kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.723.000   -27.000   -0,98%
  • USD/IDR 17.771   30,00   0,17%
  • IDX 6.522   116,06   1,81%
  • KOMPAS100 849   15,70   1,88%
  • LQ45 641   8,52   1,35%
  • ISSI 230   4,91   2,18%
  • IDX30 358   4,21   1,19%
  • IDXHIDIV20 437   4,93   1,14%
  • IDX80 97   1,66   1,75%
  • IDXV30 122   1,89   1,57%
  • IDXQ30 114   1,08   0,96%

Bessent dan Warsh Berseberangan, Siapa yang Akan Menentukan Arah Suku Bunga AS?


Kamis, 27 Agustus 2026 / 16:42 WIB
Bessent dan Warsh Berseberangan, Siapa yang Akan Menentukan Arah Suku Bunga AS?
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent dan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh tampaknya berbeda pandangan  (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent dan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh tampaknya berbeda pandangan mengenai salah satu persoalan utama kebijakan keuangan AS, yakni seberapa jauh pembuat kebijakan harus ikut campur dalam menentukan harga uang atau tingkat suku bunga.

Perbedaan pendekatan tersebut mencuat ketika pemerintahan Presiden Donald Trump meningkatkan upaya untuk menekan biaya pinjaman jangka panjang di AS. Namun, sejumlah analis dan manajer portofolio menilai langkah tersebut akan sulit berhasil tanpa kebijakan konkret untuk mengendalikan defisit fiskal AS yang terus melebar.

Warsh mendorong bank sentral untuk mengurangi sejumlah kebijakan komunikasi yang selama ini digunakan dan memberikan ruang lebih besar kepada pasar untuk menentukan arah suku bunga. Sebaliknya, Bessent menggunakan berbagai instrumen, termasuk sejumlah langkah yang tidak biasa, untuk menjaga fungsi pasar keuangan.

Perbedaan pandangan itu akan menjadi perhatian pada Jumat pagi waktu AS ketika Warsh dijadwalkan berbicara dalam agenda tahunan Federal Reserve di Jackson Hole, Wyoming.

Baca Juga: Rusia Ancam Serang Target Militer Inggris, Respons Serangan Rudal Ukraina

Warsh menginginkan pasar obligasi memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan tingkat suku bunga. Sikap tersebut dinilai berpotensi bertentangan dengan pendekatan Bessent yang lebih aktif melakukan intervensi.

Di sisi lain, investor juga menantikan kepastian bahwa Warsh akan mengambil tindakan tegas terhadap inflasi pada tahun pertamanya memimpin The Fed yang tengah menghadapi perbedaan pandangan internal.

Bessent Gandakan Pembelian Kembali Obligasi Jangka Panjang

Pekan lalu, Bessent mengatakan Departemen Keuangan AS setidaknya akan menggandakan pembelian kembali surat utang pemerintah berjangka panjang.

Langkah tersebut dilakukan setelah kenaikan imbal hasil obligasi mendorong tingkat suku bunga obligasi tenor 30 tahun ke level tertinggi dalam 19 tahun. Bessent berpendapat kenaikan imbal hasil tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi.

Investor membaca kebijakan tersebut sebagai sinyal bahwa Washington tidak akan membiarkan imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi suku bunga hipotek, mendekati level 5% tanpa merespons.

Baca Juga: Huawei Perluas Kerja Sama AI dengan Perusahaan Farmasi China

Namun, sejumlah investor menilai Bessent justru menghadapi persoalan yang keliru.

Menurut mereka, kenaikan imbal hasil obligasi lebih banyak dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat, inflasi yang sulit turun, kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, serta besarnya pasokan obligasi pemerintah.

Selain itu, peningkatan pinjaman korporasi yang didorong oleh investasi kecerdasan buatan (AI) turut menambah tekanan terhadap pasar obligasi. Premi fiskal yang meningkat akibat pelebaran defisit anggaran AS juga menjadi faktor penting.

Investor miliarder Stanley Druckenmiller, yang pernah menjadi mentor bagi Bessent maupun Warsh, menyebut kebijakan tersebut lebih menyerupai "manajemen harga" dibandingkan manajemen likuiditas. Ia juga memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi merusak kredibilitas Departemen Keuangan AS.

"Ada sangat sedikit bukti bahwa obligasi Treasury sedang mengalami oversold saat ini," ujar Will Compernolle, ahli strategi makro di FHN Financial.

Risiko Tekanan Berpindah ke Dolar AS

Para pelaku pasar memperkirakan tekanan akan muncul di tempat lain apabila imbal hasil obligasi tidak diperbolehkan naik menuju tingkat yang dapat menyeimbangkan permintaan dan penawaran pasar.

