Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.493
  • SUN94,17 -0,23%
  • EMAS659.000 0,61%

Cap Go Meh, tradisi penutup rangkaian panjang perayaan Imlek

Sabtu, 03 Maret 2018 / 11:37 WIB

Cap Go Meh, tradisi penutup rangkaian panjang perayaan Imlek
ILUSTRASI.

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - CHINA. Kemarin, 2 Maret 2018, merupakan hari kelimabelas tahun Imlek terbaru. Di beberapa kota, masyarakat Tionghoa setempat merayakan hari kelimabelas ini dengan meriah.

Masyarakat umum mengenalnya sebagai perayaan Cap Go Meh. Sebagian pemerintah daerah, seperti Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, malah mengadopsinya sebagai festival tahunan sekaligus agenda wisata rutin. Namun demikian, tak banyak masyarakat umum yang mengetahui bahwa perayaan Cap Go Meh sebenarnya hanya satu penggalan dari serangkaian perayaan di pengujung awal Tahun Baru China. Malah, hari kelimabelas merupakan penutupan rangkaan acara itu. 


Datangnya tahun baru Imlek telah menjadi fenomena tersendiri di Republik Rakyat China (RRC). Selama 40 hari penuh, mulai 1 Februari 2018 hingga 12 Maret 2018, masyarakat menikmati masa liburan keluarga sekaligus kesempatan masyarakat setempat merayakan tahun baru imlek alias chunyun.  

Tak pelak, sekitar dua minggu di antaranya menjadi waktu tersibuk dalam setahun di China. Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional RRC memperkirakan terdapat 2,98 miliar penumpang yang memadati seluruh moda transportasi. Penumpang angkutan darat non-kereta api sebanyak 2,48 miliar orang, penumpang kereta api 389 juta orang, serta penumpang pesawat dan kapal masing-masing sebanyak 65 juta dan 46 juta orang.

Ya, setidaknya 385 juta orang melakoni mudik Tahun Baru Imlek 2018. Angka penumpang jauh lebih besar daripada jumlah pemudik lantaran kebanyakan pemudik itu bergerak dari kota-kota besar menuju ke pedesaan tempat keluarga mereka tinggal, lalu hilir mudik antarkota, selama musim liburan ini.

Di China, perayaan Imlek tahun ini jatuh pada malam tanggal 15 Februari 2018. Tahun Baru Imlek yang dikenal juga sebagai Festival Musim Semi menandai awal baru kalender lunar, kalender yang menggunakan fase bulan sebagai acuan utama serta menambahkan pergantian musim dalam perhitungan tiap tahunnya. Biasanya kalender ini dimulai dengan bulan kabisat.

Sesuai undang-undang yang berlaku di Tiongkok, setiap Imlek tiba warga negara akan mendapatkan libur nasional. Bagi warga negara, libur ini hukumnya wajib. Pemerintah menilai libur imlek adalah saat spesial seluruh warganya bisa mengabadikan nilai-nilai persatuan dan ikatan keluarga.

Mengingat penduduknya yang banyak, Chunyun menjadi acara mudik terbesar di planet ini. Bandingkan, misalnya dengan Thanksgiving di Amerika Serikat tahun lalu yang dilakoni oleh 50,9 juta orang. Bandingkan pula dengan Ziarah Arba’in di Irak yang diikuti oleh 40 juta orang. Atau mudik Lebaran di Indonesia yang diikuti oleh 30 juta orang.

Perayaan imlek ini tentu tidak cuma menunjukkan mobilitas pergerakan orang, melainkan pula dampaknya terhadap perekonomian Negeri Panda itu. Mulai sektor transportasi, agen perjalanan, pengusaha ritel mewah, penyedia emas, penyedia baijiu (minuman keras beralkohol khas China), hingga Bank Sentral China harus siaga penuh untuk menghadapi "serangan" konsumen dan penarikan uang tunai menjelang dan sepanjang berlangsungnya Festival Musim Semi ini.

Tradisi berawal dari ancaman Nian

Menurut legenda, perayaan Imlek dimulai dari dongeng tentang seekor binatang bernama Nian. Binatang mitos ini konon akan memakan penduduk, terutama anak-anak. Karena ketakutan, selama satu tahun sejak tersiarnya kabar munculnya Nian, semua penduduk memutuskan untuk pergi dan bersembunyi ke desa-desa.

Di tengah ketakutan itu, muncul seorang pria tua. Dia berujar hendak membalas dendam pada Nian. Mendengar penuturan orang tua tersebut, seluruh penduduk desa tentu mengira dia gila. Orang tua tersebut tidak menggubris omongan penduduk, ia pun lantas meletakkan kertas-kertas merah dan menyalakan petasan semalaman. 

