lebih banyak dipicu oleh program insentif yang ditawarkan pemerintah.
Selain mengurangi penyaluran bantuan darurat secara bertahap, ECB juga berniat memperketat pembelian surat berharga milik bank.
ECB mensyaratkan surat berharga yang dibeli harus memiliki peringkat dari dua lembaga internasional. "Perubahan ini meski kecil, namun arahnya sudah tepat," ujar Juergen Michels, Chief Economist Citigroup, London.