Reporter: Ferrika Sari | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Berselang lima bulan dari inistial public offering (IPO), Didi global berniat menghapus sahamnya dari bursa efek New York dan mengalihkannya ke Hong Kong. Kabar itu seketika menuai reaksi investor.
Pergerakan saham raksasa jasa transportasi ini semakin liar. Hanya dalam beberapa jam, saham Didi itu berbalik dari kenaikan 16% menjadi kerugian 12%. Kemudian bangkit kembali ke wilayah positif, lalu berbalik lebih rendah lagi. Dan itu semua sebelum bel pembukaan di bursa New York.
Pada akhir hari saham Didi kembali jatuh 22%, mengkatalisasi kerugian di saham China yang diperdagangkan di Amerika Serikat (AS) yang sekarang berjumlah lebih dari US$1 triliun sejak Februari 2021.
Hal ini menunjukkan betapa bahayanya taruhan dari perusahaan terbuka China untuk menghadapi tindakan keras pemerintah. Investor makin khawatir atas nasib saham mereka dan mempertanyakan kelanjutan rencana delisting Didi di AS.
Baca Juga: Thailand catat kasus pertama Omicron, jadi negara ke-47 yang temukan varian baru ini
Rencana delisting Didi datang atas desakan Beijing, yang menentang IPO perusahaan di New York karena kekhawatiran tentang potensi kebocoran data sensitif kepada pihak berwenang di AS, saingan geopolitik utama China.
Sementara Didi dalam pernyataan resminya, mengatakan bahwa investor diizinkan untuk mengubah kepemilikan mereka menjadi saham baru yang diperdagangkan secara publik. Perusahaan memberikan sedikit rincian tentang mekanisme perubahan daftar dan implikasi potensial bagi pemegang saham.
Seorang perwakilan Didi tidak menanggapi permintaan komentar pada hari Jumat. Regulator sekuritas China mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka menghormati pilihan perusahaan di mana mereka mencatatkan sahamnya.
Xi telah menjelaskan bahwa prioritas Partai Komunis, termasuk keamanan data, kontrol yang lebih ketat atas raksasa teknologi, dan distribusi kekayaan yang lebih adil di bawah kerangka kemakmuran bersama. Rencana penghapusan saham Didi menunjukkan bahwa Xi menjadi lebih percaya untuk mencapai tujuannya tanpa bantuan pasar modal AS.
Baca Juga: Meski Omicron mengganas, Arab Saudi kerek harga minyak di pasar Asia dan Amerika
Menurut orang yang mengetahui masalah tersebut, Didi menargetkan pengajuan listing di Hong Kong pada Maret 2022. Namun tidak ada jaminan bahwa Hong Kong akan menyetujui rencana tersebut.
Motivasi asli Didi untuk mengejar listing di AS sebagian didasarkan pada desakan dari regulator Hong Kong bahwa perusahaan bisa mendapatkan bukti legalitas bisnisnya. Maklum, banyak perusahaan transportasi di Hong Hong sulit mendapatkan izin.
Secara lebih luas, risiko regulasi untuk perusahaan China menunjukkan sedikit tanda akan mereda. Beijing dikatakan sedang menyusun peraturan untuk secara efektif melarang perusahaan go public di pasar saham asing melalui entitas kepentingan secara variabel.
Sementara pemerintah AS mendorong upaya untuk mengeluarkan perusahaan China dari bursa saham Amerika jika tidak mematuhi persyaratan terkait pembukaan data secara transparan ke pemerintah.
Kepala eksekutif Stonehorn Global Partners Sam Le Cornu memperingatkan dalam sebuah wawancara, jalan ke depan untuk industri teknologi China kemungkinan akan tetap berbatu. Apalagi China berencana memperketat cengkeraman data besar.
Data tersebut memuat penyelidikan korupsi besar-besaran ke industri keuangan China, peraturan baru tentang kasino Makau dan nasib pengembang properti yang terlilit hutang seperti China Evergrande Group.
"Jika Anda terus menempatkannya pada ketidakpastian, orang - orang tidak akan membeli saham ini," terangnya.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)