Keesokan hari, penduduk desa yang bersembunyi kembali ke kota mereka. Mereka mendapati tak ada satu pun bagian kota yang hancur. Mereka lantas beranggapan bahwa orang tua tadi adalah jelmaan dewa yang datang untuk menyelamatkan mereka. 

Satu hal lebih penting lagi yang mereka simpulkan: Nian takut terhadap warna merah dan suara keras. 

Itu sebabnya, saat tahun baru tiba, penduduk desa akan mengenakan pakaian merah, menggantung lampion merah, gulungan gambar mata merah di jendela dan pintu, serta menggunakan petasan untuk menakut-nakuti Nian. Hingga kini mitos berikut adat istiadatnya itu, secara tradisional masih terpelihara. Masyarakat Tionghoa meyakininya sebagai wujud penghormatan kepada para dewa dan leluhur.
 
Di China, tradisi dan adat-istiadat perayaan Tahun Baru Imlek sangat beragam. Tetapi pada dasarnya semua perbedaan tersebut memiliki inti yang sama: kumpul bersama keluarga sambil makan malam dan reunian pada malam menjelang hari tahun baru. 

Sebelum acara makan malam, agar terhindar dari nasib buruk dan sekaligus mengundang keberuntungan, rumah dibersihkan secara menyeluruh. Jendela dan pintu kerap dicat merah, lalu dihiasi dekorasi potongan kertas berwarna merah dengan tulisan bertemakan keberuntungan, kebahagiaan, kekayaan atau umur panjang. 

Hidangan malam Tahun Baru Imlek terdiri dari daging khusus yang disajikan di meja makan. Di Tiongkok Utara, setelah makan malam terutama menjelang tengah malam, turut disajikan kue atau jiaozi. Ini adalah lambang kekayaan. Sedangkan di Tiongkok Selatan, kue yang disajikan terbuat dari ketan atau biasa disebut niangao. Kue yang lazim disebut sebagai kue tahun baru ini lalu dikirimkan sebagai hadiah kepada saudara atau teman pada hari-hari berikutnya.

Setelah makan malam, beberapa jam sebelum tiba waktu tengah malam yang menandakan tahun baru, beberapa anggota keluarga pergi ke kuil terdekat untuk berdoa sambil menyalakan dupa, agar di tahun baru ini diberikan kemakmuran. 

Dalam praktek perayaan menyambut Tahun Baru Imlek dewasa ini, banyak keluarga yang mengadakan pesta sambil menghitung mundur setiap detik menuju tahun baru. Petasan dinyalakan untuk menerangi jalan sambil menakut-nakuti roh jahat. Pintu rumah pun tertutup rapat sampai pagi. Dibuka kembali pada pagi hari saat ritual “membuka pintu keberuntungan” dimulai.

Jauh hari sebelum datang malam tahun baru, tradisi masyarakat Tiongkok membeli pakaian dan sepatu baru yang melambangkan sebagai awal baru. Mereka juga memotong rambut harus dilaksanakan sebelum tahun baru, karena diyakini akan membawa sial apabila potong rambut dilaksanakan pada tahun baru.

Aktivitas lain yang biasa dilakukan penduduk Tiongkok dalam merayakan Tahun Baru Imlek ini adalah menyalakan petasan. Petasan digantungkan pada bentangan senar yang panjang. Setiap petasan yang berisi bubuk mesiu digulung pada kertas berwarna merah. 

Karena petasan dinyalakan beramai-ramai dan pada saat yang bersamaan, maka akan menimbulkan suara ledakan dahsyat memekakan telinga. Mereka menganggap bahwa dengan cara ini roh jahat tidak akan mendekati mereka. Pada masa kini, khusus di daerah perkotaan, sejak tahun 2008 masyarakat tidak diperbolehkan membakar petasan. Sebagai ganti masyarakat tidak dilarang untuk menyalakan kembang api. 

Selain petasan, aktivitas lain yang menyenangkan adalah memberi atau bagi-bagi angpao alias uang yang dimasukan ke dalam amplop berwarna merah. Biasanya angpao ini diberikan oleh pasangan suami istri, orang dewasa, atau anggota keluarga yang sudah mapan kepada anak-anak dan saudara yang belum menikah.

Angpao tersebut tidak boleh langsung dibuka. Angpao perlu disimpan di bawah bantal dan dibawa tidur selama tujuh malam setelah tahun baru, Baru setelah lewat tujuh malam, angpao boleh dibuka.

