Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Indeks saham Korea Selatan mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Rabu (14/1/2026), didorong penguatan saham-saham produsen semikonduktor yang mengikuti reli saham chip di Amerika Serikat (AS).
Melansir Reuters, indeks acuan KOSPI naik 13,47 poin atau 0,29% ke level 4.705,99 pada pukul 01.25 GMT. Kenaikan ini memperpanjang reli KOSPI menjadi sembilan sesi berturut-turut.
Baca Juga: Imbal Hasil JGB Tenor 5 Tahun Cetak Rekor, Kekhawatiran Utang Bayangi Lelang
Saham produsen chip menguat setelah indeks Philadelphia Semiconductor di Wall Street naik 1% dan menyentuh rekor tertinggi. Samsung Electronics menguat 1,49%, sementara SK Hynix naik 0,27%.
Di sisi kebijakan moneter, Bank of Korea (BoK) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada rapat Kamis (15/1), seiring kekhawatiran terhadap pelemahan nilai tukar won, berdasarkan jajak pendapat Reuters.
Namun, sentimen pasar sedikit terbebani oleh data ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran Korea Selatan tercatat sebesar 4,0% pada Desember setelah disesuaikan secara musiman, melonjak tajam dari 2,7% pada November dan menjadi level tertinggi sejak Februari 2021.
Sementara saham chip menguat, sebagian besar saham berkapitalisasi besar lainnya justru melemah. LG Energy Solution turun 1,27%, Hyundai Motor terkoreksi 0,86%, dan POSCO Holdings melemah 1,99%.
Dari total 929 saham yang diperdagangkan, sebanyak 397 saham menguat, sedangkan 470 saham melemah. Investor asing tercatat sebagai penjual bersih saham senilai 427,9 miliar won atau sekitar US$289,76 juta.
Baca Juga: Bursa Jepang Rabu (14/1): Nikkei Cetak Rekor Tertinggi, Didukung Harapan Stimulus
Di pasar valuta asing, nilai tukar won diperdagangkan di level 1.475,7 per dolar AS, menguat 0,21% dibandingkan penutupan sebelumnya di 1.478,8.
Sementara itu, di pasar obligasi, kontrak berjangka obligasi pemerintah Korea tenor tiga tahun untuk bulan Maret turun 0,02 poin ke 105,28.
Imbal hasil obligasi pemerintah Korea tenor tiga tahun naik 0,7 basis poin menjadi 3,012%, sedangkan imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun meningkat 1,0 basis poin ke level 3,425%.