Salah satu dampaknya dapat terlihat pada dolar AS yang telah melemah sejak Bessent mengumumkan kebijakan pembelian kembali obligasi tersebut.

Strategi Bessent tampaknya diarahkan untuk mengurangi beban pembayaran bunga pemerintah sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Bessent mengatakan Departemen Keuangan memiliki sejumlah instrumen untuk memengaruhi pasar. Namun, pengaruh terhadap imbal hasil obligasi jangka panjang tetap terbatas karena harus mempertimbangkan pengelolaan kas, kebutuhan pembiayaan, serta komitmen pemerintah untuk mempertahankan jadwal penerbitan utang yang dapat diprediksi.

Sejumlah investor menilai instrumen tersebut tidak bisa diabaikan.

Padhraic Garvey, kepala strategi suku bunga dan utang global di ING, menyebut penggunaan pembelian kembali obligasi yang dilakukan di luar jadwal sebagai potensi "bazoka" yang dapat diperluas dan memperbesar dampak berbagai upaya Departemen Keuangan AS.

Baca Juga: Stok Batubara Kritis, 45 Pembangkit Listrik India Terancam Kekurangan Pasokan

Selain pembelian kembali obligasi, Departemen Keuangan juga dapat mengubah komposisi jatuh tempo utangnya. Pemerintah AS juga mendukung upaya memperkuat kapasitas bank dalam menjadi perantara di pasar Treasury.

"Departemen Keuangan dapat mengurangi ukuran lelang obligasi jangka panjang," kata Molly Brooks, ahli strategi suku bunga AS di TD Securities.

"Saya pikir itu kemungkinan merupakan langkah berikutnya," lanjutnya.

The Fed Memiliki Instrumen yang Lebih Kuat

Dibandingkan Departemen Keuangan, Federal Reserve memiliki instrumen yang lebih kuat untuk memengaruhi kondisi keuangan.

The Fed menentukan suku bunga jangka pendek dan dapat membeli maupun menjual surat berharga untuk memengaruhi kondisi keuangan secara lebih luas.

Namun, Warsh sebelumnya menyatakan dirinya tidak ingin menggunakan instrumen tersebut sesering yang dilakukan The Fed dalam beberapa tahun terakhir.

Warsh telah lama mengkritik pembelian aset dalam skala besar oleh The Fed. Menurutnya, intervensi semacam itu seharusnya hanya digunakan ketika terjadi gangguan serius pada fungsi pasar.

Sementara itu, kebijakan suku bunga seharusnya tetap menjadi instrumen utama untuk menjalankan mandat The Fed terkait lapangan kerja dan inflasi.

Profesor keuangan Stanford Hanno Lustig dalam makalah terbaru Aspen Institute menilai persoalan mengenai seberapa aman obligasi Treasury telah menjadi salah satu garis pemisah utama dalam perdebatan kebijakan.

Menurutnya, perkembangan harga surat utang pemerintah dan berbagai faktor lainnya menunjukkan bahwa pasar sudah memperlakukan Treasury sebagai aset yang memiliki risiko. Namun, The Fed dan pembuat kebijakan masih bertindak seolah-olah Treasury merupakan aset yang aman.

Perbedaan tersebut menjadi penting ketika imbal hasil obligasi melonjak akibat kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS.

Baca Juga: Harga Minyak Turun, Pasar Berharap Selat Hormuz Kembali Dibuka

Lustig berpendapat The Fed kerap melakukan intervensi untuk menenangkan pasar dengan alasan gangguan fungsi pasar menjadi penyebab masalah. Padahal, menurutnya, kekhawatiran mengenai keamanan investasi juga dapat menjadi faktor utama.

Kondisi tersebut berpotensi meredam sinyal harga yang seharusnya memberikan peringatan mengenai keberlanjutan utang pemerintah AS.

Defisit Fiskal Jadi Persoalan Utama

Pada akhirnya, banyak analis dan manajer portofolio sepakat bahwa penyesuaian pembelian kembali obligasi, penerbitan utang, maupun mekanisme pasar tidak akan mampu menyelesaikan persoalan yang telah berlangsung lama dan kini semakin akut, yakni defisit fiskal AS yang terus-menerus.

Garvey menilai skenario terbaik adalah pembuat kebijakan mengatasi persoalan utang melalui pengurangan beban utang yang didukung pertumbuhan ekonomi lebih kuat.

Namun, pilihan tersebut akan memerlukan keputusan sulit di Washington.

"Akan sangat sulit mengurangi defisit tanpa mengambil tindakan fiskal," ujar Garvey.

"Hal itu membutuhkan kenaikan pajak atau pengurangan belanja pemerintah," lanjutnya.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×