Secara harfiah, bagi si pemberi, angpao ini diberikan untuk tolak bala. Sedangkan bagi penerimanya, angpao ini melambangkan keberuntungan.

Sejak tahun 1982, di China muncul tradisi baru menjelang tahun baru untuk berjaga tidak tidur sepanjang malam sampai pagi. Kegiatan yang disebut juga shousui ini dipercaya bisa menambah umur seseorang yang melaksanakannya.

Limabelas hari penuh tradisi

Di China, Imlek dirayakan selama 15 hari penuh. Dimulai dari hari pertama atau saat memasuki tahun baru dan berakhir pada hari kelima belas atau lebih dikenal dengan nama perayaan Cap Go Meh. Istilah yang diambil dari dialek Hokkien yang secara harafiah berarti malam kelima belas (cap=sepuluh, go=lima dan meh=malam).

Lalu, apa saja kegiatan masyarakat yang diselenggarakan selama 15 hari tersebut? Yuk kita tengok:

Hari pertama
Tahun baru bermula pada tengah malam. Pada malam tahun baru ini, setiap orang menyalakan kembang api, membakar batang bambu, dupa, dan petasan sebanyak mungkin untuk mengusir roh-roh jahat. 

Keesokan hari, orang-orang akan mengunjungi orang tua atau saudara yang usia maupun kedudukannya dalam keluarga lebih tua. Biasanya, setelah orang tua mereka akan beranjak mengunjungi rumah kakek, buyut, dan seterusnya. Setlah itu kunjungan akan berlanjut ke rumah keluarga lain dan para kerabat. Ritual ini maksudnya tiada lain untuk menghormati sesepuh dan keluarga.

Sebagian keluarga mengundang kelompok barongsai atau tarian singa sebagai ritual simbolis mengantar Tahun Baru Imlek serta mengusir roh jahat dari tempat tersebut. 

Pada hari pertama ini, anggota keluarga yang sudah menikah memberikan amplop merah berisi uang tunai atau disebut juga angpao atau hongbao. Ini semacam doa agar tubuh tidak menunjukkan penuaan secara fisik serta kuat menghadapi tantangan di tahun-tahun yang akan datang. Demikian pula para manajer bisnis dan pengusaha memberikan bonus melalui paket merah kepada karyawan untuk keberuntungan, kelancaran, kesehatan, dan rejeki.

Hari kedua
Hari kedua Tahun Baru Imlek dikenal dengan istilah kainian. Pada hari ini masyarakat pergi ke makam nenek moyang untuk mengadakan ritual tertentu. Anak perempuan yang sudah menikah, pada hari kedua ini, berkesempatan pergi ke rumah orang tuanya, berkunjung ke rumah saudara, dan teman dekatnya. Ini momen istimewa bagi mereka karena secara tradisional anak perempuan yang sudah menikah tidak memiliki kesempatan untuk sering-sering mengunjungi sanak keluarga mereka.

Pada hari kedua ini pula banyak pengemis dan pengangguran, membawa sebuah gambar dewa, mengunjungi rumah-rumah penduduk lain sambil berteriak “Cai shen dao! Dewa Kekayaan telah datang!”. Para pemilik rumah lalu menanggapinya dengan memberikan uang keberuntungan kepada para utusan tersebut.

Para pengusaha dari kelompok yang menggunakan dialek Kanton akan mengadakan doa agar usahanya di tahun yang akan datang diberikan keberuntungan dan kemakmuran sepanjang tahun. Doa ini disebut juga do’a Ho Nin.

Hari ketiga
Pada hari ketiga, semua orang akan tetap tinggal di rumah dan tidak pergi ke luar rumah. Hari yang juga disebut sebagai Chigou ini artinya hari anjing merah, julukan yang ditujukan kepada Dewa Murka yang Berbahaya. Sementara di Hong Kong, hari ketiga ini disebut “Hari Iblis Miskin”. Makanya pada hari ketiga ini dianggap hari sial untuk bepergian dan menerima tamu.

Hari keempat
Kegiatan bisnis kembali normal dan perusahaan atau perkantoran memulai kembali di hari keempat ini dengan makan-makan bersama. Di beberapa daerah yang meliburkan Tahun Baru Imlek lebih lama, juga dirayakan dengan menyambut para dewa yang turun ke bumi pada hari ini.

