Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bank sentral Thailand memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 seiring dampak konflik Iran yang menekan sektor pariwisata dan meningkatkan biaya energi.
Deputi Gubernur Bank of Thailand Chayawadee Chai-anant menyatakan bahwa prospek ekonomi memburuk dan skenario terburuk bisa tidak terbatas jika konflik berlanjut.
“Trennya akan menurun untuk banyak sektor. Dalam skenario terburuk, dampaknya bisa sangat luas,” ujarnya dilansir Reuters Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Pentagon Gandeng GM hingga Ford, Dorong Industri Sipil Perkuat Produksi Senjata
Pertumbuhan Dipangkas
Bank sentral kini memperkirakan pertumbuhan ekonomi Thailand hanya sebesar 1,3% pada 2026, turun dari proyeksi sebelumnya 1,9%.
Proyeksi ini bahkan lebih rendah dari target pemerintah yang sempat dinaikkan ke kisaran 1,5%–2,5%.
Estimasi tersebut berlaku dengan asumsi konflik mereda pada paruh kedua tahun ini. Sementara inflasi diperkirakan mencapai 3,5%.
Sektor pariwisata, tulang punggung ekonomi Thailand mengalami tekanan signifikan. Kunjungan wisatawan dari negara Teluk dilaporkan hampir nol pada Maret akibat penutupan bandara di kawasan konflik.
Padahal, wisatawan dari kawasan tersebut menyumbang sekitar 7% dari total belanja turis di Thailand.
Selain itu, jumlah wisatawan dari Malaysia juga menurun karena tingginya harga bahan bakar yang menghambat perjalanan darat.
Sebagai negara yang bergantung pada impor energi, Thailand sangat rentan terhadap lonjakan harga minyak. Kenaikan biaya impor turut menekan neraca berjalan.
Bank sentral sebelumnya memperkirakan surplus transaksi berjalan sekitar US$12 miliar, namun angka ini berpotensi direvisi turun, bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi defisit.
Baca Juga: Negara Berkembang Rilis “Borrowers’ Platform”, Perkuat Posisi Negosiasi Utang Global
Kebijakan Moneter Hati-hati
Terkait kebijakan suku bunga, bank sentral menyatakan kenaikan suku bunga hanya akan dipertimbangkan jika inflasi tinggi bertahan lebih dari satu tahun.
Namun, langkah tersebut belum tentu efektif mengingat tekanan inflasi berasal dari sisi pasokan.
Meski demikian, otoritas mencatat arus keluar modal yang terjadi pada Februari–Maret mulai mereda dan berbalik positif pada April.
Di tengah tekanan tersebut, Thailand tetap mengandalkan fundamental ekonomi yang relatif kuat untuk meredam dampak krisis.
Ke depan, pertemuan tahunan IMF–Bank Dunia yang akan digelar di Bangkok pada Oktober diharapkan menjadi momentum untuk menunjukkan ketahanan ekonomi kawasan Asia di tengah gejolak global.
Namun secara keseluruhan, konflik geopolitik masih menjadi faktor utama yang membayangi prospek ekonomi Thailand sepanjang 2026.