Hari kelima
Orang-orang akan membakar petasan untuk mendapat perhatian Guan Yu, sehingga kemudian bisa memastikan segala kebaikan dan keberuntungan sepanjang tahun, Hari kelima juga dikenal dengan nama powu dimana pada hari ini saatnya merayakan ulang tahun Tuhan Kekayaan. Biasanya perayaan ulang tahun ini sambil makan jiaozi atau pangsit.

Hari ketujuh
Dikenal dengan istilah Renri yang berarti hari biasa. Pada hari ini setiap orang bertambah umur satu tahun. Hari renri juga diyakini sebagai hari ulang tahun Dewa Api, maka masyarakat Tiongkok akan menyalakan kembang api untuk merayakan ulang tahun dewanya.

Pada zaman Tiongkok kuno, pada hari ketujuh ini orang mengenakan hiasan di kepala yang dikenal juga dengan nama rensheng. Hiasan kepala ini terbuat dari pita atau emas. Kemudian pada hari ketujuh mereka akan pergi ke gunung untuk menulis puisi.

Makanan yang disajikan pada hari ketujuh adalah “tujuh sayuran sup” dan “tujuh sayuran congee”. Sementara untuk orang Tionghoa yang tinggal di Malaysia dan Singapura, “tujuh sayuran sop” diganti dengan :ikan mentah tujuh warna”.

Menurut keyakinannya, apabila pada hari ketujuh ini cuacanya baik, orang-orang akan memiliki tahun kedamaian dan kemakmuran.

Hari kedelapan
Malam hari ke delapan ini adalah malam kelahiran Kaisar Langit sang penguasa surga. Oleh karenanya orang-orang Tionghoa merayakannya dengan makan malam bersama keluarga lainnya. 

Mendekati jam dua belas malam, ritual Kaisar Langit pun dipersiapkan. Dupa dibakar, dilanjutkan dengan persembahan makanan kepada Kaisar Langit dan juga kepada Dewa Dapur atau Zao Jun. Dewa Dapur bertugas memberikan laporan kondisi setiap keluarga kepada Kaisar Langit. 

Pada hari kedelapan ini juga dimulai lagi kegiatan usaha. Toko-toko sudah mulai buka kembali. Pemilik toko akan makan-makan bersama para karyawannya, sekalian mengucapkan terima kasih atas pekerjaan yang telah mereka lakukan sepanjang tahun penuh.

Hari kesembilan
Hari kesembilan biasa disebut Ti Kong Dan atau Ti Kong Si, hari kelahiran Kaisar Langit dan ini tentu sangat penting bagi bagi para Hokkien. Saking pentingnya hari ini, maka nilainya lebih penting dibandingkan hari pertama pada Hari Raya Imlek-nya sendiri.

Menurut legendanya, selama hari kedelapan dan kesembilan yang bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Langit, masyarakat terhindar dari pembantaian oleh bajak laut dengan bersembunyi di perkebunan tebu. 

Sebagai rasa syukur atas kejadian tersebut, maka para penduduk Tiongkok akan menawarkan tebu yang merupakan simbol atas rasa syukur tersebut.

Hari kesepuluh
Saatnya perayaan pesta Kaisar Langit yang dirayakan tepat pada hari ini.

Hari kelima belas
Hari kelima belas Tahun Baru Imlek biasa dirayakan sebagai festival Yuanxiao atau festival lentera. Festival Lentera ini konon dimulai saat Kekaisaran Ming pada Dinasti Han mendukung dan mempromosikan Buddhisme di Tiongkok. 

Saat itu, secara tidak sengaja, kaisar mengetahui bahwa para biksu Budha akan menyalakan lentera untuk menghormati Buddha di tangal 15 pada bulan pertama kalender lunar. Sejak saat itu kaisar pun memerintahkan semua warga negaranya untuk menyalakan lentera dengan cara yang sama seperti para biksu tersebut.

Makanan yang disediakan saat hari kelima belas ini terdiri dari pangsit tang yuan disajikan dengan bola-bola beras ketan manis yang diseduh dengan sup. 

Hari kelimabelas ini juga dirayakan oleh para pasangan sebagai malam romantis (mirip hari valentine). Para cewek akan membuang jeruk mandarin ke sungai atau danau. Sedangkan para cowok mengumpulkan jeruk yang didapatnya dan memakannya. Jeruk manis berarti nasib baik menanti mereka. Sebaliknya, jeruk asam mewakili nasib buruk.

 

Sumber-sumber: xinhua.com, wikipedia.com, cnn.com, statista.com

Reporter: Deni Riaddy
Editor: Hasbi Maulana

Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0009 || diagnostic_api_kanan = 0.0714 || diagnostic_web = 0.3843

Close [X]
×